Saturday, March 22, 2014

Firman Utina: Saya Tak Mau Dicap Sebagai Pemain Tua

Firman Utina - IST
Seputar Timnas - Usia yang sudah mencapai 32 tahun tidak membuat Firman Utina kehilangan tempat di Timnas Indonesia. Sebaliknya, pemain Persib Bandung itu kembali dipanggil Alfred Riedl untuk memperkuat Indonesia pada Piala AFF 2014.

Sejauh ini, Riedl memang belum menentukan siapa saja pemain yang mewakili Indonesia di turnamen se-Asia Tenggara itu. Namun, pemanggilan Firman untuk mengikuti pemusatan latihan setidaknya menjadi sinyal kalau sinar pemain kelahiran Manado, Sulawesi, 15 Desember 1981 tersebut belum redup.

Firman telah memperkuat timnas Indonesia sejak 2001. Hingga saat ini, mantan pemain Persita Tangerang itu telah mengantongi 54 caps dan mengoleksi 5 gol. Sayangnya, belum ada trofi bergengsi yang dipersembahkannya bagi Merah Putih.

Menjadi pemain bola adalah cita-cita Firman sejak kecil. Dia mengawali karirnya dengan menimba ilmu di SSB Indonesia Muda Manado FC dan Bina Taruna Manado FC. Pada 1998-1999 dia memperkuat tim junior Persma Manado.

Pada 1999 dia mampu promosi ke tim utama Persma. Di bawah arahan pelatih kawakan Benny Dolo, kemampuan Firman pun terus berkembang.

Pada 2001, Firman ikut Bendol pindah ke Persita Tangerang. Sejak saat itulah nama Firman mencuat sampai akhirnya menjadi langganan di timnas Indonesia.

Musim ini, Firman memperkuat Persib Bandung. Meski kerap berganti-ganti posisi mengikuti eksperimen pelatih Djadjang Nurdjaman, gelandang serang bertinggi 165 cm itu tetap menjadi sosok yang vital bagi Maung Bandung. 

Di putaran 1 Liga Super Indonesia (ISL), Firman sudah tampil selama 338 menit. Tiga kali tampil sebagai starter dan dua laga lainnya sebagai cadangan.

Bagaimana Firman menjaga karirnya dan apa targetnya bersama timnas Indonesia? Berikut petikan wawancara yang kami kutip dari Vivanews :

Apa rahasia Anda bisa tetap tampil secara konsisten hingga memasuki usia sekarang?
Sebenarnya tidak ada resep khusus. Saya hanya menjalankan latihan yang sama dengan pemain-pemain lain.

Anda sempat dilanda cedera di lutut kanan yang cukup parah. Dan ketika sembuh, bisa tetap menampilkan permainan gemilang. Apa yang membuat Anda bisa seperti itu?
Memang, cedera adalah risiko terbesar yang dihadapi seorang pesepakbola. Disiplin adalah kuncinya. Sebagai seorang pesepakbola harus tahu waktu dan seperti apa yang harus dilakukan saat kondisi-kondisi tertentu.

Ikuti instruksi yang diberikan oleh pelatih, tim medis, dan mereka yang berhubungan dengan hal tersebut. Selain itu, jangan menyerah dengan keadaan. Saat sudah bisa berlatih tunjukkan yang terbaik.

Banyak orang bilang, semakin tua pemain sepakbola permainannya akan menurun. Saya hanya ingin menampilkan permainan yang terbaik. Saya tidak mau dicap sebagai pemain tua yang main bola dengan malas-malasan. 

Saya tetap ingin berjuang di atas lapangan. Apa pun instruksi pelatih saya akan ikuti.

Pelatih Alfred Riedl kembali memanggil Anda ke timnas senior. Ini menunjukkan kalau performa Anda masih berada dalam level teratas. Tanggapannya?

Jujur, saya kaget bisa dipanggil lagi ke Timnas. Saya sangat was-was saat melihat perkembangan pemain lain di seluruh klub sangat merata. Pemain-pemain muda yang muncul punya potensi yang sangat bagus.

Apakah Ada perbedaan saat Riedl menangani timnas di Piala AFF 2010 lalu dan sekarang?
Saya rasa tidak ada perbedaan. Hanya mungkin, ada sebuah pola permainan baru yang diusungnya. Kalau masalah kedisiplinan, nilai-nilai kepelatihan, serta aturan yang diterapkan tetap sama. Dia mau pemain teratur.

Riedl saat ini sedang memantau perkembangan pola permainan Timnas. Saat melawan Arab Saudi di laga terakhir kualifikasi Piala Asia, 5 Maret 2014, dia memang menginstruksikan pemainnya untuk bertahan.

