Friday, March 14, 2014

IPW Desak Polda Sulsel Tangkap La Nyalla Mattalitti

La Nyalaa - IST
Seputar Timnas - Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mendesak Polda Sulawesi Selatan untuk segera menahan La Nyalla Mattalitti. Pasalnya, Wakil Ketua Umum PSSI bersama enam pengawalnya itu diketahui telah melakukan penganiayaan terhadap pemilik klub Makassar United, Ryan Latief, di Hotel Clarion, Makassar, siang (14/3) tadi.

Dikutip dari Sindonews, Jumat (14/3), IPW menjelaskan kronologi kejadiannya tersebut. Aksi penganiayaan ini bermula sesaat menjelang pemeriksaan La Nyalla oleh Polda Sulselbar. Pria berusia 54 tahun itu datang ke Makassar untuk memenuhi panggilan Polda atas laporan Ryan Latief dan Ketua Pengrov PSSI Sulsel, Kadir Halid. 

Laporan Nomor NLPB/138/III/2014 tanggal 1 Maret 2014 itu tentang pengancaman dan teror terhadap Ryan maupun Kadir, belum juga diperiksa oleh Polda Sulsel. Ryan yang saat itu berada di Hotel Clarion, hari ini, tak sengaja bertemu dengan La Nyalla. Ryan lalu dipegang dari belakang dan dipaksa duduk. 

Berdasarkan pengakuan Ryan, dia sempat ditampar dari belakang beberapa kali, hingga menimbulkan memar di sekitar mata dan kepalanya. Bahkan kacamata yang dikenakan pun pecah. Akibat penganiayaan itu Ryan langsung melaporkan kasus ini ke Polda dengan Nomor LPB/142/III/2014 tanggal 14 Maret 2013.

"IPW mengecam cara-cara kekerasan yang dilakukan La Nyalla terhadap Ryan. Untuk itu, IPW mendesak Polda Sulsel segera menangkap dan menahan La Nyalla," demikian pernyataan resmi IPW. 

Neta menambahkan, ada tiga alasan mengapa Polda harus segera menahan La Nyalla. Pertama, tindakan penganiayaan itu masuk dalam tindak pidana. Kedua, tempat asal dia berada jauh, sehingga akan menyulitkan proses ini. Dan ketiga, aksi kekerasan itu telah menimbulkan keresahan bagi warga Makassar. 

"Ada tiga alasan, kenapa Polda harus segera menahan La Nyalla. Pertama, penganiayaan yang dilakukannya adalah tindakan pidana yang ancaman hukumnya di atas lima tahun penjara. Kedua, La Nyalla adalah warga Surabaya. Jika La Nyalla tidak segera ditahan, maka Polda Sulsel akan kesulitan memproses kasus penganiayaan ini. Bukan mustahil La Nyalla juga mempersulit proses penyidikan maupun pemeriksaan, mengingat tempat tinggalnya berada di Surabaya," bunyi pernyataan tersebut.

"Ketiga, aksi penganiayaan yang dilakukan La Nyalla telah menimbulkan keresahan warga di Makasar, terbukti dari siang hingga malam ratusan warga Makassar telah mengepung Hotel Clarion tempat La Nyalla menginap."

IPW mendesak Polda Sulsel menangani kasus penganiayaan ini dengan tuntas. Tujuannya agar ada efek jera, sehingga para tokoh masyarakat akan berpikir dua kali untuk mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan sebuah masalah. Cara-cara premanisme seperti ini harus segera disingkirkan.[SINDO]