Saturday, July 26, 2014

PSSI, Apa Salah Timnas U-19?

La Nyalla bersama Timnas U-19 - IST
Seputar Timnas - Kabar yang datang pada Kamis (24/7) siang kemarin ibarat petir di siang bolong bagi Timnas U-19. Bagaimana tidak? PSSI tiba-tiba membatalkan rencana tur Evan Dimas dkk ke  Spanyol, salah satu dari program jangka panjang Indra Sjafri dan tim pelatih skuat Garuda Jaya.

Sebagai gantinya, PSSI memilih mengirimkan Timnas U-19 ke turnamen Hassanal Bolkiah Trophy (HBT) di Brunei Darussalam. Adapun tur Spanyol tetap dilaksanakan namun yang akan menjadi wakil Indonesia adalah Timnas U-21 pimpinan Ruddy Keltjes.

PSSI beralasan, turnamen di Brunei akan lebih bermanfaat bagi Timnas U-19. Sesuai cara berpikir 'orang-orang pintar' di tubuh komite eksekutif PSSI, keberadaan sejumlah tim ASEAN seperti Myanmar, Vietnam, dan Thailand pada turnamen itu akan lebih menguntungkan baik secara teknis maupun non teknis untuk skuat Indra Sjafri. 

Padahal, sejatinya Timnas U-19 akan menghadapi tim-tim kuat Spanyol pada turnamen COTIF yang digelar di Valencia, sebut saja tim junior Barcelona, tim junior Valencia, serta Timnas U-20 dari Brasil, Argentina, Ekuador, dan Cina.

Keputusan PSSI yang menyiratkan lawan-lawan tersebut tidak menguntungkan untuk Timnas U-19 tentu layak dipertanyakan. Secara kasat mata saja, kekuatan tim-tim yang berlaga di Spanyol nanti jauh lebih mumpuni ketimbang lawan-lawan yang akan ditemui Evan Dimas dkk di Brunei. 

Apalagi berhadapan dengan tim-tim seperti Myanmar, Vietnam, dan Thailand sudah pernah dirasakan skuat Indra Sjafri baik di ajang Piala AFF maupun di laga uji coba sebelumnya.

PSSI bisa dibilang sudah secara sengaja mengubur kesempatan Timnas U-19 untuk menimba ilmu di Spanyol. Tidak cukup menyakitkan, bahkan PSSI kemudian menggantikan mereka dengan Timnas U-21 yang notabene belum memiki prestasi apapun. Perlakuan tersebut benar-benar di luar akal sehat.

Padahal bila menilik ke belakang, usai Timnas U-19 menjuarai Piala AFF U-19 dan lolos ke kualifikasi Piala Asia Oktober 2013 lalu, saat itu PSSI lewat Badan Tim Nasional (BTN) berjanji akan memberi kepercayaan penuh kepada Indra Sjafri untuk menyusun program jangka panjang untuk anak-anak asuhnya. Target yang ingin dicapai jelas, yakni lolos ke putaran final Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru.

Akan tetapi yang kini dilakukan PSSI justru seperti menjilat ludah sendiri. Tur Eropa, tur Timnas U-19 yang telah dinanti-nanti masyarakat pecinta sepak bola di tanah air, malah diberikan kepada 'timnas' yang lain. PSSI secara terang-terangan telah mengintervensi program jangka panjang yang telah dibuat Indra Sjafri dan tim pelatih Timnas U-19.

Apa salah Timnas U-19? Bahkan Timnas U-23 yang hanya mencapai final SEA Games yang lalu saja bisa melakoni tur ke Italia melawan tim-tim kuat di sana. Apakah prestasi merengkuh gelar pertama dalam 22 tahun dianggap kurang membanggakan? Apakah prestasi lolos ke Piala Asia, yang tak bisa dicapai tim-tim usia muda sebelumnya, dianggap keberuntungan semata?

Apa salah Timnas U-19? Saat Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti, melarang Evan Dimas dkk menjadi bintang iklan di televisi, para pemain belia itu mematuhinya. Saat sang ketua BTN itu juga melarang Indra Sjafri menghadiri acara-acara di luar urusan Timnas U-19, ia dan staf-stafnya pun menyanggupinya. 

Kini, di saat Timnas U-19 ingin menunaikan 'kewajibannya' malah kesempatan emas tersebut diberikan kepada tim antah-berantah yang terkesan diada-adakan. Apalagi ini namanya kalau bukan air susu dibalas dengan air tuba?

Apalagi beredar kabar yang menyatakan bahwa ongkos pertandingan-pertandingan yang dilakoni Timnas U-19 selama tur nusantara jilid dua belum sampai ke kantong para pemain dan pelatih. Wallahualam. Akan tetapi jika hal itu benar, maka apa lagi istilah yang pantas disematkan ke PSSI kalau bukan sebuah kezaliman.

Semoga saja PSSI segera bertaubat dan mengevaluasi dirinya sendiri, untuk yang kesekian kali. Karena jika timnas yang saat ini sedang mereka zalimi ini sampai lolos ke Piala Dunia U-20, maka sama seperti kejadian pascafinal Piala AFF 2013, publik akan kembali mengatakan: 'Itu Bukan Jasa PSSI'.[republika]