Tuesday, June 9, 2015

PSSI Dituding Gelar Tur 'Sirkus' Timnas U-19 Tanpa Bagi Hasil

PSSI Dituding Gelar Tur 'Sirkus' Timnas U-19 Tanpa Bagi Hasil

Seputar Timnas -  Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Badan Tim Nasional (BTN) dituding menghelat 'sirkus' tur nusantara untuk Tim Nasional U-19 tanpa membagi hasil keuntungan kepada para pemain. Koordinator Komunitas Suporter Antikorupsi (KORUPSSI) Parto Pangaribuan menyatakan tur menjadi alat peras PSSI kepada pemain.

"Tur ini dilakukan dengan alasan intensitas pertandingan harus dilakukan sesering mungkin dengan alasan agar mereka terlatih. Kenyataannya, ini cuma main sirkus supaya dapat uang," ujar Parto di Gedung KPK, Jakarta, Senin (8/6).

Parto menjelaskan, BTN yang kala itu dipimpin La Nyalla pun memanfaatkan momen pemain Timnas U-19 yang sedang naik daun. "Timnas ini lawan klub-klub yang basis massanya besar supaya keuntungan besar," tudingnya.

Dalam satu tahun, Evan Dimas dan pemain lainnya diharuskan mengikuti 'Tur Nusantara' dengan menghelat sebanyak 36 pertandingan dalam jangka waktu satu tahun. "Ke Semarang, Surabaya, Malang, Sleman, Kalimantan, Padang, dan lainnya. Kebanyakan di Jawa," tutur Parto.

"Ini event kreatif PSSI untuk nyari duit. Persoalan uangnya dikemanakan, kami juga bingung. Diarahkan ke mana dan buat apa? Keringat anak-anak itu, harusnya uang juga dikasih ke mereka," ujar Parto.

Dari perhitungan kasar yang ia lakukan, kala itu PSSI setidaknya mengantongi puluhan miliar dan meraup keuntungan setidaknya Rp 1 miliar untuk tiap pertandingan. "Bayangkan satu stadion penuh sampai 20 ribu orang misalnya dan satu tiket harganya beragam, ada Rp 20 ribu, Rp 50 ribu. Satu pertandingan bisa sampai miliaran rupiah," kata Parto.

Sementara itu, terkait dugaan korupsi lain yang menjerat pejabat PSSI, Parto telah melaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Parto melaporkan nama oknum tersebut beserta sejumlah barang buktinya ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Nanti juga ada dokumen-dokumen prokontrak dari PSSI bersama rekanannya seperti hak siar televisi, sponsorship, bukti-bukti di lapangan seperti penjualan tiket, dan juga bukti-bukti mitra-mitra yang berkerjasama dengan PSSI dalam event sepakbola," katanya. 

Menurut Parto, selama ini PSSI tak pernah mengungkapkan ke publik terkait laporan pertanggungjawaban pengelolaan dana ketika menggelar sederet proyek kegiatan. "Artinya ini menjadi indikasi ke mana dana atau bagaimana pengelolaan dana tersebut, sama sekali tidak ada laporan," kata dia.

Salah satu dugaan korupsi yang dilaporkan yakni terkait bantuan sosial berdasarkan hasil audit BPK tahun 2013. Selain itu, terdapat dugaan penyelewengan lain, yakni terkait bantuan Kemenpora untuk PSSI berdasarkan hasil audit BPK tahun 2010.

Biro Hukum Kemenpora menyebut dalam sidang sengketa informasi di Komisi Informasi Pusat bahwa bantuan Kemenpora untuk Kongres Luar Biasa PSSI tahun 2013 sekitar Rp 3,5 miliar belum dipertanggungjawabkan oleh PSSI.

"Potensi kerugian negara seluruhnya mencapai Rp 24,5 miliar," kata Parto. Pihaknya menganggap duit negara tersebut lenyap begitu saja bila tak dilaporkan ke publik.[cnnindonesia]