Wednesday, October 15, 2014

Evan Dimas Dkk Sebaiknya Jangan ke Main di ISL

Evan Dimnas (tengah/kaus putih). (Foto: Reuters/Andika Wahyu)
Seputar Timnas - Seperti layaknya pemain sepakbola profesional, berkarier di klub menjadi pilihan utama untuk mengembangkan kemampuan, menambah pengalaman dan menambah pundi-pundi uang. Jeli memilih liga dan klub sebagai tempat bermain akan sangat menentukan perjalanan karier dan catatan prestasi seorang pemain di masa depan. Itu yang mesti diperhatikan oleh para pemain Timnas U-19.

Pemain Garuda Jaya bisa dibilang memiliki kemampuan bermain bola yang cukup bagus, bahkan jika dibandingkan dengan pesepakbola nasional yang lebih senior. Ilham Udin dkk memiliki ketenangan, kecepatan, agresivitas, kolektivitas dan skill individu yang di atas rata-rata. Itu bisa dilihat saat mereka juara Piala AFF U-19 dan lolos kualifikasi Pra Piala Asia U-19 pada 2013 lalu. Ketika itu mereka bermain atraktif dan menyerang sehingga menjadi idola baru di tanah air.

Memang ada kecenderungan penurunan grafik permainan dari pasukan Indra Sjafri selama 2014. Banyak faktor yang membuat permainan Timnas U-19 tidak lagi begitu efektif dan cepat. Kejenuhan mengikuti pelatnas, pemilihan lawan uji coba yang kualitasnya tidak rata atau tidak mengikuti liga yang profesional dan kompetitif bisa menjadi penyebabnya.

Evan Dimas dkk tidak mungkin selamanya bermain untuk Timnas U-19. Mereka akan melaju ke level yang lebih tinggi, misal Timnas U-23 dan Timnas Senior. Di saat yang bersamaan para pemain Garuda Jaya juga akan menjalani fase karier profesionalnya di tingkat klub. Lalu klub mana yang akan mereka pilih sebagai pelabuhan berkarier?

Jika mau dekat dengan keluarga, tetap dikenal pecinta bola nasional dan (mungkin) mendapatkan uang banyak, maka klub-klub peserta Liga Super Indonesia (LSI) atau kerap disebut ISL (Indonesia Super League) bisa menjadi pilihannya. LSI sebenarnya adalah liga terbesar di Asia Tenggara, jika melihat jumlah klub pesertanya yang mencapai 22 tim, jumlah penonton dan luas wilayah. 

LSI juga menjadi magnet bagi pemain-pemain sepakbola internasional yang statusnya di level D ke bawah, atau yang kualitasnya biasa-biasa saja. Banyak pemain semenjana dari Afrika, Amerika Selatan atau Eropa Timur (rata-rata dari pecahan Uni Soviet) memilih bermain di LSI karena bisa mendapat gaji besar tapi dengan biaya hidup yang murah.

Meski masih sering muncul kasus klub menunggak pembayaran gaji para pemain asingnya. Bahkan kini pemain-pemain dari Jepang atau Korea Selatan juga merumput di LSI. Gaji besar dan biaya hidup murah sepertinya menjadi faktor penentu beberapa pemain dari Asia Timur merumput di Indonesia.

Tapi sayangnya, kualitas LSI masih jauh dari standar dunia, bahkan Asia. Bisa dibilang kualitas dan sportivitas LSI masih di bawah liga profesional di Korea Selatan, Jepang, China, Australia, bahkan Malaysia. Masih banyak kasus pemain mengintimidasi dan memukul wasit, atau kepemimpinan wasit yang berat sebelah sampai adanya kecurigaan dugaan penyuapan dan pengaturan skor.

Belum termasuk rendahnya kualitas para pelatih dan jenis latihan yang diberikan kepada para pemain, minimnya sarana yang modern, tidak jelasnya pemanfaatan sports science untuk mengembangkan permainan, ketercukupan gizi yang dikonsumsi sampai gaya hidup pemain yang tidak mencerminkan sebagai atlet profesional menjadi masalah laten di LSI.

Itu semua menjadi kekhawatiran jika para pemain Timnas U-19 memilih bermain di LSI. Mental, karakter dan kemampuan mereka ditakutkan akan terdegradasi. Jangan sampai skill yang bagus dan sikap yang dewasa selama membela Timnas U-19 malah terkontaminasi karena sudah bermain semusim atau dua musim di LSI.

Budaya klub dan liga tentunya ikut menentukan bagaimana perjalanan karier seorang pemain, termasuk kualitas Timnas suatu negara. Lihat saja ketika Jerman mulai merevolusi manajemen, gaya bermain klub-klubnya sampai kemampuan meracik taktik para pelatihnya yang dimulai usai gagal total di Euro 2000 lalu. Selang 14 tahun kemudian, Jerman menjadi juara dunia dan stok pemain bagusnya terus berlimpah.

Ada baiknya Evan Dimas dkk mencoba peruntungan kariernya di luar negeri. Liga profesional di Malaysia atau Australia bisa menjadi pilihan. Selain kualitas klub dan liganya jauh di atas LSI, jarak dua negara itu dari tanah air juga tidak terlalu jauh. 

Di sana para pilar Garuda Jaya bisa belajar permainan dan manajemen sepakbola yang modern, gaya hidup yang lebiih disiplin dan teratur serta menempa mental agar lebih mandiri dan dewasa. Kelemahannya main di luar negeri ialah peluang untuk dilirik pelatih Timnas akan semakin kecil. Karena biasanya para pelatih Timnas lebih suka memanggil pemain yang berlaga di LSI.

Kini yang menjadi pertanyaan adalah, apakah klub di Malaysia atau Australia mau memakai jasa Evan Dimas dkk? Atau apakah Maldini Pali dkk sudah sesuai standar klub-klub di Malaysia atau Australia?[okezone]