Monday, November 10, 2014

Indra Sjafri: Saya Siap Miskin Demi Negara


Seputar Timnas - Sepakbola Indonesia telah lama haus akan dahaga juara. Namun gelar juara sulit diwujudkan oleh timnas senior dan malah diraih oleh Timnas Indonesia U-19. 

Tim yang diisi oleh sekelompok pemain muda dengan semangat dan skill bagus itu muncul dengan memberikan harapan baru bagi masa depan sepakbola Merah Putih. Tim hebat itu tentunya tidak muncul tiba-tiba, tetapi ada tangan dingin di balik kesuksesan Garuda Jaya.

Indra Sjafri, menjadi arsitek di balik kesuksesan yang dia berikan kepada Indonesia setelah lebih dari 20 tahun menanti untuk bisa menjadi juara di tingkat Asia Tenggara. Tepatnya pada 22 September 2013 lalu, Garuda Jaya sukses mengalahkan raksasa ASEAN, Vietnam dan menjadi kampiun Piala AFF U-19.

Tak sampai di situ Pria kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan Sumatera Barat itu juga sukses membawa anak asuhnya mengalahkan salah satu raksasa Asia, Korea Selatan dan menjadi juara Grup G dalam penyisihan kualifikasi Pra Piala AFC U-19 dengan skor 3-2 pada Sabtu 12 Oktober 2013 lalu.

Sebelum namanya sukses mengarsiteki Timnas U-19, mantan pegawai Kantor Pos Padang itu sudah bergabung di PSSI sejak Mei 2009. Saat itu Indra bertugas sebagai instruktur dan pemandu bakat PSSI. Dia juga sempat mengarsiteki Timnas Junior U-12 dan U-17 dan berhasil merebut trofi juara pada turnamen sepak bola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong.

Kesuksesan mantan pemain PSP Padang era 1980-an dalam membesut Timnas U-19 tidak dihasilkan dengan membalikkan telapak tangan. Pria berusia 51 tahun itu blusukan dari ujung Banda Aceh hingga Papua untuk mencari bakat muda yang belum tergali kemampuannya ke permukaan.

Pencarian bakat hingga ke pelosok Nusantara itu juga menunjukkan kalau PSSI belum bisa menggelar kompetisi reguler level junior untuk menyaring bakat-bakat muda terbaik Indonesia.  

Dalam masa pencarian bakatnya itu, Indra sempat tidak digaji selama satu tahun dan bekerja tanpa kontrak selama tujuh bulan, lantaran kisruh yang sedang terjadi di PSSI. Dengan keadaan tanpa digaji tersebut, pelatih Garuda Jaya ini sempat mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan, “Saya siap miskin demi Negara”. Pernyataan yang juga menunjukkan komitmen tulusnya dalam memberikan yang terbaik bagi Sepakbola Indonesia.

Pernyataan Indra Sjafri itu juga membuat para pemainnya berkomitmen tidak mencari keuntungan melalui kesuksesan mereka dari iklan dan hanya fokus dalam membela Timnas. 

Tidak hanya blusukan dan komitmennya yang siap miskin demi membela Negara, salah satu hal yang juga menjadi ciri khas yang dia buat saat membesut Garuda Jaya adalah selebrasi dengan sujud syukur.

Selebrasi ini memang sering dilakukan oleh pesepakbola tapi jarang terlihat dilakukan secara bersama-sama. Umumnya tim melakukan selebrasi dengan berjoget atau berlari ke arah kamera.

Tapi Indra Sjafri ingin memberikan hal yang berbeda dalam selebrasi yang dilakukan Garuda Jaya, hal ini sekaligus mengajarkan para pemain untuk bersyukur kepada Tuhan.

Usai mengantarkan skuad Merah-Putih menjadi kampiun se-Asia Tenggara, target lebih tinggi dicanangkan ayah dua orang anak ini dengan mengantarkan Evan Dimas dkk ke panggung Piala Dunia U-20. Malang tak dapat dibendung, cita-cita melenggang ke Piala Dunia belum bisa terwujudkan. Seolah melupakan jasa sang ‘pahlawan’ yang menghapus gelar dahaga bagi sepakbola Indonesia, PSSI menghentikan kontrak kerja Indra Sjafri dari jabatannya sebagai pelatih Garuda Jaya.

Berhentinya Indra Sjafri tanpa membuahkan target yang dicanangkan tak membuat publik mencaci maki, masyarakat malah membela sang pelepas dahaga juara di media sosial Twitter. 

Indra Sjafri banjir dukungan lewat tagar #Respect #TerimaKasihIndraSjafri menjadi trending topic usai pemberhentiannya oleh PSSI pada Selasa (4/10/2014) lalu. 

Tak lupa mantan pelatih Evan Dimas dkk itu langsung mengucapkan terima kasihnya. "Terima kasih atas dukungan masyarakat dan suporter sepak bola Indonesia selama ini,” kicau Indra di laman Twitter resminya, @Indra_Sjafri.

Meski sudah tidak melatih Evan Dimas dkk, banyak kenangan menarik yang masih diingat oleh Indra Sjafri. Baginya banyak tantangan dalam menukangi skuad muda yang masih belum stabil emosinya. 

Pria yang saat ini menjadi konsultan di klub sepakbola Jaya Perkasa Purwakarta yang dibentuk Bupati Dedi Mulyadi, bertekad akan terus memberi dukungan bagi sepakbola Indonesia. Indra juga tidak memungkiri ingin memiliki Sekolah Sepakbola (SSB) sendiri suatu saat nanti.

“Mereka (Timnas U-19) masih muda, masih labil dan fluktuasi yang kurang stabil ditambah lagi peak performance masih suka turun naik. Jika (pengalaman) sukanya saya bisa memberikan yang terbaik dari target yang dicanangkan dengan menjadi juara di AFF setelah sekian lamanya,” kata Indra Sjafri saat dihubungi Okezone, Rabu (5/11/2014).

“Hal paling berkesan, tentunya mengantarkan juara Piala AFF setelah 22 tahun dan satu lagi dipecat PSSI karena tidak lolos Piala Dunia (U-20). Tentu saja saya tidak  kecewa karena saya bisa terus membantu sepakbola Indonesia di manapun wadahnya. Untuk SSB tunggu saja tanggal mainnya,” tambahnya.

Mencatatkan nama seseorang yang membela Indonesia dengan hati dalam daftar pahlawan memang butuh waktu, seperti nasib para pahlawan bangsa yang masih sering terlupakan. 

Tapi bagi masyarakat  pecinta sepakbola Indonesia, Indra Sjafri sudah menjadi pahlawan sepakbola dengan menghapus gelar dahaga sepakbola Indonesia selama lebih dari dua dekade. Prestasi dan masa jabatan singkatnya ini pun diabadikan dalam sebuah buku dan film layar lebar. Tak lain demi mengapresiasi jasa seorang Indra Sjafri.[okezone]


Biodata Indra Sjafri:

Nama Lengkap: Indra Sjafri

Tanggal lahir: 2 Februari 1963

Tempat lahir: Lubuk Nyiur, Pesisir Selatan, Batang Kapas, Sumatera Barat

Istri: Temi Indrayani

Anak : Aryandra Andaru & Diandra Aryandari

Karier pemain: PSP Padang 1986-1991

Karier Kepelatihan:

2011: Timnas Indonesia U-16

2013-2014: Timnas Indonesia U-19