Wednesday, July 8, 2015

Djohar Arifin Jawab Tudingan La Nyalla

Djohar Arifin Jawab Tudingan La Nyalla

Seputar Timnas - Ketua Umum PSSI 2011-2015 Djohar Arifin membantah apa yang ditudingkan oleh La Nyalla Mattaliti soal gajinya dan kerugian yang dialami PSSI. Dia pun menjelaskan semua duduk persoalan yang telah disampaikan mantan wakilnya itu.

Dalam acara sebuah diskusi 'Suporter Bertanya? PSSI Menjawab' yang dilakukan oleh sekelompok suporter FDSSI dan YNM (You Need Me), pada Minggu (5/7) kemarin, La Nyalla mengatakan bahwa Djohar menerima gaji sebesar Rp 50 juta per bulan. Tak hanya itu, pria berusia 64 tahun itu juga dituding telah menerima dana APBN dari pemerintah.

PSSI juga disebutnya saat ini tengah dalam kondisi keropos, karena mengalami kerugian yang sangat besar. La Nyalla mengklaim keuangan PSSI minus Rp 17 miliar, ditambah utang kegiatan dengan MNC Group sebesar Rp 21 miliar.‎ 

Menanggapi tudingan tersebut, Djohar menjelaskan satu per satu, bahwa uang sebesar Rp 50 juta yang diterima setiap bulan adalah sebuah insentif yang sudah ditetapkan sejak awal kepemimpinannya.

"Ngurus PSSI tak bisa sambilan, harus full time. Anda bisa lihat saya terus ada di PSSI untuk menangani semuanya, semua kegiatan saya tinggalkan. Presiden FIFA Sepp Blatter juga digaji, kita berusaha profesional. Bantuan itu ada sejak awal priode saya ditetapkan pengurus. Namanya insentif ditetapkan tahun 2011, termasuk penetapan itu insentif untuk Sekjen, Waketum, Bendahara dll," beber Djohar melalui pesannya, Senin (6/7).

Dia juga membantah bahwa PSSI dinilai mengalami kerugian. Sebab, menurutnya pada saat kongres tahunan (sebelumnya ditulis KLB 18 April 2015 -- Ralat) di depan anggotanya PSSI memberitahukan laporan keuangannya yakni dalam kondisi surplus sebesar Rp 4,6 miliar.

"Pada kongres dilaporkan, PSSI surplus Rp 4,6 miliar. Ini bisa dilihat dari laporan keuangan yang disampaikan ke peserta kongres."

Djohar menambahkan soal hak siar yang didapatkan PSSI yang salah satunya dari timnas U-19, dia mengaku tidak tahu sama sekali lantaran semua kontrak dengan stasiun televisi itu tidak ditangani olehnya, melainkan oleh La Nyalla sendiri.

"Semua kontrak ditangani Nyalla, saya kadang tidak diberi tahu. Sudahlah, soal keuangan lebih baik tanya kebagian keuangan. Sayang pahala puasa saya," kata dia.

"Semoga pahala-pahala dia di-forward Allah ke saya dan semoga semua dosa saya di forward Allah ke dia, Amin," pungkas Djohar. 

Djohar beberapa waktu memenuhi undangan dari Menpora Imam Nahrawi untuk duduk bersama membahas kondisi sepakbola Indonesia saat ini. Namun sikap Djohar tersebut malah dinilai melanggar kode etis karena telah berani menemui Menpora tanpa komunikasi lebih dulu dengan PSSI dibawah La Nyalla. 

Atas tindakannya itu, Djohar dipanggil oleh Komite Etik PSSI untuk dipersidangkan. Akan tetapi, pada sidang pertama dia memilih tak hadir. Djohar pun diancam akan dikucilkan dari dunia sepakbola tanah air.

Djohar sendiri tak luput dari kontroversi sewaktu memimpin PSSI. Ia terpilih pada Kongres Luar Biasa di Solo pada 9 Juli 2011. Kala itu ia disebut-sebut mendapat dukungan dari kelompok pengusaha Arifin Panigoro.

Setahun memimpin PSSI, Djohar terus "digoyang" oleh rival-rivalnya, sampai-sampai pada Maret 2012 terbentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) yang dipimpin oleh La Nyalla.

"Dualisme" organisasi itu memunculkan konflik berkepanjangan, termasuk dua kompetisi: Indonesia Premier League (IPL) yang diakui PSSI, dan Indonesia Super League (ISL) yang berafiliasi ke KPSI. Konflik itu berakhir dengan "kekalahan di kubu IPL". 

Pada Maret 2013, dalam KLB di Hotel Borobudur, Jakarta, enam anggota Komite Eksekutif dijatuhi skorsing, termasuk wakil ketua umum PSSI, Farid Rahman. Posisi Farid kemudian diisi oleh La Nyalla -- sedangkan Djohar dipertahankan, yang membuatnya dituduh "membelot" oleh para mantan pendukungnya.[detik]