Tuesday, March 3, 2015

Sutanto Tan Bakat Tionghoa yang Kembali Muncul di Skuad Timnas


Seputar Timnas - Ada pemandangan menarik yang tampak dalam pemusatan latihan (TC) timnas Indonesia U-22 tahap ketiga atau akhir ini. Terdapat nama pemain keturunan Tionghoa, Sutanto Tan, di dalamnya.

Ya, akhir-akhir ini bakat Tionghoa memang jarang menghiasi skuad timnas. Di era 2000-an, hanya beberapa saja yang bisa menembus skuad timnas.

Sebut saja Kim Jeffrey Kurniawan, Nova Arianto, dan Juan Revi Auriqto. Sebenarnya masih ada Arthur Irawan. Dia sempat diundang untuk ikut seleksi timnas senior untuk Piala AFF 2012.

Sayang, Arthur harus rela terlempar dari skuad timnas lantaran gagal bersaing dengan Raphael Maitimo. Dipanggilnya Sutanto, tentu saja membuat harapan talenta Tionghoa menembus skuad timnas semakin besar.

"Saya senang bisa mewakili kalangan Tionghoa di timnas. Ini membuktikan bahwa kami punya kesempatan yang sama untuk membela timnas," kata Tanto --panggilan akrab Sutanto-- , di Mess PS AU, Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin 2 Maret 2015.

Profesi pesepakbola profesional di kalangan Tionghoa belakangan memang kurang digemari. Namun, jika ditarik ke belakang, ternyata banyak pemain keturunan Tionghoa yang menjadi pesepakbola dan menghiasi skuad timnas pada awal abad 20.

Pemain Tionghoa yang paling mentereng adalah Tan Liong Houw. "Si Macan Betawi" merupakan pemain yang cukup disegani di sepakbola nasional pada era 1950-an.

Prestasi tertingginya adalah ketika mengantarkan Indonesia menembus babak perempat final Olimpiade Melbourne 1956. Ketika itu, Tan turun di babak perempat final melawan raksasa sepakbola dunia saat itu, Uni Soviet.

Dan setelahnya, jarang sekali muncul talenta Tionghoa di skuad timnas. Banyak faktor yang menyebabkan kaum Tionghoa tak bisa menembus skuad timnas.

Mulai dari faktor politis hingga pola pikir yang berkembang di kalangan Tionghoa itu sendiri. Banyak dari mereka yang sudah tak memiliki niat untuk menjadi sepakbola profesional. Kebanyakan, mereka terjun ke sektor ekonomi.

"Kondisi saat ini sudah berubah. Teman-teman di klub dan timnas tak membeda-bedakan saat bergaul. Begitu pula dengan pelatih. Baik di klub atau timnas, saya diperlakukan sama. Tak lihat dari suku mana," jelas Tanto.

"Inilah yang membuat saya semakin bersemangat untuk bersaing menembus skuad timnas. Saya sangat bangga bisa dipanggil timnas. Apalagi, kalau saya benar-benar masuk ke dalam skuad utama untuk kualifikasi Piala Asia dan SEA Games 2015," sambungnya.

Mengawali Karier di Singapura

Saat berusia 15 tahun, Tanto masuk ke tim junior PS Batam. Hanya setahun dia membela PS Batam. Musim selanjutnya, Tanto membela Geylang United. Selama di Singapura Tanto tak hanya bermain bola.

Dia juga menjalani kursus selama setahun agar bisa sekolah di sana. "Saat tes saya gagal dan harus pulang. Kalau mau main di sana, harus ada jaminan sekolah. Akhirnya, saya pulang. Padahal waktu itu Geylang mau pertahankan saya," kata Tanto.

Striker berpostur 1,8 meter tersebut kemudian bergabung ke tim Persib U-21 di 2011 hingga 2012. Lalu, Tanto melanjutkan karirnya di tim muda Pelita Bandung Raya pada 2012 hingga 2014.

Tanto justru tak bermain di Indonesia dalam debutnya di level senior. Dia justru memilih bergabung ke klub Liga Singapura (S-League), Hougang United pada pertengahan 2014 lalu.

Tak lama Tanto membela Hougang. "Cuma 3 bulan. Saya main 14 kali dan cetak 9 gol. Main di Singapura jadi pengalaman berharga bagi saya. Kompetisi di sana tak berbeda dengan Indonesia. Sama saja levelnya," jelas Tanto.

Usai bertualang di Singapura bersama Hougang, Tanto akhirnya memutuskan bergabung ke Bali United. Di saat yang bersamaan, Tanto mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam skuad timnas U-22.

Sebenarnya, bukan kali ini saja Tanto berkesempatan membela timnas. Beberapa kali, dia sempat dipanggil oleh pelatih Indra Sjafri untuk membela timnas U-19. Namun, ketika itu Tanto dianggap kalah saing.

Peluang Tanto menembus skuad timnas U-22 cukup besar. Tujuan TC timnas U-22 tahap 3 ini, seperti yang diutarakan pelatih Aji Santoso, adalah untuk menemukan skuad utama untuk kualifikasi Piala Asia.

Tanto pun harus bersaing dengan beberapa nama agar bisa mendapatkan satu tempat di tim utama. Tak main-main, striker kelahiran Pekanbaru tersebut harus bersaing dengan beberapa nama besar macam Muchlis Hadi Ning yang merupakan jebolan timnas U-19.

"Harus bersaing. Saya akan mengerahkan semua kemampuan agar bisa masuk tim utama. Semua pemain punya peluang yang sama," tutur Tanto.

Didukung Keluarga

Keputusan Tanto untuk menjadi pesepakbola profesional ternyata tak ditentang oleh orang tuanya. Sebaliknya, sang ayah, Christian Tan, dan ibunya, Yulia Yeo, justru sangat mendukungnya.

Sungguh pemandangan yang kontras. Pasalnya, kebanyakan keturunan Tionghoa lebih berharap anaknya terjun ke dunia bisnis atau yang lain.

usut punya usut, sepakbola ternyata sudah sangat mengakar di keluarga Tanto. Ayahnya, Christian Tan, merupakan penggila bola dan penggemar Ronaldo Luis Nazar de Lima.

Pemuda 20 tahun ini menjelaskan, perkenalannya dengan sepakbola diawali saat sang ayah menonton pertandingan di Piala Dunia 2002, Korea Selatan-Jepang. Ketika itu, diutarakan Tanto, sang ayah selalu berteriak ketika Ronaldo mencetak gol.

"Saya mau papa teriak ke saya saja kalau cetak gol. Saya sudah bilang ke papa mau jadi pesepakbola. Dan dia setuju. Saya dapat dukungan penuh," jelas Tanto.

Sejak saat itu, Tanto pun keluar masuk sekolah sepakbola. Dia juga mengasah bakatnya dari lingkungan sekitar.

"Di sekolah saya main sama teman. Kalau lagi senggang, di dekat rumah juga main," tutur pemain yang punya nama lain Chen Xio Liong.[viva]

Biodata Sutanto Tan

Nama Lengkap: Sutanto Tan / Chen Xio Liong
Tempat Lahir: Pekanbaru
Tanggal Lahir: 4 Mei 1994
Ayah: Christian Tan
Ibu: Yulia Yeo

Catatan karier:

  • Tim Muda:
  • PS Batam (2009-2010)
  • Geylang United (2010-2011)
  • Diklat Persib Bandung (2011-2012)
  • Pelita Bandung Raya U-21 (2012-2014)


Karir Senior:

  • Hougang United (2014, main 3 bulan)
  • Bali United (2015-sekarang)