Thursday, October 9, 2014

Profil: M.Sahrul Kurniawan Pemuda Dusun Bek Tangguh Timnas U-19

M.Sahrul Kurniawan saat tanding vs Barcelona B - IST
Seputar Timnas - Mungkin tak pernah terpikirkan di benak pemuda dusun ini bahwa dirinya bisa setenar seperti sekarang -terlebih di usianya yang tergolong belia, 19 tahun. Menjadi bintang lapangan hijau tentu saja merupakan impian dan harapan banyak anak kecil pecinta sepakbola. 

Muhamad Sahrul Kurniawan, pemuda lugu kelahiran dusun Genggong, Ngawi itu berhasil menembus skuad Garuda Jaya di ajang Piala AFF U-19 2013 lalu di tengah ketatnya seleksi yang diadakan oleh pelatih Indra Sjafri. 

Uniknya bakat Sahrul ditemukan pelatih asal Sumatra Barat itu melalui referensi seorang tukang ojek. Seperti diketahui bahwa dalam mendapatkan talenta emas Tanah Air, Indra Sjafri melakukan blusukan hingga ke daerah-daerah atau pedalaman Indonesia. 

Indra Sjafri pun langsung merespon dan meminta tukang ojek tersebut membawa Sahrul saat Timnas Indonesia U-17 melakoni laga uji coba kontra Persinga-Ngawi, pada Mei 2012 silam.  

Sahrul kemudian datang mengikuti seleksi bersama empat pemain lain. Akan tetapi hanya ia yang mampu “menyihir” Indra Sjafri lantaran ia memiliki ketenangan saat berduel dengan lawan. Dan dari sinilah perjalanannya sebagai bintang lapangan hijau dimulai. 

“Saya diberitahu oleh tukang ojek di daerah Ngawi. Katanya ada satu pemain yang bagus di posisi bek tengah. Sahrul Kurniawan yang dimaksud. Akhirnya saya minta dia mengantar saya ke tempat latihan Sahrul,” kata Indra Sjafri kala itu. 

"Saya kemudian meminta pelatih memainkan Sahrul agak lama dan memang bagus. Lalu kami mengajaknya ikut beberapa uji coba dan ternyata permainannya memang bagus," tambahnya. 

Sejak saat itu, Sahrul menjelma menjadi palang pintu yang kokoh bagi Tim Merah-Putih. Bukan hanya tangguh di lini pertahanan, Sahrul juga kerap mengancam dan merusak konsentrasi bek lawan. 

Juara turnamen Hongkong Jockey Club bersama Timnas U-18 menjadi gelar perdana Sahrul bersama Tim Garuda Muda. Tetapi namanya baru meledak saat membantu Timnas U-19 merengkuh trofi AFF U-19 2013 lalu dan menjuarai Grup G di Pra Piala Asia U-19.  

Sepakbola bukan hanya melambungkan namanya, tetapi juga mengangkat derajat orangtuanya yang merupakan petani di dusun sana. Sahrul sendiri merupakan anak bungsu dari pasangan Nyartomo dan Pariyem. 
Sahrul muda mengenal teknik sepakbola saat berlatih di sekolah sepakbola Jogorogo. Akan tetapi, untuk mewujudkan impiannya menjadi aktor lapangan hijau seperti saat ini, ia menemui berbagai macam kendala. 

Berbeda dengan anak-anak berkecukupan, kehidupan Sahrul terbilang memprihatinkan. Sahrul harus puas menggunakan sepatu sepakbola yang dipenuhi dengan jahitan, lantaran orangtuanya tak memiliki banyak uang untuk membelikan sepatu baru apalagi sepatu bermerek. 

Sahrul bahkan harus bolak-balik ke tukang sol apabila sepatu usangnya itu robek. Namun, keterbatasan inilah yang justru memotivasinya untuk bekerja dan berlatih keras, di luar faktor baktinya untuk orangtua tercinta.  

Hasilnya? Si pemuda lugu itu menjadi bintang yang diperhitungkan lawan. Targetnya kini, tentu saja menjuarai turnamen Piala Asia U-19 di Myanmar pada 9-23 Oktober 2014, demi meloloskan Indonesia ke ajang bergengsi Piala Dunia U-20 di Selandia Baru pada 2015 mendatang.[okezone]