Friday, October 23, 2015

Bertemu 11 Klub, Nama PSSI Berulangkali Tak Disebut Jokowi


Seputar Timnas - Seolah sudah dikubur dalam tanah, nama federasi sepak bola Indonesia, PSSI tak pernah disebut oleh Presiden RI Joko Widodo, saat menggelar pertemuan dengan 11 klub di Istana Negara, Senin (19/10/2015) sore.

Pada pertemuan itu, ada empat perwakilan klub yang 'dimintai keterangan' oleh Jokowi, terkait kinerja PSSI yang saat ini masih dibekukan pemerintah. Jokowi memberi pertanyaan kepada pemain Persib Bandung, Zulham Zamrun, pelatih Arema Cronus Joko Susilo, pemain Mitra Kukar Rahmat Affandi, dan Manajer Persib, Umuh Muchtar.

Selama berbincang, Jokowi tidak pernah menyebut nama PSSI. Ia menggantinya dengan kata organisasi. Rahmat Affandi jadi pemain pertama yang dipanggil Jokowi. Jokowi lalu mempersilakan Rahmat memperkenalkan diri dan mengutarakan aspirasi pemain.

“Secara pribadi saya ingin kompetisi Indonesia kembali bergulir, Pak,” kata Rahmat.

Jokowi pun menjawab. “Iya, nanti sudah mulai lagi turnamen pertengahan November,” katanya. Jokowi balik bertanya kepada Rahmat. “Kamu ingin organisasi sepak bola seperti apa?”. Rahmat lalu menjawab “Lebih baik, Pak.”

Jawaban Rahmat dianggap kurang memuaskan. Jokowi kembali bertanya esensi organisasi sepak bola yang lebih baik itu seperti apa. Berikutnya giliran pelatih Arema, Joko ‘Getuk’ Susilo. Sama seperti Rahmat, Joko juga diminta menjawab harapan terhadap ‘organisasi’. Getuk terdiam sesaat. Ia lalu mengatakan bukan kapasitasnya mengomentari organisasi karena ia berkerja pada bidang teknik.

Terakhir, giliran pemain terbaik Piala Presiden, Zulham Zamrun berbicara. Lagi-lagi, Jokowi tak menyebut PSSI dan mengganti dengan kata organisasi, bila arah pembicaraan mengarah ke kinerja PSSI selama ini. Pertanyaan Zulham ke Jokowi lebih tegas, yakni berharap Jokowi menyelesaikan kisruh dengan cara yang tepat.

"Bagaimana kelanjutan kompetisi, Pak? Lalu timnas nasibnya bagaimana? Kami sebagai pemain membutuhkan kompetisi. Kalau mau memperbaiki organisasi jangan mematikan organisasinya, tapi diganti pengurusnya," kata Zulham.

Pada pertemuan itu, Menpora Imam Nahrawi hadir sebagai pejabat yang bertanggung jawab pada bidang sepak bola. Imam membekukan PSSI, lewat surat Menpora Nomor 01307 tertanggal 17 April 2015, atau satu hari sebelum PSSI menggelar KLB di Surabaya, dengan memunculkan La Nyalla Mattalitti sebagai Ketua Umum. Setelah PSSI dibekukan, Indonesia disanksi FIFA per 31 Mei karena dianggap ada intervensi pemerintah.

Akibat sanksi FIFA, timnas semua level dicoret dari kejuaraan. Zulham termasuk salah satu pemain yang merasa kecewa karena ia menjadi bagian dari timnas senior. Selain itu, kisruh PSSI vs Pemerintah juga dianggap sebagai penyebab Persipura Jayapura tersingkir dari Piala AFC 2015.

Saat membuka acara, Jokowi menegaskan pemerintah Indonesia akan terus mengawal sepak bola Tanah Air supaya berjalan dengan tata kelola yang lebih baik. Namun, dalam pertemuan itu tak ada solusi yang jelas, terkait nasib sepak bola Indonesia setelah PSSI dibekukan dan Indonesia disanksi FIFA.

Para manajer klub yang hadir pun mulai ‘berbisik’ membicarakan kemungkinan langkah pemerintah menggelar KLB, seperti yang santer dikabarkan belakangan ini. Manajer Sriwijaya FC, Robert Heri berpendapat, sebaiknya pemerintah lebih sering menggelar dialog dengan klub yang menjadi pelaku sepak bola sebenarnya.

“Kalau terus berkonflik, klub yang akan rugi. Sebaiknya akhiri konflik dengan jalan yang benar dan tidak mengorbankan pemain,” kata Robert kepada bola.com.

Pada pertemuan di Istana, sebanyak 11 klub ISL dan Divisi Utama hadir, yakni Persib Bandung, Arema Cronus, Mitra Kukar, Sriwijaya FC, Persija Jakarta, Persita Tangerang, Persela Lamongan, Bali United, Bonek FC, PSGC Ciamis, dan Martapura FC.

"Kami berterima kasih Pak Presiden menerima klub di Istana. Tetapi kami berharap tindakan yang lebih cepat dan tepat untuk menyelesaikan kisruh sepak bola Indonesia. Jangan sampai berlarut-larut," tegas pelatih Martapura FC, Frans Sinatra.

Selain mengundang klub, Jokowi juga menerima Komite Wasit, Mahaka Sports and Entertainment, APPI, dan PricewaterhouseCoopers (PwC) sebagai auditor Piala Presiden. Pada pertemuan itu, Jokowi juga menegaskan ada dua turnamen lagi yang akan digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi, yakni Piala Panglima TNI dan Indonesia Super Cup.[bola.com]