Wednesday, August 20, 2014

Program Instan PSSI Buat Timnas Usia Muda Tersandung

Indra Sjafri dan Timnas U-19 - IST
Seputar Timnas - Republik Indonesia yang berulang tahun ke-69 pada, Minggu (17/8) lalu, harus menerima kado pahit dari dua timnas Indonesia usia muda yang babak belur dalam dua kompetisi berbeda. Pertama, Indonesia U-21 harus menerima kenyataan bahwa mereka belum siap untuk mengikuti turnamen COTIF di Valencia, Spanyol, 10-20 Agustus 2014.

Kedua, masyarakat pecinta sepakbola nasional harus menelan kekecewaan lantaran Indonesia U-19 yang dalam setahun terakhir selalu dibanggakan mencatat hasil buruk di turnamen Hassanal Bolkiah Trophy 2014, Brunei Darussalam.

Berawal dari pengiriman kedua tim sebenarnya sudah cukup mengherankan. Pasalnya, PSSI sebelumnya ingin mengirimkan Indonesia U-19 untuk ke COTIF. Tapi, di menit-menit akhir mereka justru mengalihkan skuat asuhan Indra Sjafri itu ke HBT 2014.

Berdasarkan alasan yang dipaparkan Sekjen PSSI, Joko Driyono, usai rapat Exco PSSI di hotel Sultan, Jakarta, 23 Juli lalu, salah satu unsur yang membuat PSSI menerima ajakan Brunei tak lepas dari unsur politik hubungan antarnegara Asia Tenggara. Karena permintaan yang begitu derasnya dari negara sahabat, AFF, AFC, hingga KBRI di Brunei, membuat PSSI yang tadinya enggan mengirimkan tim akhirnya luluh juga.

Di samping ada alasan teknis yang dipaparkan oleh Indra Sjafri sendiri, mengenai manfaat Indonesia U-19 ke HBT. Imbasnya, PSSI membuat timnas usia muda dadakan berlabel Indonesia U-21 untuk menggantikan peran Indonesia U-19 di COTIF.

Para pemain dari Indonesia U-21 pun mayoritas dipilih dari tim juara Indonesia Super League (ISL) U-21 musim lalu, yakni Sriwijaya FC U-21. Tapi, apa mau dikata 12 pemain yang dipilih dari SFC U-21 mayoritas merupakan penghuni bangku cadangan di timnya. Mengingat, usia para pemain inti di skuat Laskar Wong Kito Muda sudah melewati batas maksimal kelahiran yang ditetapkan penyelenggara turnamen COTIF.

Skuat itu ditambal sulam dengan dua pemain dari Persib Bandung U-21, dua pemain Brisbane Roar Muda, dan tiga pemain yang tidak terpakai dari Indonesia U-19 untuk HBT. Belum lagi, sebelum keberangkatan satu pemain Mariando Djonak Uropmabin terpaksa harus kembali dipulangkan lantaran sakit.

Lengkap sudah persiapan ala kadarnya dari skuat yang dilatih Rudy William Keeltjes itu sebelum terbang ke Spanyol. Mengingat, mereka hanya berlatih sekitar enam hari sebelum terjun langsung di turnamen yang cukup bergengsi itu. Bahkan, di tengah rasa optimistisnya, dari kata-kata Rudy juga terselip nada realistis akan kemampuan yang bisa dilakukan oleh timnya di COTIF.

Hasilnya, mudah ditebak. Mereka takluk 4-0 dari Mauritania U-20 di laga perdana. Kemudian, di laga selanjutnya Rudolof Yanto Basna dan kawan-kawan juga menderita kekalahan, namun dengan jumlah gol kemasukkan semakin menyusut saat ditumbangkan Levante UD (2-0), Argentina U-20 (1-0), dan Barcelona U-18 (1-0). 

Bisa dibilang, tidak menjadi lumbung gol pun sudah cukup baik untuk tim yang dibentuk hanya dalam sepekan. Dan, ekspektasi terhadap tim ini juga tidak terlalu tinggi.

Bandingkan dengan torehan Indonesia U-19 yang sudah dipersiapkan sekitar satu tahun di turnamen HBT 2014. Ya, hasil yang diraih oleh Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan pada ajang itu jauh di bawah ekspektasi yang diharapkan seluruh pecinta sepakbola nasional.

Cukup meyakinkan saat bermain imbang tanpa gol melawan Malaysia U-21 di laga perdana, mereka justru dibuat babak belur oleh Brunei Darussalam U-21 (3-1), Vietnam U-19 (3-1), dan Kamboja U-21 (2-1). Indonesia U-19 hanya lebih baik dari Singapura U-21 yang mereka bantai 6-0 di laga terakhir.

