Monday, December 30, 2013

Penyakit Kronis Sepak Bola Indonesia

Skuad Timnas U-19 - IST
Seputar Timnas - Masalah utama Timnas Indonesia, bagus di usia muda lalu melempem di tingkat senior, sudah jadi perhatian sejak lama. Mantan pelatih Persema Malang, Timo Scheunemann beberapa bulan silam menuliskan artikel di situs pribadinya yang menganalisis penyakit ini.

Yang pertama adalah pencurian umur. Pencurian umur bagi Timo sangat berpengaruh buruk di masa depan bagi pencuri umur itu sendiri.

Seorang pemain memang terlihat superior saat menghadapi lawan yang lebih muda dan kalah pengalaman. Ini terjadi karena dukungan hitam banyak pihak: pelatih, manajemen SSB (sekolah sepak bola), hingga orangtua si pemain sendiri. Tujuannya instan, meraih gelar juara.

Padahal esensi kompetisi usia muda menurut Timo harusnya bukanlah prestasi namun perkembangan pemain. Kompetisi diibaratkan sebagai pedang mengasah pedang.

Dengan bermain melawan pemain yang sama atau bahkan lebih bagus, diharapkan seorang pemain akan menimba ilmu. Hal ini tidak akan didapat saat seorang pemain mencuri umur, melawan pemain yang tidak lebih jago.

Pencurian umur biasanya dilakukan dalam tingkat kecil (1-2 tahun), namun ada kalanya yang sampai 3 tahun. Bahkan Timo menulis salah satu penjaga gawang terkenal mengaku padanya pernah mencuri umur 5 tahun pada sebuah kejuaraan pelajar Asia.

Kedua, budaya tidak disiplin yang diperlihatkan masyarakat Indonesia. Membuang sampah sembarangan, tidak patuh garis berhenti di jalan, dan seenaknya melanggar lalu lintas rupanya ada hubungan dengan sepak bola.

Timo melihat hal itu membuat pesepakbola muda menjadi mafhum dan permisif dengan tabiat tidak disiplin. Akibatnya, jamak ditemui pesepakbola Indonesia yang tak patuh diet gizi, menu latihan, dan tak mengikuti arahan pelatih saat bertanding.

Mantan pelatih Timnas senior, Benny Dolo, saat dihubungi beberapa bulan lalu ikut menambahkan. Indonesia tidak punya kurikulum sepak bola yang jelas.

Berbeda dengan Spanyol yang menanamkan pola permainan tiki-taka pada pemain muda, Italia dengan catenaccio, atau Jerman dengan serangan balik cepatnya. Indonesia belum tahu mau bermain seperti apa.

Tak adanya pola permainan tersebut yang membuat sepak bola Indonesia sulit untuk berkembang sebagaimana negara lain di Asia Tenggara.[beritasatu]