Thursday, October 9, 2014

Profil: Evan Dimas, Sang Playmaker Modern Indonesia

Evan Dimas - IST
Seputar Timnas - Pecinta sepakbola Indonesia, terutama yang tumbuh besar di era 1990-an, tentu hafal nama-nama seperti Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Uston Nawawi atau Firman Utina. Yah, mereka adalah playmaker Timnas Indonesia yang terkenal di masanya masing-masing.

Fachry "berkibar" mulai dari era akhir 1980-an sampai akhir 1990-an, Ansyari "menggigit" sejak pertengahan 1990-an sampai awal 2000-an, Uston adalah andalan sejak akhir 1990-an sampai pertengahan 2000-an dan Firman menjadi "jenderal" mulai pertengahan 2000-an hingga memasuki akhir 2012-an.

Sejak 2013, publik tanah air mengenal nama Evan Dimas. Dia bukan playmaker Timnas Senior yang sering disaksikan dan dielu-elukan penonton, melainkan pengatur serangan Timnas U-19. Ketika itu, September 2013, Timnas U-19 yang dilatih oleh Indra Sjafri mulai membuat publik Indonesia terhenyak saat berlaga di Piala AFF U-19, "Piala Dunia-nya" sepakbola tingkat Asia Tenggara untuk kelompok umur 19 tahun.

Belum banyak yang mengenal apalagi mengidolakan Garuda Jaya, julukan Timnas U-19, saat itu. Namun semua berubah 180 derajat ketika Indra Sjafri sukses membawa Timnas U-19 menjadi juara usai mengalahkan Vietnam di final setelah melalui babak adu penalti dan menang 7-6. Timnas U-19 menjadi juara di tingkat Asia Tenggara, hal yang tidak bisa dilakukan oleh Timnas Senior sejak memenangi SEA Games 1991 silam.

Evan Dimas yang bermain menonjol di lapangan tengah seketika menjadi idola baru. Evan, pemuda kelahiran Surabaya 13 Maret 1995, mampu menunjukan permainan konsisten, tenang dan dewasa selama membela Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2013. Evan juga bisa memperlihatkan bagaimana idealnya seorang playmaker modern bermain. Membagi umpan dengan benar, mengatur dan membangun arah serangan dengan efektif sampai ikut bertahan dengan pintar, bukan dengan emosi.



Evan melakukan apa yang jarang kita lihat dari senior-seniornya.

Lahir dan tumbuh besar di keluarga miskin tidak membuat Evan minder. Justru Evan, yang ayahnya seorang satpam dan ibunya yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga, malah memiliki mentalitas dan kegigihan yang layak ditiru.

Evan juga tidak pernah pantang menyerah meski tidak memiliki sepatu bola seharga ratusan ribu atau jutaan rupiah saat mulai bermain bola. Dengan modal sepatu butut dan sempit, malah menjadikannya sebagai salah satu sinar terang di sepakbola Indonesia.

Jika Evan Dimas bisa tetap disiplin, giat berlatih, tidak berhenti belajar, menjauhi kehidupan hedonisme dan bisa memilih Liga yang benar, maka kariernya bisa terus bersinar hingga usianya mencapai 34-36 tahun.[okezone]