Wednesday, January 28, 2015

100 Hari Kerja, Jokowi Dimohon Turun Benahi Sepakbola


Seputar Timnas -  Tim nasional Indonesia merupakan salah satu kebanggaan bangsa. Oleh karenanya, legenda hidup sepakbola nasional, Anjas Asmara, berharap pemerintah turun tangan membenahi sepakbola Indonesia yang prestasinya tidak menonjol.

Mulai dari persoalan korupsi, mafia sampai kerusuhan terus menguntit sepakbola Indonesia. Dalam momentum 100 hari pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) ini, mantan pemain Timnas dan Persija di era 1970-an yang akrab disapa Oom Anjas itu berharap keduanya mau turun langsung ke bawah membenahi sepakbola.

“Saya katakan, kita ada harapan. Saya melihat mereka (Jokowi-JK) antusias terhadap olahraga kita. Saya harapkan mereka mau turun langsung,” seru Anjas.

“Masyarakat kita kan gila bola, sepakbola juga jadi harga diri kita. Maka dari itu, saya harapkan Pak Jokowi mau turun langsung membenahi sepakbola,” tambahnya.

Untuk saat ini langkah dari pemerintah masih melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), upaya tersebut diharapkan bisa tersalurkan dengan pembentukan Tim Sembilan.

Namun pembentukan Tim Sembilan dianggap banyak pihak malah akan merugikan, terutama jika dianggap merupakan intervensi pemerintah pada PSSI. Ancamannya bisa saja Indonesia dijatuhi sanksi FIFA.

Alasannya, masalah yang ada di PSSI saat ini adalah persoalan teknis, bukan lagi politis seperti saat terjadi dualisme PSSI. Meski begitu, Anjas merasa intervensi pemerintah melalui Tim Sembilan justru dibutuhkan.

“Saya sendiri setuju soal tim sembilan. Masalahnya PSSI selalu salah cari pelatih. Pelatihnya sendiri skill-nya jauh di bawah. Saya sendiri sedih prestasi kita bisa mundur. Berarti kan ada yang salah dalam pembinaan dari PSSI,” lanjutnya.

“Saya pernah marahi (mantan pelatih timnas Alfred) Riedl. Bagaimana kamu ajarkan pemain kita bola-bola panjang. Karakter kita dari dulu kan bola-bola pendek seperti Barcelona itu,” imbuhnya lagi.

“Skill individu masih jadi titik kelemahan kita. Saya tidak menyangka, sakit hati melihat permainan Indonesia sekarang. Lihat saja Jepang. Dulu mereka kita yang ajari main bola. Sekarang, mereka (prestasinya) di mana, sementara kita entah di mana,” tutupnya.[okezone]