Tuesday, February 3, 2015

Buat PSSI Mandiri, La Nyalla Calon Pemimpin yang Kuat


Seputar Timnas - Tidak mudah memimpin PSSI sebagai organisasi yang besar. Otoritas tertinggi yang mengurusi cabang olahraga sepak bola itu harus dipimpin oleh ketua umum yang mampu menjadikan organisasinya tanpa ketergantungan dengan pihak lain.

Tokoh olahraga nasional Madju Dharyanto Hutapea mengemukakan sangat ingin PSSI terus bisa menjadi organisasi yang mandiri dan terus maju dalam bekerja mengurusi sepak bola.Kata Madju, diantara cabor olahraga anggota KONI Pusat, PSSI saat ini termasuk yang sudah mampu mandiri karena tidak menggantungkan diri pada bantuan dana KONI Pusat, bahkan pemerintah.       

"Keberhasilan PSSI membangun kantornya sendiri dengan biaya mencapai hampir Rp 13 miliar, termasuk yang patut diapresiasi. Ditengah hujatan pemerintah, PSSI tetap berkarya. Ini harus dihargai, dan La Nyalla merupakan orang penting yang ada di kemandirian PSSI ini," ungkap mantan karateka nasional, pengurus organisi Inkai, PB Forki, dan pernah berkecimpung di sepakbola itu.     

Hal senada diungkapkan oleh Heru Pujihartono, pemilik klub Matador. Dia berpendapat, La Nyalla Mahmud Mattalitti adalah figur yang paling tepat untuk memimpin organisasi PSSI lima tahun mendatang.

“Bagi saya, saat ini persepakbolaan nasional sangat membutuhkan sosok seperti La Nyalla Mahmud Mattalitti. Saya tidak melihat adanya bakal calon ketum PSSI lainnya yang bisa melakukan pengorbanan demikian besar seperti beliau,” ungkap Heru Pujihartono.

Heru menegaskan, apa yang disampaikannya bukan sekadar ‘lips service’, apalagi mengada-ada atau ‘cari muka’. La Nyalla, katanya, mungkin memang masih jauh dari sempurna. Akan tetapi, diantara 10 bakal calon ketum PSSI lainnya, La Nyalla yang sudah mampu membuktikan esensi pengabdiannya yang luar biasa buat sepakbola negeri ini.

“La Nyalla sudah terbukti menjadi loyalis sepakbola nasional yang bermartabat, sudah mengorbankan waktu dan materinya untuk organisasi. Mestinya kita bisa memahami juga jika La Nyalla sudah menjadi negarawan sepakbola, terbukti beliau yang berdiri paling depan saat memperjuangkan keberdaulatan PSSI di masa perpecahan tempo hari" imbuh Heru.

"Kita semua mengagumi dan menghormati keyakinannya, bahwa kebenaran itu memang bisa disalahkan, akan tetapi tak bisa dikalahkan. Dan itu sudah terbukti!,” papar Heru, yang kini juga membina klub sepakbola wanita di Jember, Jatim.

Penetapan Ketum PSSI 2015-2019 akan ditentukan pada Kongres Pemilihan 18 April mendatang di Surabaya, Jatim. La Nyalla, yang dalam kepengurusan PSSI 2011-2015 hasil revitalisasi menjadi Wakil Ketua Umum sekaligus Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, dimajukan oleh banyak klub anggota PSSI sebagai bakal calon ketum, waketum, dan anggota Exco PSSI 2015-2019.

Ada 11 balon ketum, 29 balon waketum, dan 147 balon anggota Exco. Jumlah ini bisa saja menyusut jika dari verifikasi Komite Pemilihan ada diantara mereka yang tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan. Proses verifikasi akan dilakukan 17 Februari, dan pengumuman balon-balon menjadi calon dilakukan 18 Februari.

La Nyalla termasuk yang paling banyak didukung oleh ‘members’ PSSI untuk kembali memegang tampuk kepemimpinan otoritas sepakbola nasional itu. Diantara 10 balon ketum PSSI lainnya adalah, Achsanul Qosasi, Bernhard Limbong, Syarif Bastaman, Subardi, Muhammad Zein, Toni Aprialiani, dan Djohar Arifin Husin–Ketum PSSI 2011-2015.

Pemilihan Ketum dan sekaligus pembentukan Exco PSSI 2015-2019 memang masih relatif lama. Namun, bagi pemilik klub Matador yang terakhir berkiprah di kompetisi Divisi I PSSI 2014 itu,  masa penantian menuju Kongres 18 April 2015 bisa dibilang sebentar jika dikaitkan dengan tantangan besar yang dihadapi persepakbolaan nasional.

“Menurut saya, ada tantangan internal dan ekternal. Tantangan kedalam, bagaimana dari saat sekarang publik bisa lebih mendapatkan pencerahan tentang figur-figur yang memang sangat layak mereka percayai untuk memimpin PSSI. Jangan sampai nantinya ada kesan, seperti membeli kucing dalam karung,” urai pemilik Nendia Catering itu.

Tantangan yang bersifat ekternal, bagaimana komunitas sepakbola nasional harus tetap bersikap dinamis menyikapi dinamika yang berkembang, termasuk tuntutan ‘reorganisasi’ yang diminta pihak Kemenpora.

“Dalam hemat saya, tuntutan Kemenpora itu bukan resmi tuntutan pemerintah, misalnya bagian dari sebuah grand-design dari atas, seperti yang terjadi pada 2010 dengan adanya Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang yang langsung dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” jelas Heru.[indopos.co.id]