Sunday, February 16, 2014

Djohar: Timnas U-19, Awal Gemilang Sepakbola Indonesia

Djohar dihadapan Skuad Timnas U-19 - IST
Seputar Timnas - Tim nasional U-19 kini menjadi idola baru publik sepakbola Indonesia yang kini haus prestasi. Mereka digadang-gadang akan menjadi tim masa depan kebanggan bangsa ini, yang akan mampu bersaing di level dunia. 

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyatakan, timnas U-19 adalah hanya langkah awal menuju kejayaan sepakbola Indonesia pada masa mendatang.

"Timnas U-19 adalah langkah awal menuju sepakbola Indonesia yang lebih baik di masa mendatang," kata Ketua PSSI Djohar Arifin di Banda Aceh, Sabtu (15/2/2014).

Menurutnya PSSI kini serius membina pemain muda untuk menyiapkan tim mumpuni di masa depan. Diantaranya adalah meningkatkan kemampuan pelatih muda dan membina pemain-pemain usia dini. 

Sejauh ini, kata Djohar, pola ini sudah mulai terlihat hasilnya dimana pelatih muda seperti Indra Sjafril sudah menunjukkan kemampuannya ke publik. "Dia kita beri kepercayaan untuk mencari pemain-pemain hingga ke kampung-kampung dan sekarang kita bisa lihat apa yang sudah dilakukannya," sebutnya.

Djohar mengatakan pemain-pemain timnas U-19 sekarang didominasi pemain kampung dan berasal dari keluarga sederhana mampu. Tapi mereka punya talenta. Ia meyakinia masih banyak talenta muda di seluruh pelosok nusantara yang belum terpantau bakatnya.

Untuk mencari pemain muda berbakat, Djohar mengatakan, pihaknya sudah membuat prosedur khusus yang menjadi rujukan pelatih sekarang. Prosedur ini mulai dipraktikkan dalam seleksi timnas U-19 diantaranya mengukur stamina pemain, kecepatan lari dan hemoglobin (HB) di atas 15.

Dia menuturkan dalam pencarian pemain U-19 lalu, pihaknya menetapkan setiap pemain memiliki stamina yang diukur dari detak jantung dan paru-paru harus di atas 50 VO2MAX. Jadi tak heran kalau dari banyak pemain yang dipanggil, hanya sebagian yang lulus karena stamina mereka di bawah standar.

"Sekarang rata-rata pemain timnas U-19 itu memiliki kemampuan paru-paru 54 VO2MAX. Dan sekarang kemampuan mereka sudah meningkat. Evan Dimas paling tinggi sudah mencapai 63 (VO2MAX), diperingkat dua ada Zulfiandi, Hargianto dan ada pemain lagi yaitu 62," katanya.

Djohar menambahkan kemampuan stamina mereka ditarget akan meningkat hingga 67 XO2MAX agar sama seperti standar pemain-pemain tim Eropa. "Kalau sudah 67 mereka akan sanggup bermain dua kali 90 menit," tukasnya.

Sementara kecepatan lari yang diterapkan pada seleksi pemain timnas U-19 adalah mencapai 20 meter dalam tiga detik. Pemain yang kemampuan larinya di atas tiga detik dipulangkan. "Jadi yang kita dapat sekarang pemain-pemain timnas U-19 itu punya kemampuan lari sprinter, termasuk kiper," ujar Djohar.

Ketika standar yang diterapkan sudah terpenuhi, lanjut dia, sekarang pemain hanya perlu digenjot skill dan kemampuannya bermain untuk level tinggi. 

Sementara itu Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam sambutannya pada acara pelantikan Pengurus Asosiasi PSSI Aceh di GOR Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, siang tadi, mengatakan komitmennya menghidupkan kembali kompetisi-kompetisi sepakbola bermutu di Aceh. "Untuk mencari talenta-talenta muda," ujarnya.

Caranya adalah dimulai dengan menggulirkan kompetisi Piala Camat di tingkat kecamatan, Bupati/Wali Kota Cup di tingkat kabupaten/kota dan Piala Gubernur Aceh di tingkat provinsi.

Pada Camat Cup, tim-tim yang ikut berasal dari desa-desa terdiri dari dari pemain-pemain muda dari kampung-kampung. Kemudian pemain-pemain terbaik nantinya akan dipilih dan dibentuk satu tim mewakili kecamatan masing-masing, berlaga di ajang Piala Bupati/Wali Kota. 

Selanjutnya pemain terbaik yang terpilih dari kompetisi itu akan mewakili kabupaten/kota untuk berlaga di Piala Gubernur Aceh. Tim terbaik dari piala ini akan dibina untuk seterusnya mewakili Aceh diberbagai ajang sepakbola nasional maupun international. 

Zaini mengatakan dirinya tak akan lagi mengirim tim muda Aceh untuk belajar sepakbola ke luar negeri, seperti yang dilakukan gubernur sebelumnya, karena dinilai tak efesian dan efektif. 

Dia akan mengubah pola pembinaan dengan cara mendatangkan pelatih dari luar negeri untuk melatih kemampuan pelatih lokal di tingkat kabupaten dan kecamatan, agar mereka bisa meneruskan ilmunya ke pemain muda.

Djohar Arifin menilai langkah ini patut mendapat dukungan. Dengan adanya pelatih asing yang akan didatangkan untuk melatih pelatih lokal, kata dia, pelatih lokal akan punya kemampuan mencari bakat pemain-pemain muda di tingkat kampung yang selanjutnya bisa menjadi rujukan PSSI dalam mencari pemain tim nasional.[okezone]