Saturday, June 14, 2014

Tragis...Mantan Pemain Timnas Era 1980-an Kini Jadi Tukang Ojek

Abdul Khamid (Kaos Putih) - Okezone
Seputar Timnas - Tak selamanya nasib baik menaungi Abdul Khamid (51), mantan pemain tim nasional sepakbola era 1980-an. Sinar kehidupannya mulai meredup seiring usia yang tak lagi muda. Di masa tuanya kini dia harus berjuang menghidupi keluarga.

Profesi tukang ojek kini menjadi pilihan Abdul Khamid untuk bertahan hidup di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Tiap pagi dan siang dia harus mengendarai sepeda motor bututnya dari rumahnya di Desa Oro-Oro Wetan, Kecamatan Rembang, menuju sekolah untuk menjemput siswa SD yang menjadi langganan antar jemput.

Mantan mantan stoper  timnas di era tahun 80- an ini setelah gantung sepatu memang tak mempunyai pekerjaan tetap. Lantaran hanya memiliki ijazah SMP dia tak bisa meneruskan jenjang karirnya menjadi pelatih sepakbola. Alhasil menjadi tukang ojek menjadi pilihannya.

Dengan penghasilan tak lebih dari Rp350 ribu per bulan, Abdul Khamid harus berjuang menghidupi  istri dan tiga anaknya di rumah kontrakan.

Meski ekonominya pas-pasan, Khamid menerima nasibnya yang tak moncer dibanding dengan teman satu angkatannya bermain bola dulu. Seperti Rahmad Darmawan, Marjuki Nyakmat, Heri Kiswanto, Hermansyah, Roby Darwis, Andi Lala, dan Fandi Ahmad. Untuk menghibur dirinya bila  ada pertandingan sepakbola Khamid nyaris tak pernah absen menonton di Stadion R Sudarsono di Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil. Di sana hampir setiap pemain dan penonton di stadion mengenali sosok veteran pemain PSSI ini.

Maklum, prestasinya  di dunia sepak bola cukup lumayan. Seperti pada tahun 1980-1985 dia bergabung di Timnas Garuda 1 PSSI. Bahkan saat itu ia dipercaya pelatih PSSI bermain melawan Australia, Jepang, Korea, Singapura, dan  Malaysia. Kenangan  yang tak bisa dilupakan saat bertandang di Saudi Arabia, Khamid mampu mencetak 1 gol sehingga timnya memenangkan pertandingan.

Jasa Khamid sempat dipakai Niac Mitra selama 7 tahun dan sempat mengantarkan klubnya sebagai juara  selama 3 kali dalam galatama saat itu. Dia lantas dikontrak Persiba Balikpapan dan Pesebaya Surabaya dalam perserikatan selama 5 tahunan  hingga akhirnya gantung sepatu dan menganggur.

“Salah satu kendala saya hanya  memiliki ijazah SMP. Karena terlena main bola dan tak mempunyai sertifikat kepelatihan sekolah sepak bola,” ujar Khamid.

Kondisi perekonomian Abdul Khamid membuat mantan pengurus  PSSI, Abu Bakar Assegaf, mengelus dada. Saat jaya-jayanya dia mengharumkan nama bangsa, namun kini pekerjaan hanya sebagai tukang ojek.[Okezone]