Sunday, October 12, 2014

Kisah Semir Sepatu dan Generasi Emas Timnas Indonesia U-19

Maulwi Saelan - VIVA
Seputar Timnas - Tim nasional (timnas) Indonesia pernah mengukir tinta emas pada Piala Asia U-19 di Thailand, 1961 lalu. Ditangani pelatih asing asal Yugoslavia, Antun Pogacnik, Tim Merah Putih mampu keluar sebagai juara bersama Myanmar.

Pogacnik dibantu dua asisten, yakni Maulwi Saelan dan Djamiat Dalhar. Meski tidak setiap hari mendampingi tim, Maulwi yang kini sudah berusia 86 tahun masih mengingat perjalanan Indonesia saat merebut gelar juara di Thailand.

Menurut Maulwi, turnamen yang digelar di Bangkok, 53 tahun lalu itu, sebenarnya belum mengenal istilah Piala Asia U-19. Kala itu, namanya masih turnamen Piala Asia Usia Muda. "Namun, memang pemain-pemainnya saat itu di bawah usia 19 tahun," kata Maulwi saat ditemui di Sekolah Al Azhar, Jakarta.

Maulwi bercerita bahwa peran Pogacnik sangat besar dalam membangun fondasi tim. Mantan pemain yang wafat di Bali, 21 Mei 1978 tersebut dikenal sebagai pelatih yang punya kedisiplinan tinggi. Ketatnya aturan yang diterapkan Pogacnik juga pernah dirasakan oleh Maulwi saat aktif sebagai pemain.

"Para pemain harus semir sepatu sendiri. Harus bersih sepatu saat latihan. Kalau tidak, ya tidak boleh latihan," cerita Maulwi.

Metode kepelatihan Pogacnik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang lain. Namun, saat bersinggungan dengan latihan fisik, Pogacnik dikenal "kejam". Para pemain dibawa ke pantai. "Pastinya sangat berat saat berlatih di atas pasir."



"Lalu, terkait pemilihan pemain, Pogacnik punya satu syarat khusus. Dia mau pemainnya punya IQ, SQ, dan EQ, yang tinggi. Pogacnik juga memilih kapten dengan berdasarkan siapa pemain yang punya skor IQ dan EQ paling tinggi. Satu lagi, unsur sportivitas dan fairplay sangat dijunjung tinggi oleh Pogacnik. Jadi, ketika itu tidak ada pemain yang mencuri umur," sambung Maulwi.

Bob Hippy menjadi pemain yang paling menonjol di era Pogacnik. Pria yang sempat menjadi pejabat di PSSI tersebut, menurut Maulwi, punya IQ, SQ, dan EQpaling tinggi di antara pemain lainnya.

Tidak mudah bagi Pogacnik menyiapkan pasukannya. Dukungan dari federasi yang terbatas, plus minimnya lapangan latihan, menjadi hambatan bagi persiapan Timnas kala itu. Para pemain harus latihan berpindah-pindah. Terkadang di Lapangan Ikada (Monumen Nasional), atau lapangan lain yang ada di Jakarta.

"Saat itu, Gelora Bung Karno belum selesai dibangun," bebernya.

Tantangan lainnya adalah sikap para pemain yang sulit diatur. Usia muda membuat emosi mereka mudah meledak. Situasi ini tentu tidak menguntungkan mengingat Pogacnik sangat disiplin. "Kami harus bekerja keras mengubah sifat mereka. Tidak mudah untuk mengubah sifat anak muda dalam waktu singkat."

Setelah mempersiapkan diri 1 tahun 8 bulan, tim besutan Pogacnik pun bertolak ke Thailand. Pada Piala Asia U-19, 1961, Indonesia bergabung di Grup A bersama Korea Selatan, Vietnam, Singapura, dan Jepang.

Di laga perdana, Indonesia menang 2-0 atas Vietnam. Selanjutnya, Bob Hippy dan kawan-kawan mampu menahan imbang Korea Selatan dengan skor 2-2.

Di laga ketiga, Indonesia kembali menang 2-1 atas Jepang. Sedangkan di laga penutup bermain imbang 1-1 lawan Singapura. Dengan koleksi 6 poin, Indonesia tampil sebagai jawara grup dan melaju ke final melawan juara Grup B, Myanmar. Indonesia dan Myanmar tampil sebagai juara bersama usai bermain imbang 0-0.

Menurut Maulwi, ketangguhan Indonesia tidak lepas dari kecerdikan Pogacnik dalam meramu strategi. Menurut Maulwi, Pogacnik adalah pelatih yang memperkenalkan sepakbola modern ke Indonesia untuk pertama kali.

Dia sangat jeli melihat potensi pemain di Indonesia. Memiliki amunisi yang punya kecepatan, Pogacnik memilih pakem dengan formasi WM. "Basisnya itu adalah pola 4-4-2, 3-5-2, atau 3-2-5, yang penting mirip huruf W dan M. Pola ini sangat melekat dengan Indonesia dan sudah menjadi identitas," beber Maulwi.

Kerjas keras Pogacnik dan anak asuhnya mendapat bayaran setimpal saat kembali ke Indonesia. Para pemain dan pelatih mendapat sambutan hangat sampai ke sudut-sudut kota. Namun, yang paling penting adalah ketika tim junior atau senior main di luar negeri, khususnya Asia, tim lawan sangat menghormati Indonesia. "Era itu kita jadi yang terbaik di Asia," tutup Maulwi.[viva]