Tuesday, March 29, 2016

Buru La Nyalla yang "Lari" ke Luar Negeri, Kejaksaan Koordinasi dengan Interpol

Buru La Nyalla yang "Lari" ke Luar Negeri, Kejaksaan Koordinasi dengan Interpol

Seputar TimnasKajati Jatim Maruli Hutagalung meminta Ketua Kadin Jatim, La Nyalla Mattalitti kooperatif dan menghormati proses hukum pada kasus yang menjeratnya sebagai tersangka dugaan korupsi dana hibah untuk pembelian IPO Bank Jatim.

La Nyalla, Senin (28/3/2016) sedianya diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Pidsus Kejati Jatim. Namun pada panggilan ketiga ini, hingga pukul 14.45 WIB belum ada tanda-tanda kehadiran La Nyalla. Padahal penyidik Pidsus Kejati Jatim sudah melayangkan surat panggilan, Kamis (24/3/2016).

"Kalau tidak salah, kenapa takut memenuhi panggilan. Ini kan asas praduga tak bersalah, mestinya La Nyalla menghormati hukum yang sedang berjalan," tandas Maruli.

Menurut Maruli, sikap tak patut yang dilakukan La Nyalla justru berdampak pada sikap tegas yang dikeluarkan institusinya. 

"Saksi saja bisa kami lakukan panggil paksa. Apalagi statusnya sudah tersangka," ungkapnya.

Pihak kejati, kata Maruli telah memburu dan mencari keberadaan La Nyalla. 

"Mulai hari ini, kami resmi mencari keberadaan La Nyalla. Tanggal 17 Maret 2016 terdeteksi menuju Malaysia naik pesawat Garuda," paparnya.

Perburuan terhadap La Nyalla, diakui kajati diback up oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Bahkan pihaknya juga koordinasi dengan Interpol jika tersangka berada di luar negeri. 

"Tim dari Kejati dan Kejagung sudah menyebar di seluruh Indonesia," tandasnya.

Upaya praperadilan yang dilayangkan La Nyalla, tak membuat langkah Kejati Jatim menghentikan penyidikan kasus ini. "Selama belum ada putusan tetap, kami tetap lanjut," pungkasnya.

Pengacara La Nyalla Mattaliti, Ahmad Riyadh UB SH, membantah kliennya disebut mangkir dan tak menghormati hukum.

Menurutnya, upaya patuh pada hukum telah dilakukan La Nyalla melalui dirinya. "Setiap ada panggilan, kami selalu bersurat dan meminta penundaan pemeriksaan. Jadi dimana sikap klien kami yang tak patuh hukum," ujar Riyadh, Senin (28/3).

Riyadh pun tak bisa menghalangi langkah Kejati Jatim untuk menjemput paksa kliennya. "Itu kewenangan mereka tapi kami sudah berusaha meminta penundaan pemeriksaan," jelasnya.

Terkait akan ditetapkannya La Nyalla sebagai daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan, Riyadh mengaku belum mengetahuinya. Bahkan kabar keberadaan kliennya di luar negeri tak begitu saja ditelannya.

"Kami tinggal di negara hukum, jadi kalau ngomong ya harus berdasarkan bukti. Kalau Pak Nyalla ada di luar negeri, kan gampang ngeceknya. Bisa tanya ke Imigrasi aja langsung atau pihak yang berkompeten," terangnya.

Dijelaskan Riyadh, upaya praperadilan yang dilakukan La Nyalla hanya semata-mata untuk menguji sah atau tidaknya penetapan kliennya sebagai tersangka.[Tribunnews]