Thursday, October 16, 2014

Persiapan Timnas U-19 Panjang, Tapi Tak Ideal

Timnas U-19 - IST
Seputar Timnas - Punya waktu persiapan sekitar satu tahun, tim nasional Indonesia U-19 ternyata gagal memenuhi ekspektasi saat tampil di Piala Asia U-19 2014. Persiapan panjang ternyata bukan jaminan sebuah kesuksesan.

Timnas U-19 dipastikan lolos ke putaran final Piala Asia U-19 pada 12 Oktober 2013 usai menang 3-2 atas Korea Selatan di laga terakhir babak kualifikasi. Karena putaran final digelar pada bulan Oktober 2014, 'Garuda Muda' punya waktu setahun untuk mempersiapkan diri. Di atas kertas, waktu setahun lebih dari cukup untuk melakukan persiapan dan memperkuat tim agar mereka bisa bicara banyak di Myanmar.

Dalam waktu setahun terakhir, timnas U-19 menjalani training camp (TC) jangka panjang. Berbagai tur, mulai dari tur nusantara, tur Timur Tengah, hingga tur ke Spanyol, mereka ikuti untuk menguji kemampuan. Selain itu, mereka juga ambil bagian di turnamen Hassanal Bolkiah Trophy (HBT) di Brunei Darussalam.

Persiapan yang sedemikian panjang ternyata tak mampu mengantarkan timnas U-19 untuk berprestasi di Piala Asia U-19. Mereka langsung mentok di babak penyisihan grup usai kalah dari Uzbekistan 1-3, Australia 0-1, dan Uni Emirat Arab 1-4. Mimpi untuk tampil di Piala Dunia U-20 2015 pun tak terwujud.

Menurut pengamat sepakbola M. Kusnaeni, tidak ada yang salah dengan TC jangka panjang yang dijalani timnas U-19. Sayangnya, TC jangka panjang itu tak didukung oleh periodisasi yang tepat. Akibatnya, timnas U-19 justru gagal menampilkan performa terbaik di panggung yang sebenarnya.

"Persiapan timnas U-19 memang panjang, tapi tidak ideal. Terutama dalam pengaturan periodisasinya. Jadi, peak performance tercapai pada saat yang tidak tepat," tutur Kusnaeni dalam perbincangan dengan detikSport, Selasa (14/10/2014) malam.

"Bayangkan, menjelang ke Myanmar, tim justru babak belur di Brunei dan kemudian kalah telak beruntun dari Barca, Madrid. Mestinya 2-3 pekan sebelum ke Myanmar, timnas U-19 tidak lagi menghadapi jadwal seperti itu. Lawan berat-berat itu boleh dihadapi 2-3 pekan sebelumnya," ujarnya. 

"Menjelang ke putaran final, lawan yang dihadapi justru harus sedikit diturunkan supaya tim bisa menerapkan pola yang akan dipakai. Sekaligus cari kemenangan untuk menaikkan moral tim dan kepercayaan diri pemain. Ini yang terjadi justru sebaliknya. Babak belur menjelang berangkat. Di Myanmar akhirnya moral tim nggak bisa dinaikkan lagi," kata Bung Kus.

Bung Kus berharap kegagalan timnas U-19 bisa menjadi pelajaran berharga untuk dunia sepakbola Indonesia. Menurutnya, untuk bisa sukses di level tinggi, memang butuh kerja keras dan dukungan semua pihak.

"Yang jelas, ini pelajaran berharga bagi sepakbola Indonesia. Untuk mencapai level dunia, atau minimal Asia, kita masih harus berjuang lebih keras. Dan harus betul-betul fokus. Level Asia apalagi dunia, itu tantangannya masih sangat berat bagi kita. Korsel saja di putaran final ini 'kan agak kedodoran juga. Jadi, kalau persiapan kita kurang bagus, hasilnya ya seperti in," katanya.

"Apalagi timnas U-19 kita sebagian besar background kompetisinya masih sangat kurang. Yang paling terasa ya ketidaksiapan mental mereka saat menghadapi situasi-situasi sulit," ujar Bung Kus.

"Tapi, saya tetap salut kepada timnas U-19. Setidaknya, mereka telah menumbuhkan kembali kepercayaan diri kita bahwa kita sebetulnya bisa bersaing. Apalagi kalau kita bisa mempersiapkan diri dengan tepat," kata dia.[detik]