Thursday, November 20, 2014

Kisah Tragis 4 Final Indonesia di Piala AFF

Timnas Senior - Antara
Seputar Timnas Sejak Piala AFF bergulir 1996, Indonesia belum pernah mendapatkan gelar juara. Tim Merah Putih nyaris merebut gelar juara 3 kali beruntun dari 2000, 2002, 2004 dan terakhir 2010.

Di tiga perhelatan itu, Indonesia tidak pernah absen di babak final. Sayang, Indonesia hanya berstatus sebagai runner-up. Mimpi buruk partai final terus membayangai 'Si Macan Asia'. Tim Merah Putih sebenarnya punya peluang untuk membawa pulang trofi juara empat tahun silam. Namun lagi-lagi, skuat Garuda harus gigit jari. Untuk ke-4 kali, Indonesia hanya sanggup mengakhiri klasemen di podium 2.

Dan, 2014 ini Indonesia kembali punya peluang untuk mengakhiri penantian panjang merebut gelar juara. Di Piala AFF 2014, Indonesia tergabung di grup A Piala AFF 2014 bersama Vietnam, Filipina dan Laos.

Mimpi Buruk Di Rajamangala Stadium

Indonesia yang saat itu ditangani Nandar Iskandar untuk pertama kali menjejakkan kaki di partai final. Indonesia mengalahkan salah satu tim favorit juara, Vietnam dengan skor 3-2. Gendut Doni Christiawan dan Matheus Nurdiantara menjadi pahlawan kemenangan Indonesia.

Di final, 18 November 2000, Indonesia kembali bersua dengan tuan rumah, Thailand. Indonesia harus kebobolan di menit awal pertandingan melalui gol Worrawoot Srimaka di menit 14. Gol cepat itu meruntuhkan semangat bertanding Indonesia. Srimaka sukses menggandakan gol 4 menit kemudian. Uston Nawawi kemudian memperkecil kedudukan di menit 20.

Sayang, gol Uston sama sekali tidak mampu menolong Indonesia. Di menit 32, Srimaka kembali menuliskan nama di papan skor untuk memantapkan keunggulan menjadi 3-1. Di babak kedua, Tanongsak Prajakkata memantapkan kemenangan tim Negeri Gajah Putih menjadi 4-1.

Gajah Putih Berpesta Di 'Sarang' Garuda

Dua tahun berselang, Indonesia punya kesempatan balas dendam menyusul kekalahan dua tahun silam di Rajamangala, Bangkok. Di final Piala AFF 2002, Indonesia ganti menjamu Thailand, 29 Desember 2002. Untuk kedua kali, raksasa sepakbola di Asia Tenggara itu kembali bertemu.

Indonesia punya keuntungan berstatus sebagai tuan rumah. Pertandingan berjalan seimbang di waktu normal. Kedua kubu saling berbalas gol. Gendut Doni kembali tampil menjadi penyelamat. Pemain Persija Jakarta itu mencetak gol penyeimbang Indonesia di menit 79 untuk mengubah kedudukan menjadi 2-2.

Pertandingan sama kuat hingga extra-time babak kedua. Adu penalti menjadi penentu pemenang di pertandingan tersebut. Namun, publik tuan rumah harus gigit jari setelah dua algojo Indonesia, 'Bejo' Sugiantoro dan Sandy Firmansyah gagal mengeksekusi penalti. Sedangkan, 4 eksekutor Thailand menjalankan tugas dengan sempurna. Gajah Putih berpesta di SUGBK

Babak Belur Di Tangan Singapura

Untuk pertama kali, format final dua wilayah digunakan di Piala AFF 2004. Indonesia tiga kali melangkah ke partai pamungkas. Faktor tuan rumah ternyata tidak menjadi jaminan, Indonesia bisa menang. Terbukti, di leg pertama, pada 8 Januari 2005,Singapura menang besar 3-1. Daniel Bennet, Khairul Amri, dan Agu Casmir mencetak gol kemenangan Singapura dengan skor 3-1. Satu gol Indonesia dicetak Ilham Jayakesuma.

Di pertemuan kedua, Indonesia kembali tidak berkutik setelah mengalami kekalahan 1-2 pada 16 Januari 2005. Indra Shahdan Daud dan Agu Casmir. Gol tunggal Indonesia diciptakan Elie Aiboy. Ketika itu, Indonesia ditangani pelatih asal Bulgaria, Ivan Kolev.

Indonesia Diganyang Malaysia

Setelah dua edisi absen di final, Indonesia kembali mendapat kesempatan untuk memajang trofi 'keramat' Piala AFF di kantor PSSI. Berstatus sebagai tuan rumah, Firman Utina membawa Indonesia menjejakkan kaki di final 2010. Di final, Indonesia bersua saudara serumpun, Malaysia.

Harimau Malaya menjadi ujian terakhir Garuda. Tapi lagi-lagi, dukungan jutaan suporter di pelosok negeri tidak mampu membawa Indonesia tampil sebagai juara. Dalam leg 1 di Malaysia, Indonesia menyerah dengan skor telak 0-3. Safee Sali--ketika itu merumput di Indonesia bersama Pelita Jaya--menjadi mimpi buruk buat tim besutan Alfred Riedl. Dia mencetak dua gol. Satu gol tambahan Malaysia disarangkan Ashaari Shamsudin.

Tiga hari berselang, tepatnya 29 Desember 2010, Garuda ganti memukul Malaysia dengan skor 2-1. M Nasuha dan M Ridwan mencetak gol kemenangan. Sedangkan, 1 gol Indonesia disarangkan Safee Sali.

Tapi kemenangan itu tetap tidak berarti. Malaysia menang dengan agregat 4-2. Indonesia digayang Malaysia.

Kini mampukah Indonesia memutus kutukan partai puncak andai melaju hingga final AFF 2014? [liputan6]