Friday, December 26, 2014

Kisah Mantan Pemain Timnas Selamat dari Tsunami


Seputar Timnas - Bencana tsunami 10 tahun silam masih membekas di pikiran mantan pemain Timnas Indonesia, Abdul Musawir (30 tahun). Eks Kapten Persiraja Banda Aceh itu pernah berniat berhenti bermain sepakbola, setelah selamat dari bencana yang menenggelamkan rumah dan seisi kampungnya. Bagaimana kisahnya?

Minggu pagi, 26 Desember 2004, Pantai Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh dipenuhi aktivitas nelayan dan warga yang menikmati akhir pekan. Musawir yang tinggal di Dusun Tongkol sedang berkumpul dengan keluarga di rumah.

Lulusan Diklat sepakbola Tunas Bangsa Banda Aceh itu baru setahun direkrut Persiraja. Hari itu Musawir tak latihan, masih menghabiskan libur akhir musim. Ini saat-saat terakhir ia menikmati rumahnya di dekat Pantai Ulee Lheu.

Tak lama kemudian gempa dahsyat berkekuatan 9,2 skala richter mengguncang. Mereka panik berhamburan keluar. Saat gempa mereda, Musawir pergi dengan sepeda motor ke Deah Glumpang, memastikan kondisi kakaknya baik-baik saja.

Kemudian kembali lagi ke rumah. Setiba di jembatan Ulee Lheu, tiba-tiba air laut seketika surut hingga terlihat jelas Pulau Tuan, pulau kecil di seberang perairan Ulee Lheu. Ikan-ikan tampak menggelepar di dasar laut.

Musawir masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. 20 tahun hidup di pesisir tak sedetik pun ia mendapati laut kering, tapi kali ini nyata.

Beberapa orang ketika itu justru sibuk memungut ikan-ikan tersebut. Sebagian lagi bergegas meninggalkan lokasi karena ketakutan akan terjadi sesuatu.

Belum habis rasa penasaran, tiba-tiba terlihat gelombang besar hitam pekat menuju daratan. “Suaranya seperti gemuruh,” kenang Musawir.

Dia langsung memerintahkan adiknya menyelamatkan diri. “Ini ambil motornya, pergi terus. Biar saya urus mak,”. Motor itu dibeli dari gaji pertamanya di Persiraja, belakangan hilang bersama tsunami.

Musawir mengajak keluarganya terdiri dari ibu, adik, kakak serta keponakannya masuk ke mobil sedan Civic. Jumlahnya 14 orang, berdesakan dalam mobil. Mereka langsung tancap gas ke arah kota.

Di tengah perjalanan, mobil kesulitan melaju karena banyak orang berlarian di jalan. Tak mau ambil risiko, adik lelaki Musawir langsung keluar dari mobil, memilih lari menyelamatkan diri.

Dalam situasi genting Musawir nekat memacu lagi mobilnya, menerabas apa saja di depannya. 14 orang dalam mobil jadi tanggungjawabnya.

“Kami kejar-kejaran dengan air, di belakang kami air sudah menerjang apa saja. Jadi tidak ada yang perlu dipikirkan,” ujarnya.

Laju mobil terhenti di Lapangan Blang Padang. Lidah tsunami sudah sampai ke sana. Mereka bergegas keluar, naik ke atas mobil. Sial, kakaknya saat itu justru terjebak di dalam. “Kakinya patah terjepit, sampai sekarang masih pincang,” tutur Musawir.

Tsunami yang melumpuhkan pesisir Aceh saat itu, merenggut lebih 200 ribu nyawa. Musawir dan keluarganya bersyukur selamat. Termasuk dua adiknya tadi, yang keluar dari mobil dan menyelamatkan diri dengan sepeda motor.

Rumah dan harta bendanya lenyap tak berbekas di sapu gelombang. Dusun Tongkol tempatnya tinggal sudah menjadi laut. “Kehidupan dimulai dari nol lagi.”

Berbulan-bulan mereka hidup di pengungsian, Musawir sempat berpikir ingin berhenti menjadi pemain bola. Dalam benaknya tak ada arti lagi bermain. Berbagai perlengkapan dan atribut sepakbola sudah hilang. Striker Persiraja Irwansyah yang banyak memotivasinya untuk menjadi pemain profesional menjadi korban. Persiraja sendiri lumpuh saat itu.

Satu-satunya dipikiran Musawir saat itu hanya fokus membahagiakan orangtua, dengan mencari pekerjaan lebih baik dari sepakbola. Tak harus meninggalkannya untuk bermain di luar daerah.

