Wednesday, April 1, 2015

Antiklimaks Timnas U-23 dan Lenyapnya Tiket ke Pentas Asia


Seputar Timnas - Pupus sudah mimpi Indonesia untuk tampil di putaran final Piala Asia U-23 2016 di Qatar. Peluang lenyap setelah Garuda Muda ditumbangkan Korea Selatan 0-4, ditambah hasil-hasil dari beberapa pertandingan penentuan di grup-grup lainnya.

Pada laga yang dihelat Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa 31 Maret 2015, Indonesia sebenarnya dalam posisi bagus untuk lolos. Jika tak menang, mereka cukup menahan imbang Pasukan Taeguk, karena kans lolos sebagai runner-up terbaik terbuka lebar.

Namun, minus Evan Dimas, yang belum sepenuhnya pulih dari cedera, Indonesia sudah begitu tertekan sejak awal pertandingan. Beberapa kali tim asuhan Aji Santoso tampak kesulitan mengimbangi permainan Korsel, yang memiliki postur tubuh lebih baik.

Kendati demikian, pertahanan Indonesia dapat dibilang baik sepanjang babak pertama. Ditambah, tak optimalnya serangan-serangan yang dilancarkan Korsel. Alhasil, pada babak pertama, Indonesia berhasil memaksakan hasil imbang 0-0.

Sayangnya, Korsel tahu betul apa yang perlu dilakukan di babak kedua, guna mencari gol pembuka. Mereka pun akhirnya membuka keran gol pada menit 51, lewat aksi Jung Seunghyun, disusul gol kedua pada menit 71, oleh Lee Chandong.

Unggul dua gol, permainan Korsel menggila. Tim asuhan Shin Tae-yong tersebut mencetak dua gol tambahan, sedangkan Indonesia, meski sudah memasukkan Evan Dimas, tetap tak mendapatkan ruang untuk menciptakan peluang-peluang berbahaya. Korsel pun menang 4-0.

Usai pertandingan, Aji Santoso mengutarakan kekecewaannya. Pasalnya, Manahati Lestusen cs tak bisa memaksakan hasil imbang, sehingga peluang lolos pun mengecil. Namun, mantan pelatih Persebaya IPL itu tetap memuji perjuangan anak asuhnya.

"Hasil tadi memang cukup disayangkan. Sebenarnya, hasil imbang sudah mengantarkan kami untuk lolos ke putaran final. Tapi, saya mengapresiasi perjuangan pemain di laga tadi," kata pelatih berusia 44 tahun asal Malang tersebut.

Lebih lanjut, Aji juga mengatakan kalau strategi bertahan yang digunakannya tak berjalan mulus. Pasalnya, barisan tengah dan penyerangan Garuda Muda kerap terbawa permainan Korsel dan terpancing untuk memasuki daerah permainan lawan.

"Saya sudah minta pemain agar merapatkan jarak di lini pertahanan. Mereka juga saya instruksikan untuk menunggu pemain Korsel di bawah garis tengah. Tapi, anak-anak terpancing keluar di babak kedua. Ini yang membuat lubang di pertahanan kami," jelas Aji.

Gol pertama Korsel yang dicetak oleh Jung Seung-hyun di menit 51, diakui Aji, menjadi faktor kedua kekalahan Indonesia. "Pemain kami terbelah konsentrasinya. Posisi saat itu, kiper Muhammad Natshir mengalami benturan dengan salah satu pemain Korsel. Pemain anggap itu sebagai sebuah pelanggaran, tapi wasit berpikiran lain. Gol pun tercipta," ucapnya.

Sementara itu, pelatih Korsel, Shin Tae-yong mengungkap kunci sukses timnya di babak 2."Di babak pertama, kami kepanasan. Pemain harus membiasakan diri terhadap suhu di stadion. Kemudian, pemain Indonesia bermain bagus di babak pertama," jelas Shin.

"Permainan kami mulai meningkat di babak kedua. Pemain sudah terbiasa dengan cuaca panas. Dan, mereka juga lebih efektif dalam menyelesaikan peluang. Saya menganggap semua pemain tampil bagus," sambung pria berusia 44 tahun tersebut.

Cemerlang di awal

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk lolos ke putaran final Piala Asia U-23, usai menang telak, 5-0 atas Timor Leste pada pertandingan pembuka Grup H. Hal tersebut menjadi modal penting bagi Garuda Muda, sebagai ancang-ancang untuk posisi runner-up.

Pada pertandingan kedua, Indonesia meneruskan tren positif dengan meraih kemenangan 2-0 atas Brunei. Tanpa Evan Dimas, yang menjadi tumbal kemenangan Garuda Muda di pertandingan pertama, Indonesia masih bisa menunjukkan kekompakan.

Dan pada laga terakhir, nyatanya Indonesia gagal mencuri satu pun poin, bahkan selisih gol harus berkurang empat. Hasil tersebut membuat Indonesia tinggal berharap lolos sebagai salah satu dari lima runner-up terbaik. Sayangnya, kans itu pun secara perlahan sirna.

Kemenangan 2-1 Arab Saudi atas Iran membuat posisi Indonesia di klasemen runner-up menurun ke posisi 6. Koleksi 6 poin plus selisih gol (+3) yang dimiliki Indonesia tak cukup untuk membawa mereka ke putaran final.

Thailand menjadi tim yang menempati urutan teratas, setelah berhasil menahan imbang Korea Utara di pertandingan terakhir. Mereka mengoleksi 7 poin, dengan selisih gol (+5). Disusul Iran dengan raihan 6 poin dengan selisih gol (+8).

Posisi ketiga ditempati Vietnam dengan koleksi 6 poin dengan selisih gol (+6), disusul Yaman dan Uzbekistan, yang sama-sama mengoleksi enam poin dan selisih gol (+5). Adapaun Uzbekistan mesti "diadu" dengan runner-up Grup B --grup yang belum memainkan laga.

Fokus SEA Games 2015

Setelah harapan tampil di putaran final Piala Asia U-23 2016 musnah, Indonesia tak memiliki cukup waktu untuk bersantai. Pasalnya, SEA Games sudah menanti. Ajang multievent dua tahunan tersebut akan dihelat di Singapura pada 5-16 Juni 2015.

Hasil yang didapat pada kualifikasi Piala Asia U-23 dapat menjadi cambukan untuk meraih pencapaian yang lebih baik di SEA Games. Meskipun, tim-tim tangguh seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan tuan rumah Singapura pun berpotensi menghadang.

Manajer timnas U-23, I Gede Widiade, mengatakan hasil yang diraih Timnas U-23 di kualifikasi Piala Asia bisa menjadi acuan dari tim pelatih untuk melakukan perbaikan demi menghadapi SEA Games. Sehingga diharapkan tim semakin kondusif pada Juni mendatang.

"Jadi, sudah tahu apa yang harus dilakukan di masa persiapan SEA Games. Kami tak bingung lagi mencari aspek-aspek yang harus diperbaiki," kata Gede.

Pada kesempatan tersebut, Gede juga menuturkan kalau Manahati dan kawan-kawan tetap mendapat apresiasi atas perjuangan di Kualifikasi Piala Asia. "Anak-anak sudah melakukan yang terbaik. Mereka sudah memberikan hasil yang maksimal. Bonus untuk pemain tetap diberikan," jelasnya. [viva]