Sunday, February 16, 2014

PSSI Sesalkan Insiden Asap Saat Laga Timnas U-19 vs PSIS

Foto: Antara
Seputar Timnas  - Laga uji coba PSIS Semarang versus Tim nasional U-19 yang berakhir 1-1 tadi malam, sempat dihentikan karena aksi pelemparan kembang api berasap. Persatuan Sepabola Seluruh Indonesia (PSSI) mengecam tindakan penonton yang tak dewasa itu.

"Itu sangat kita sesalkan. PSSI punya catatan buruk atas kejadian tadi malam," kata Ketua PSSI Djohar Arifin kepada wartawan usai melantik Pengurus Asosiasi PSSI Aceh di GOR Komplek Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh, Sabtu (15/2/2014).

Pertandingan yang dihelat di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) malam tadi sempat dua kali dihentikan wasit karena aksi ceroboh suporter yang membakar dan melempar flare dari atas tribun. 

Aksi ini bukan hanya mengganggu laga tapi juga cukup membahayakan pemain. Djohar menilai kalau insiden ini bukan hanya bisa mencoreng nama PSIS Semarang tapi juga sepakbola Indonesia.

Djohar mengakui kalau aksi seperti ini sudah berulang kali terjadi di sepakbola Indonesia. PSSI sendiri sudah beberapa kali dihukum akibat ulah konyol para suporter. "Kita sudah capek dihukum. Beberapa pertandingan kita tidak boleh ada penonton. Itu sangat memalukan, sangat tidak bagus," ujarnya.

Dia mengimbau suporter di Indonesia agar tak lagi mengulangi kesalahan yang sama, karena sekarang ini setiap pertandingan sepakbola yang mendapat rekomendasi PSSI di Indonesia ditonton bukan hanya tingkat nasional tapi juga internasional. 

"Jadi tidak bagus memperjelek situasi. Kita harap kejadian seperti ini tidak terulang. Kalau mau main kembang api pergilah ke tempat lain, jangan di stadion," tukas Djohar.

Menurutnya, Indonesia dalam beberapa tahun ini sudah menjadi perhatian dunia. Banyak tim-tim elite Eropa yang sudah dan akan menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan tour-nya. Harusnya prestasi positif yang sudah diraih ini, dapat dijaga bersama.

Djohar berharap media bersama pengurus Asosiasi PSSI di daerah terus mencerdaskan dan membina para suporter, agar tetap tertib dan dewasa dalam mendukung tim kesayangannya bermain.

Kedewasaan dan ketertiban dalam menonton sepakbola, dinilai harus dimulai dari kesadaran suporter sendiri. Karena tidak mungkin pihak keamanan harus memeriksa intensif satu-satu dan merogoh kantong penonton yang masuk ke stadion untuk mencegah lolosnya petasan atau barang terlarang lainnya.

"Barang kali kita bisa mencontoh yang terjadi di Papua. Papua itu setiap orang di sampingnya akan marah kalau ada yang mengeluarkan macam-macam gangguan. Jadi, mereka itu ingin sekali lapangan mereka itu, pertandingannya itu bersih, lancar. Gaya Papua ini perlu ditiru. Kadang-kadang kalah timnya pun mereka tidak mengacaukan pertandingan," sebutnya.[okezone]