Beberapa bulan setelah bencana tsunami 2004, tawaran dari PSIM Yogjakarta diterima Abdul Musawir. Meski PSIM promosi ke Liga Super Indonesia musim 2005/2006, sang pemain yang baru berusia 20 tahun masih galau memutuskan.

Keinginannya berhenti dari sepakbola hampir bulat. Berat baginya meninggalkan orangtua dan keluarga yang baru ia bantu selamatkan dari amukan gelombang. Rasa cintanya terhadap Persiraja juga belum pudar, meski klub ini sedang vakum akibat tsunami.

Sikap Musawir mulai berubah setelah dapat dorongan dari beberapa pemain senior. Ia juga termotivasi dengan idolanya, mendiang Irwansyah. Sebelum tsunami, striker Persiraja itu sering memberi wejangan kepada Musawir. “Kata-kata Irwansyah memotivasi saya,” ujarnya.

Apa kata-katanya? “Kau harus maen bola terus, latihan terus, sakit sedikit jangan cengeng, jangan ketahuan pelatih. Kau harus tunjukkan orang Aceh itu bandel, kita mampu.”

Musawir pun menerima tawaran PSIM usai mendapat restu ibunya. Dia diberikan uang untuk membeli lagi perlengkapan sepakbola, selanjutnya terbang ke Yogyakarta. Baru tertimpa musibah kemudian jauh dari orangtua, bukanlah perkara mudah beradaptasi. Ini yang dirasakan Musawir kala itu.

“Tiga bulan saya harus beradaptasi. Saya sulit berkonsentrasi. Saya bermain di lapangan tapi pikiran ke kampung. Gak bisa menikmati. Saya sering murung, suka menyendiri kadang, sering menangis di belakang teman-teman,” kenangnya.

Lambat laun ia mampu keluar dari duka itu dan menunjukkan permainannya. Hanya lima bulan membela PSIM, Musawir kembali ditarik ke Persiraja. Kondisi Laskar Rencong sendiri saat itu belum stabil.

Hilangnya kiper senior M. Basyir dan ikon klub Irwansyah, membuat Persiraja seperti kehilangan ruh. Tak ada lagi pemimpin dan bomber tajam di lini depan usai ditinggal Irwansyah.

Mantan pemain Timnas Indonesia itu adalah sosok striker sempurna bagi Persiraja: jago dribbling, kontrol bolanya baik, tendangan kedua kakinya juga sama keras.

Kerap jadi momok penjaga gawang lawan. “Dia tidak tergantikan,” kata Musawir yang pernah beberapa kali berduet dengan Irwansyah pada musim perdananya, 2003.

Kembali untuk kedua kali ke Persiraja, tekad Musawir ingin membuktikan bahwa klub ini belum habis. “Saya ingin Persiraja ini tampil lagi ke kancah tertinggi sepakbola nasional seperti dulu masa Irwansyah. Kita harus tunjukkan walaupun kita tsunami tapi mampu bangkit,” katanya.

Ia bekerja keras melatih kemampuannya seperti cara me- dribbling bola dengan keseimbangan sempurna, juga tendangan jarak jauh seperti yang pernah diajari almarhum Irwansyah. Terpenting adalah belajar mengontrol emosi.

Bagi Musawir seorang pemain perlu melatih kemampuan dirinya, karena dengan kemampuan itulah ia bisa membesarkan klub.

Penampilan Musawir terus meningkat. Hingga akhirnya dipercaya menjadi kapten Persiraja. Di bawah bimbingan pelatih Herry Kiswanto, Musawir dkk mampu mengantar Persiraja menjadi runner-up Divisi Utama 2010/2011.

Kemenangan ini disambut gegap gempita pecinta Persiraja. Tim kesayangannya kini bisa kembali bermain di kasta tertinggi Liga Indonesia, setelah beberapa musim harus turun ke Divisi Utama.

Yang membuat Musawir bangga adalah mereka berhasil menuju final dengan kondisi Persiraja sedang krisis keuangan.

Sialnya kisruh di tubuh PSSI yang memunculkan dualisme kompetisi, membuat semuanya tak sesuai harapan. Persiraja yang memilih bermain di Liga Primer Indonesia (LPI), ditentang sebagian pendukungnya yang menginginkan Liga Super Indonesia (LSI).

Tampilnya Persiraja di LPI yang diklaim resmi dibawah PSSI saat itu, membuka peluang Musawir tampil di timnas Indonesia.

Berkat penampilannya yang menonjol di Persiraja, pelatih Nilmaizar memasukkan Musawir dalam timnas Indonesia yang ikut Piala Al-Nakbah International 2012 di Palestina.


“Saya tidak pernah mimpi sebelumnya jadi pemain Timnas,” kata pemain bernomor punggung 7 di Persiraja.[okezone]