Wednesday, November 9, 2016

Kikuknya Duet Evan Dimas dan Stefano Lilipaly


Seputar Timnas - Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, melakukan eksperimen taktik saat Tim Merah-Putih menjalani duel uji coba kontra Vietnam yang berkesudahan 2-3 di Stadion My Dinh, Hanoi, Selasa (8/11/2016). Ia menduetkan Evan Dimas dengan Stefano Lilipaly di jantung lini tengah. Sayangnya, kolaborasi keduanya terlihat kurang memuaskan.

Keputusan Alfred, memasang Evan dan Lilipaly berbarengan cukup berani, mengingat keduanya punya gaya permainan hampir mirip, sama-sama bernaluri menyerang. Saat meladeni Vietnam, bermain dengan dengan dua gelandang serang kembar.

Untuk mengakomodir taktik tersebut. Evan Dimas sendiri sedikit dikorbankan. Pemain belia jebolan Timnas Indonesia U-19 besutan Indra Sjafri bermain sedikit ke belakang, sebagai gelandang bertahan. Ada kesan Alfred ingin Evan berfungsi sebagai deep lying playmaker seperti halnya Adrea Pirlo di Timnas Italia serta Juventus.

Evan terlihat keteteran menjalankan perannya tersebut. Bisa dipahami kemampuan sang pemain dalam bertahan kurang bagus. Imbas nyatanya benteng pertahanan Timnas Indonesia terlihat seringkali gampang ditembus, terutama pada paruh kedua pertandingan. 

Upaya Evan untuk meredam permainan cepat Tim Negeri Paman Ho terlihat tidak berjalan maksimal. Dalam beberapa situasi sang pemain yang secara harafiah bernaluri menyerang, seringkali bertabrakan posisi dengan Stefano Lilipaly.

Apesnya, Stefano Lilipaly tidak dalam performa terbaik. Sang pemain naturalisasi terlihat masih kikuk beradaptasi dengan style bermain Tim Merah-Putih. Bisa dipahami, karena sang pemain baru bergabung dengan Boaz Solossa dkk. sehari menjelang pertandingan. Ia sama sekali belum pernah berlatih bareng dengan pemain lain sepanjang masa pelatnas.'



Harapan agar Lilipaly bisa jadi pelayan duet striker Boaz Solossa dan Irfan Bachdim tidak berjalan. Sang pemain terhitung minim melakukan operan sepanjang laga.

Total menurut catatan statistik Labbola menunjukkan kalau Stefano hanya melakukan 28 operan pendek. Hanya 20 di antaramuya tepat sasaran. Ia bahkan tercatat dua kali kehilangan penguasaan bola. Sepanjang pertandingan pemain kelahiran 10 Januari 1990 jarang memberi ancaman pada lini pertahanan Vietnam. Tembakannya hanya sekali yang tepat sasaran.

Wajar jika Stefano masih belum nyetel, mengingat dua musim terakhir ia juga bermain di posisi berbeda di level klub. Di klubnya Telstar, pemain asal kota Arnhem, Belanda itu, tampil sebagai bek sayap.

Asisten pelatih Tim Garuda, Wolgang Pikal, sebelum pertandingan menyebut kalau tim pelatih tidak memberi tekanan apa-apa kepada Stefano. 

"Di laga uji coba ini kami hanya ingin melihat secara umum permainannya. Kami sadar diri Stefano Lilipaly butuh waktu menyesuaikan diri dengan rekan-rekannya," kata Wolfgang Pikal.

Melihat situasi terkini, berat bagi Alfred Riedl memaksakan Evan Dimas-Stefano Lilipaly tampil berbarengan. Pelatih asal Austria tersebut suka atau tidak suka terpaksa harus mengorbankan salah satu pemain, jika ingin keseimbangan permainan Timnas Indonesia saat mengarungi laga-laga keras penyisihan Grup A tidak terganggu.

Timnas Indonesia memiliki sederet gelandang bertahan yang bisa dimaksimalkan sebagai rekan duet Evan atau Lilipaly. Dengan menghadirkan Rizky Pellu, Bayu Pradana, Manahati Lestusen, serta Dedi Kusnandar, sudah barang tentu lini pertahanan Tim Merah-Putih tidak gampang ditembus.

Akan tetapi situasi bisa berubah. Timnas Indonesia masih punya waktu sepekan untuk berbenah sebelum menjalani duel berat menghadapi juara bertahan Piala AFF, Thailand pada 19 November 2016. Stefano Lilipaly dan Evan Dimas bisa saja dimainkan bareng jika pada perkembangan mereka akhirnya bisa memahami satu sama lain.[Sumber : Bola.Com]