Thursday, October 9, 2014

Garuda Jaya Sempat Diperlakukan Layaknya "Sirkus"

Timnas U-19 vs Barcelona - IST
Seputar Timnas - Dalam satu tahun belakangan ini Timnas Indonesia U-19 menjadi primadona di hati publik sepakbola tanah air. Jika dibandingkan, antusiasme masyarakat pecinta bola terhadap tim asuhan Indra Sjafri itu terasa melebihi kecintaan publik kepada para senior mereka, baik itu terhadap Timnas U-23 maupun Timnas senior.  

Kini, euforia itu akan menempa dan menguji mental juara Timnas U-19 dan kesetiaan publik ketika Garuda Jaya berjuang di Piala AFC U-19 pada 9-23 Oktober 2014 mendatang, turnamen yang diikuti negara-negara terkuat di Asia. Sebelum menyaksikan perjuangan Evan Dimas dkk, kita lihat sekelumit perjalanan Garuda Jaya dalam persiapan mengikuti kejuaraan bergengsi di Asia tersebut. 

Pada ajang Piala AFF U-19 2013, Indonesia untuk pertama kalinya berhasil menjadi juara. Namun perjalanan timnas U-19 untuk menjadi juara bisa dibilang tidak mudah. Setelah mengalahkan Brunei Darussalam 5-0 dan Myanmar 2-1 , Indonesia memimpin klasemen sementara Grup B dan akan berhadapan dengan Vietnam di laga terakhir penyisihan grup. Sayang, Indonesia menyerah 1-2 dari Vietnam sekaligus menyerahkan pucuk klasemen kepada negara komunis itu. 

Setelah mengandaskan Timor Leste 2-0 di semifinal, Indonesia berhasil menghempaskan Vietnam 7-6 melalui adu penalti di babak final. Drama tos-tos-an benar-benar menjadi "prasasti" Garuda Jaya di Piala AFF U-19 2013. Indonesia U-19 bisa juara di level Asia Tenggara setelah Timnas Senior terakhir melakukannya di SEA Games 1991. 

Menjuarai Piala AFF U-19 membuat Indonesia mengikuti babak kualifikasi Piala Asia U-19. Di babak kualifikasi, Maldini Pali dkk bergabung di Grup G bersama dengan Korea Selatan, Filipina dan Laos. Filipina dan Laos dengan mudah ditaklukan Garuda Jaya. Laga terakhir penyisihan Grup G pada 12 Oktober 2013 itu yang menentukan, Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan. Awalnya Garuda Jaya tertinggal 0-2. Namun dengan perubahan taktik di babak kedua dan semangat pantang menyerah para pemain, tiga gol Evan Dimas membalikan keadaan. Indonesia masuk putaran final Piala Asia U-19 2014.

Sebelum menuju ke Piala Asia U-19, PSSI melalui Badan Tim Nasional (BTN) menyiapkan serangkaian uji coba. Sejak Februari hingga Maret 2014 Timnas U-19 harus melakoni sekitar 13 laga Tur Nusantara. Dari 13 pertandingan, Garuda Jaya meraih sembilan kemenangan, empat hasil imbang, dengan mencetak 20 gol dari 207 peluang. 

Dari segi kualitas, lawan-lawan dalam Tur Nusantara itu kebanyakan berada satu atau dua tingkat di bawah Garuda Jaya, sehingga tak heran jika penampilan Evan Dimas dkk begitu superior. Dalam lawatan itu banyak tim lawan yang menggunakan strategi “parkir bus”, yaitu menumpuk pemain di daerah pertahanan sendiri, sehingga membuat bek Garuda Jaya belum teruji.

Selama Tur Nusantara itu juga muncul insiden baju bola yang dipakai Timnas U-19 sepertinya tidak pernah diganti, dan bukan jersey resmi Timnas. Tak hanya itu, jeda pertandingan yang berdekatan dan pemilihan lawan yang terkesan sembarangan menimbulkan tudingan bahwa PSSI hanya menjadikan Timnas U-19 layaknya pertunjukan "sirkus" untuk mengeruk keuntungan dari siaran televisi. 

Meski dibantah, namun perlakuan PSSI kepada Garuda Jaya sempat menimbulkan kritik tajam saat itu. 

Setelah Tur Nusantara, PSSI 'menjanjikan' akan mengirim Timnas U-19 ke turnamen Cotif Cup di Spanyol yang kabarnya akan diikuti negara-negara besar seperti Spanyol dan Brasil. Namun, di tengah semangat yang tinggi menuju Cotif Cup di Spanyol tiba-tiba PSSI memutuskan untuk menurunkan Garuda Jaya di Hassanal Bolkiah Tournament 2014. 

Hasil yang didapat di turnamen itu mengejutkan. Garuda Jaya gagal melangkah ke babak selanjutnya. 

Setelah gagal mengikuti Cotif Cup, sebagai pengganti uji coba di Spanyol, PSSI mengirimkan pasukan Indra Sjafri ke negeri matador untuk menghadapi lawan yang berbeda. Mereka akan menghadapi klub-klub kuat Spanyol seperti Atletico Madrid B, Valencia B, Barcelona B, dan Ream Madrid C. Selain membenahi sistem permainan, Indra Sjafri menjadikan uji coba di Spanyol sebagai sarana memilih 23 pemain yang akan dibawanya ke Myanmar. 

Di Spanyol baru terlihat karakter sesungguhnya Garuda Jaya. Hampir semua lawan yang mereka hadapi bermain menekan pertahanan Timnas U-19. Dengan pressing yang begitu ketat dari lawan membuat skuad Garuda Jaya tidak bisa mengembangkan permainan. 

Meski tidak semua laga dalam uji coba tersebut dimenangkan, setidaknya kekuatan Timnas Indonesia U-19 semakin berkembang. 23 pemain pilihan Indra Sjafri yang dibawa ke Myanmar juga dianggap jauh lebih baik dari saat mereka menjuarai Piala AFF U-19 2013. Optimisme pun sudah tinggi. Kini tinggal tergantung pemain di lapangan juga doa masyarakat Indonesia.   

Laga perdana Timnas Indonesia U-19 di laga perdana Grup B Piala Asia U-19 melawan Uzbekistan akan dilaksanakan d Yangon pada 10 Oktober. Dua hari setelahnya, Hansamu Yama dkk akan menghadapi the Young Socceroos, Australia di tempat yang sama. Dua hari berikutnya pada 14 Oktober, Indonesia akan menjalani laga pamungkas grup menghadapi Uni Emirat Arab di ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw.[okezone]