Boleh saja berkelit turnamen itu hanya sekadar untuk uji coba Indonesia U-19. Tapi, melihat permainan yang ditampilkan, membuat kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat pecinta sepakbola nasional apakah tim ini bisa mencapai target pada Piala Asia U-19 2014 di Myanmar, Oktober nanti?

Maklum, target yang dibebankan kepada tim Garuda Jaya cukup tinggi, yaitu minimal menembus empat besar Piala Asia U-19 2014. Sehingga otomatis mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.

Hasil ini ternyata membuat PSSI cukup panik. Mereka langsung membuat tim panelis untuk mengevaluasi Indra Sjafri. Oke, kalau memang pembentukan panelis itu hanya untuk sekadar evaluasi dalam memberikan masukkan serta kritikan guna memperbaiki penampilan Indonesia U-19 di ajang sesungguhnya Piala Asia U-19 nanti. Tapi, jangan sampai juga forum tersebut hanya mengkambing hitamkan seorang Indra Sjafri. 

PSSI seharusnya juga sudah mulai berpikir lagi, bahwa ada sistem yang salah dalam pembentukan timnas usia muda. Memang, wacana pembentukan timnas usia muda mulai dari U-14 hingga U-23 telah dicanangkan oleh PSSI sejak jauh-jauh hari. Tapi, sejauh ini program yang dibuat masih sebatas pelatnas jangka pendek dengan pencarian pemain secara instan.

Padahal, dalam sistem yang baik, seharusnya PSSI juga membentuk kompetisi yang rutin dan berjenjang untuk kelompok umur. Toh, mental pemain yang baik juga hanya bisa terbentuk pada sebuah kompetisi yang baik. Itu pun tak bisa didapatkan hanya dalam satu atau dua tahun kompetisi saja. Jadi, pelatih juga bisa memantau bakat-bakat yang ada sesuai dengan data-data yang ada di kompetisi usia muda resmi PSSI, yang berjangka panjang secara rutin. Hal ini pula yang sempat dikeluhkan oleh seorang Indra Sjafri maupun pelatih Indonesia U-23, Aji Santoso.

Sejauh ini, hanya pihak-pihak swasta yang rajin memutar roda kompetisi untuk level U-12, U-13, U-14, hingga U-16. Tapi, cakupan yang diputar pihak swasta mayoritas masih sebatas di Jabodetabek atau pulau Jawa saja. Padahal, bakat-bakat terpendam terkadang ada di pelosok-pelosok daerah yang sulit dijangkau. Dengan kata lain, PSSI harus membuat kompetisi berjenjang secara merata di wilayah Indonesia.

Dari segi biaya, untuk menggulirkan kompetisi usia muda di semua level yang formatnya setengah kompetisi, rasanya dana yang dikeluarkan tidak sebesar kompetisi ISL maupun Divisi Utama dalam satu musim. Terlebih, jika PSSI sudah mendapatkan sponsor untuk kegiatan tersebut. Untuk saat ini, PSSI tampaknya tidak akan kesulitan lagi untuk mencari sponsor guna menopang program tersebut. 

Ada sedikit angin segar, PSSI bakal menghidupkan kembali Piala Suratin U-18 yang sudah beberapa tahun terakhir vakum, pada akhir Agustus ini. Di samping itu, pelatih Indonesia U-14 dan U-17, Fakhri Husaini, sudah mulai melakukan pencarian pemain di berbagai daerah untuk kerangka timnya. 

Tapi, masih perlu pembuktian apakah program Piala Suratin U-18 kali ini bisa menjadi salah satu ladang pencarian pemain berbakat dengan sistem yang sudah tertata rapi. Atau hanya sekadar ada dulu di tahun pertama, baru kemudian dirapikan sistemnya di tahun-tahun berikutnya.

Selain itu, PSSI juga harus lebih banyak melihat dan mencontoh perkembangan pembinaan sepakbola usia muda di negara lain seperti Jepang, Spanyol, atau Jerman. Bahkan, jika perlu dan tak perlu malu kita juga harus melihat pembinaan usia muda di negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, Myanmar, atau Timor Leste, yang sudah mulai menunjukkan taringnya di level U-14 dan U-16.

Intinya, timnas usia muda yang kuat tidak bisa dibentuk secara instan. Karena yang namanya instan itu, ibarat mie mudah dibuat dan mudah pula dihabiskan. Cukup hanya Indonesia U-21 yang menjadi timnas usia muda instan di Indonesia, dan jangan sampai terulang lagi. Jayalah sepakbola Indonesia!.[goal]