Wednesday, January 21, 2015

Inilah Penyebab Prestasi Timnas Indonesia Jalan di Tempat


Seputar Timnas -  Timnas Indonesia sempat disegani pada era 1960-an hingga awal 1990-an. Selama empat dekade itu, tim Merah Putih beberapa kali berhasil  menjadi juara di level Asia Tenggara hingga menorehkan prestasi mentereng di tingkat dunia. Salah satunya ketika meraih medali perak Asian Games 1966 serta menggondol medali emas SEA Games 1987 & 1991.

Pembinaan usia muda yang berjalan secara terstruktur menjadi kunci keberhasilan tim Merah Putih pada era itu.  Patar Tambunan, eks gelandang timnas pada era 1980-an menjadi salah satu sosok yang merasakan keberhasilan pembinaan kala itu.

"Modul pembinaan kala itu sangat jelas. Saat itu PSSI memunculkan Pola Pembinaan Sepak bola Nasional (PPSN). Modul itu membuat pola permainan dari tingkat junior hingga senior tersusun dengan rapi. Singkatnya, sistem yang digunakan oleh timnas junior tak beda jauh dengan yang dipakai di level senior," beber Patar Tambunan usai acara Bincang Orang Bola "Kutak-Katik Filosofi Sepak Bola Indonesia" bersama Metrotvnews.com, Selasa (20/1).

Pola PPSN yang dipakai kala itu mirip dengan modul persepakbolaan Jerman pada medio 2000-an. Usai hasil memilukan pada Piala Eropa 2004, federasi sepak bola Jerman bersama eks pemain, Juergen Klinsmann serta Joachim Loew melakukan regenerasi dan menyamakan identitas permainan di dalam tim. Selain itu, mereka juga  meminta setiap klub Jerman untuk membuka fasilitas sekolah sepak bola.

Namun sayang, metode PPSN yang pernah memberikan banyak gelar kepada timnas Indonesia terbengkalai usai tampuk pimpinan PSSI beralih dari Kardono ke Azwar Anas pada 1991. Setidaknya itu yang dirasakan Patar.

"Entah apa yang terjadi. Tapi setelah Indonesia menjadi juara SEA Games 1991, pembinaan PPSN tak lagi digunakan. Modul itu hilang seiring pergantian pengurus. PPSN makin tak terlihat setelah PSSI memutuskan untuk mengadakan pembinaan pemain muda di luar negeri seperti Primavera yang berlatih ke Italia," ujar Patar.

Putusan yang dibuat PSSI terbukti keliru. Jumlah trofi yang didapat timnas Indonesia menjadi indikatornya. Sejak metode training camp di luar negeri seperti Primavera dan S.A.D yang diberangkatkan ke Uruguay pada medio 2000-an dijadikan andalan, tim Merah Putih tak pernah lagi berjaya di level SEA Games, AFF, apalagi AFC.

"Kita pernah berjaya dengan permainan agresif, cepat, umpan-umpan pendek, barisan bek yang bermain ngotot. Cara bermain seperti itu terus diperagakan hingga era 1980-an. Namun entah kenapa filosofi seperti itu tak lagi saya lihat saat ini. Mungkin itu yang membuat timnas tak lagi berprestasi," timpal Risdianto, eks striker timnas pada era 1970-an yang juga menjadi narasumber di Bincang Orang Bola.

Berkaca dari catatan kurang impresif timnas dalam dua dekade terakhir, Zulkarnaen Lubis, bintang timnas Indonesia era 1980-an, lantas meminta agar PSSI mengembalikan filosofi bermain tim Merah Putih ke habitat aslinya. Persis seperti yang dulu pernah dipakai pada zaman Kardono.

Sebab, Zulkarnaen merasa, Indonesia sejatinya tak perlu meniru gaya main tim-tim Eropa atau Amerika Selatan untuk bisa berprestasi. Jika mau digarap secara serius, Indonesia bisa berjaya dengan mengandalkan modul permainan yang dulu pernah dipakai, yakni umpan-umpan pendek, agresif, dan cepat.

"Ibaratnya, kita tak perlu ikut-ikutan makan burger keju atau steak. Makan singkong saja sudah cukup. Tapi kan bisa diolah jadi makanan yang enggak kalah enak. Dijadikan getuk misalnya. Artinya, timnas Indonesia sebetulnya bisa meraih banyak gelar andai konsisten dengan sistem yang sejak dulu sudah dianut" kata Zulkarnaen.

"Sepakbola ala Indonesia. Tubuh pemain Indonesia tidak besar. Jadi jangan dipaksa untuk memainkan sepak bola gaya Eropa. Sebaiknya, PSSI kembali menggunakan modul yang dulu sudah dipakai. Itu sesuai dengan karateristik tubuh dan gaya main pesepak bola di tanah air," Zulkarnaen di sela-sela acara Bincang Orang Bola. [metrotv]