Thursday, October 9, 2014

Profil: Maldini Pali, Sang Sayap Taktis dan Lincah

Maldini Pali - IST

Seputar Timnas - Timnas Indonesia seperti tidak pernah kehabisan bakat pemain, terutama di sektor sayap. Sejak era Aji Santoso, Alexander Pulalo, Anang Ma'ruf, Ismaed Sofyan, Zulkifli sampai M. Nasuha. Namun mereka semua berkarakter fullback atau bek sayap. 

Selama 30 tahun lebih belum ada karakter pemain gelandang sayap yang memiliki skill dan visi bermain yang sesuai dengan sepakbola modern. Karena selama itu sepakbola Indonesia mengadopsi sistem formasi permainan 3-5-2 ala Timnas Jerman Barat. 

Menggunakan tiga bek, dengan satu bek berdiri agak ke belakang, yang disebut libero. Lalu ada lima pemain di tengah, yang tiga pemain berfungsi sebagai gelandang untuk mengatur serangan sampai membantu pertahanan. Lalu dua pemain lagi adalah fullback di kanan dan kiri yang lebih banyak turun naik membantu serangan dengan mengirimkan umpan-umpan silang ke kotak penalti lawan serta ikut membantu pertahanan saat kehilangan bola. Lalu di depan ada dua penyerang yang berdiri sejajar.

Indonesia memang terlambat menggunakan formasi sepakbola modern yang sudah banyak dipakai oleh klub dan negara-negara yang sepakbolanya maju. Seperti formasi yang relatif seimbang dalam bertahan dan menyerang, yaitu 4-4-2. Atau formasi yang lebih agresif, seperti 4-3-3. 

Formasi 4-3-3 mulai diperkenalkan oleh pelatih Timnas Senior (2004-2007), Peter Withe. Pelatih asal Inggris itu menjadi perintis perubahan pola dan paradigma bermain personel Timnas Senior. 

Withe meminta para pemainnya untuk mengubah gaya bermain yang kaku menjadi lebih fleksibel. Ketika itu memang ada kesulitan beradaptasi dari para pemain yang sudah terbiasa bermain dengan sistem 3-5-2 lalu "dipaksakan" dalam waktu singkat harus mengadopsi formasi 4-3-3.




Setelah era Withe, satu lagi pelatih asing yang menggunakan formasi 4-3-3 untuk Timnas Senior, Ivan Venkov Kolev. Kolev melatih Timnas selama dua periode, di 2002-2004 serta 2007-2008. Meski menyukai 4-3-3, pelatih Bulgaria itu pernah beberapa kali menerapkan formasi 4-4-2 untuk Timnas Senior.

Indonesia baru mulai fasih menerapkan formasi 4-4-2 saat pelatih Alfred Riedl menangangi Timnas Senior (2010-2011). Riedl lah yang memperkenalkan bagaimana idealnya formasi 4-4-2 dimainkan. Empat bek berdiri sejajar dengan dua bek sayap di kanan dan di kiri yang harus aktif naik membantu serangan dan cekatan saat kehilangan bola. 

Lalu empat gelandang di tengah memiliki fungsi yang berbeda tapi saling menguatkan. Dua gelandang sayap, satu di kanan dan di kiri, satu gelandang bertahan yang tidak hanya mempertebal barisan bek tapi ikut mengatur alur bola. Lalu satu gelandang serang bertanggung jawab mengatur serangan dan menjadi saringan pertama dalam bertahan. Dua penyerang berdiri di depan bertugas sebagai eksekutor di kotak penalti lawan.

Sejak itulah Indonesia mulai mempraktekan bagaimana bermain sepakbola modern, meski masih banyak kekurangan yang mendasar. 

Filosofi sepakbola modern lalu diterapkan dengan baik oleh Indra Sjafri, pelatih asal Sumatera Barat yang menangani Timnas U-19. Pasukan Garuda Jaya, julukan Timnas U-19, bisa menjalankan beberapa formasi saat bertanding, 4-3-3 ketika menguasai bola, dan 4-2-3-1 saat ditekan lawan. 

Indra menerapkan pertahanan sejajar, dengan dua bek yang fleksibel saat menyerang, dan rapat ke tengah kotak penalti ketika kehilangan bola. Lini tengah malah difungsikan lebih cair, tergantung situasi permainan. Komposisi lima gelandang diterapkan ketika lawan menguasai bola, dengan dua gelandang bertahan di depan para bek dan tiga gelandang berposisi sebagai satu playmaker, serta dua gelandang sayap. Penyerang disisakan satu orang untuk terus membayangi pertahanan lawan.

Saat menyerang atau menguasai bola, formasi 4-2-3-1 berubah menjadi 4-3-3, empat bek tetap bertugas seperti di skema 4-2-3-1, namun penempatan dan pergerakan gelandang yang menarik. Playmaker yang tadinya sejajar dengan dua gelandang sayap, diturunkan sedikit ke tengah, di depan gelandang bertahan dan di belakang penyerang tunggal. 



Lalu dua gelandang sayap berubah fungsi menjadi penyerang sayap, yang banyak bergerak di sisi lapangan untuk membantu penyerang tunggal yang difungsikan sebagai target man.

Di situlah mulai tampak bakat-bakat gelandang sayap atau penyerang sayap modern. Nama Ilham Udin Armaiyn dan Maldini Pali menjadi contoh bagaimana idealnya gelandang sayap modern Indonesia. Mereka menjadi panutan malah di usianya yang masih sangat muda, 18 tahun! Jika Ilham Udin bermain lebih eksplosif, banyak menggiring bola dengan akselerasi individu. Maldini Pali lebih taktis.

Maldini yang kelahiran Mamuju 27 Januari 1995 itu lebih kuat dalam pergerakan tanpa bola. Maka jangan heran jika tiba-tiba Maldini sudah dekat dengan kotak penalti lawan, karena memang ia lincah saat bergerak tanpa bola. Tapi, jangan ragukan kemampuannya saat menggiring bola. Maldini juga susah digoyang jika menusuk ke pertahanan lawan. Ia juga bukan tipe pemain yang egois, Maldini bisa dibilang menjadi "pelayan" yang setia bagi rekan-rekannya.

Jika Indonesia mau serius membangun akademi sepakbola modern seperti yang ada di Jerman, Spanyol atau Belanda, lalu mengembangkan pemain-pemain untuk posisi bek sayap, gelandang sayap atau penyerang sayap, maka para pemandu bakat dan pelatih bisa dengan mudah menemukan bakat yang tersebar luas di negeri ini.[okezone]