Di situ, Riedl ingin memantau sistem pertahanan Timnas. Nah, saya menangkap dia ingin membenahi apa yang kurang dari Timnas secara bertahap.

Sekarang Anda menjadi salah satu pemain senior di Timnas. Banyak pemain muda yang bermunculan masuk ke skuad Timnas. Adakah beban tersendiri di pundak Anda?
Lupakanlah senioritas. Jika sudah masuk ke Timnas semua pemain sama saja, tidak ada senior atau junior. Saya tidak bisa membimbing para pemain muda dengan mengingatkan mereka secara individu. Pada dasarnya pemain-pemain di Timnas sudah harus bersikap dewasa.

Itu sebenarnya kunci utama jika ingin bersaing di dalam Timnas. Jangan bersikap seenaknya. Harus bisa menunjukkan rasa hormat, disiplin, serta bisa mengatur diri sendiri.

Yang masuk ke Timnas harus memiliki kesadaran dari dalam diri sendiri. Jangan hadir karena dorongan dari orang lain. Itu dulu yang ditanamkan, mereka masuk ke Timnas karena panggilan hati.

Terkait pemain muda, apa pendapat Anda tentang mereka?
Kualitas pemain-pemain muda saat ini sangat baik. Merata dan punya potensi untuk bisa menggeser pemain-pemain yang sudah malang melintang di Timnas.

Lihat saja Timnas U-19, mereka adalah pondasi dari Timnas di masa depan. Sekarang, di Timnas, saya bisa katakan persaingannya sangat ketat.

Saat mengetahui Anda kembali diberi kesempatan untuk masuk ke Timnas apa motivasi utama yang dibawa?

Saya punya rasa penasaran yang tinggi. Kalau di klub, saya sudah meraih beberapa gelar juara. Bersama Arema Malang menjuarai Copa Indonesia di 2005 dan 2006. Lalu, gelar ISL diraih pada 2011/12 bersama Sriwijaya. Masih banyak lagi.

Tapi, apa yang saya raih untuk Timnas? Belum ada. Waktu itu hanya juara di Indonesia Independence Cup 2008. Belum cukup menurut saya.

Di Piala AFF 2010, saya sangat kecewa dan sakit hati karena gagal membawa Indonesia juara. Kini, ada kesempatan emas untuk kembali membela Timnas akan saya manfaatkan. Saya memang rindu berkostum Timnas.

Terkait Piala AFF 2014, apa pandangan Anda tentang kekuatan di Asia Tenggara saat ini?
Saingan Indonesia sebenarnya masih berkutat di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Tapi, belakangan bermunculan banyak kuda hitam. Contohnya adalah Filipina. Pastinya, kami harus lebih waspada lagi. Kekuatan Asia Tenggara lebih merata.

Selama 14 tahun meniti karir di sepakbola, adakah momen paling berkesan dalam hidup Anda? Dan siapa orang paling berjasa dalam karir Anda?

Sepakbola adalah hidup saya. Banyak kenangan yang memang tidak bisa saya jabarkan satu per satu.

Saya ini lahir dari sepakbola kampung. Keluarga saya tidak punya banyak uang. Tapi, orangtua saya sangat mendukung karir sepakbola yang saya geluti. Saya sangat bersyukur memiliki mereka.

Pelatih-pelatih di SSB saya sewaktu kecil juga sangat berjasa. Yang saya ingat adalah ketika Om Benny Dolo melatih saya di Persma Manado, lalu membawa saya ke Jakarta. Akhirnya saya gabung ke Persita, selanjutnya di situlah karir saya mulai berkembang.

Ketika itu, pikiran untuk meniti karir di luar Manado memang tercetus dari dalam diri karena tidak ingin membebani orangtua. Dan akhirnya saya bisa seperti sekarang ini.

Selain dia, masih ada senior seperti Widodo Cahyono Putro, Kurniawan Dwi Julianto, dan Bambang Pamungkas yang selalu memberikan saya dukungan. Saya sangat berterima kasih kepada mereka.

Bagaimana peluang Persib Bandung meraih gelar juara ISL 2014?
Jangan bicarakan itu dulu. Lolos ke 8 besar adalah target awal. Sekarang itu dulu saja fokusnya.

Kalau sudah lolos, baru kita bicarakan hal yang lebih jauh. Target juara memang sudah pasti setiap tim mengidamkannya, tapi sekarang kami harus membuktikannya di atas lapangan.

Rencana pensiun?
Saya cinta sepakbola. Saya masih ingin berkarir dalam beberapa waktu ke depan. Belum tahu kapan akan pensiun.[viva]