Monday, December 30, 2013

Saatnya PSSI Membuat Pembinaan Berjenjang Sedari Dini

IST
Seputar Timnas -  Mantan pelatih Persema Malang Timo Scheunemann yang September lalu menemani SSB Tugu Muda ke DNC 2013 di London, belajar dari Jepang bagaimana cara melakukan pembinaan sepak bola yang benar.

Pada 2005, presiden JFA (Japan Football Association) saat itu Saburo Kawabuchi tegas mengumumkan target Jepang untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2050 sekaligus menjuarainya.

Bagi Timo, yang menarik adalah bagaimana JFA memberi jangka waktu untuk mencapai targetnya. JFA menetapkan target realistis dengan lebih dulu menilai kekuatan diri sendiri dan kekuatan lawan.

JFA percaya diri karena sudah melakukan persiapan yang baik dan sistematis di banyak sisi: pembinaan usia muda, kepelatihan, kompetisi amatir dan profesional, pencarian bakat secara objektif dan sistematis, hingga pembentukan dan persiapan timnas yang optimal.

Di sepak bola putri, JFA juga pernah mencanangkan target menjuarai Piala Dunia Putri pada 2015 setelah memulai Liga Nadeshiko (sebutan Timnas sepak bola putri Jepang) pada 1989. 

Target itu kemudian tak gagal dicapai karena Nadeshiko prematur. Justru gelar juara dunia sudah berhasil diraih 2011, atau empat tahun lebih awal.

Bandingkan dengan Indonesia pada SEA Games Myanmar bulan ini yang sesumbar menargetkan 120 emas. Hasil di lapangan, hanya 65 emas yang bisa dikoleksi.

Soal kompetisi usia muda, apa yang disaksikan pemirsa di serial animasi Kapten Tsubasa bukanlah khayalan belaka. Jepang memang memiliki kompetisi pelajar tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang akrab dikenal dengan sebutan Kokuritsu. Catat, Yuto Nagatomo berasal dari klub Universitas Meiji sebelum bergabung ke FC Tokyo.

Liga sepak bola profesional J-League mulai digulirkan sejak 1993 setelah sebelumnya JFA memelajari kompetisi Galatama di Indonesia. Kala itu, J-League bergulir hanya dengan 10 klub. Pertimbangannya adalah kualitas, kuantitas nanti dulu.

Tengok PSSI dan PT Liga Indonesia sekarang ini. Klub yang bermasalah dengan tunggakan gaji ke pemain dan stadion tak memenuhi syarat pun tetap diloloskan ke Liga Super Indonesia musim depan. J-League baru akan baru akan punya 22 klub pada 2016. Sementara di Indonesia? LSI sudah pasti punya klub sebanyak itu mulai musim depan.

Sesudah kompetisi berjalan baik, JFA menambah fokus ke pendidikan pelatih. Hasilnya, kini Jepang memiliki jumlah pelatih berlisensi A AFC terbanyak di Asia. Maka tak perlu heran Keisuke Honda membuat AC Milan kepincut. Shinji Kagawa dilihat sebagai salah satu playmaker terbaik di dunia. Yuto Nagatomo minggu lalu menjadi pemain Asia pertama yang mengapteni Inter Milan, di derby Milan pula.

Saat Timo menjelaskan pentingnya membangun akademi kepelatihan satu pintu untuk pelatih dan wasit kepada salah satu pejabat teras PSSI, ia mendapat tanggapan yang membuatnya mundur sebagai direktur pembinaan usia muda.

"Ah yang main kan pemain Pak Timo," Timo menuliskan kembali ucapan pejabat teras tadi di artikelnya.

Di DNC 2013 lalu, Timo mengamati Jepang yang diwakili tim U-12 akademi Yokohama Mariners (salah satu klub J-League). Hal ini belum ada di Indonesia. Paling mentok, klub profesional Indonesia hanya punya tim U-21. Itu pun baru ada sejak LSI pertama kali digulirkan pada 2008.

Tim akademi ini berafiliasi dengan JFA, sehingga perkembangannya bisa dimonitor. Pemain yang dinilai bagus akan dimasukkan ke timnas kelompok umur. Tak perlu ada aktivitas blusukan karena banyak yang sudah terinventaris.

Timo percaya Jepang bisa mencapai target yang dicanangkan. Secara alamiah, apa yang ditanam akan dituai.

Indonesia pun bisa jika mau melakukan hal serupa. Tapi jika tidak Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri bisa jadi hanya akan berakhir seperti senior mereka: layu sebelum berkembang.[beritasatu]