Ravi Murdianto - Trans7
Seputar Timnas - Ravi Murdianto tiba-tiba tenar seantero Indonesia. Ketangguhannya dalam menjaga mistar gawang Timnas Indonesia U-19, mampu mengantarkan Garuda Jaya menjuarai Piala AFF di Stadion Gelora Sidoarjo, Minggu (22/9) lalu.

Bukan tanpa perjuangan ringan, pemuda yang dibesarkan di Desa Tegowanu Kulon Rt10 Rw01 ini bisa menjadi kiper Timnas U-19. Butuh kerja keras, Disiplin dan butuh perjuangan, serta pengorbanan.

Ravi masih tampak lelah, saat Koran SINDO bertandang ke rumahnya di Desa Tegowanu Kulon Rt10 Rw01, Selasa (24/9). Maklum, Dia baru tiba di rumah sekitar pukul 02.00 dini hari setelah menempuh perjalanan lebih dari lima jam di atas Kereta Api dari Sidoarjo.

Puluhan tetangga dan sanak saudaranya juga silih berganti berdatangan. Para tetangga ini datang untuk mengucapkan selamat atas kesuksesannya mengantarkan Timnas Indonesia U-19 menjuari Piala AFF.

Selain mengucapkan selamat, mereka juga rebutan untuk minta foto bersama, bahkan tak jarang tegangganya yang kebanyakan Ibu-ibu itu menciumi pipi Ravi. Dengan mengenakan kaus Timnas Brasil dan celana pendek putih serta kalung medali Piala AFF, Ravi dengan sabar melayani tetangganya yang minta foto bersama. "Yang jelas bangga, bisa mempersembahkan prestasi bagi Indonesia," ujar remaja kelahiran Grobogan 5 Januari 1995 ini.

Ravi memang sejak kecil suka dengan sepak bola. Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Dia sudah belajar sepak bola bersama dengan SSB Putra Bersemi di Kecamatan Tegowano. Saat itu, dia tidak menjadi seorang kiper melainkan gelandang dan striker.

Namun, sejak kelas IV, dirinya kemudian pindah posisi menjadi kiper. Postur tubuhnya yang cukup tinggi menjadi faktornya. Di bawah arahan pelatih Erwin, Ravi kecil mulai belajar menangkap bola.

Melihat kemampuan Ravi yang terus berkembang, setelah kelas VI SD Ibunda Ravi Murminah kemudian memindahkan Ravi ke SSB Tugumuda Semarang supaya mendapatkan pelatihan yang lebih baik.

Langkah tersebut, cukup sukses, saat kelas 2 SMP, Ravi berhasil lolos seleksi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jateng atau sering disebut diklat Salatiga. Di Salatiga, kemampuannya terus diasah, refleknya semakin baik. Dua tahun kemudian atau tepatnya ketika kelas dua SMA Ravi ditarik untuk masuk ke Diklat Ragunan.

''Waktu itu ada senior saya namanya Yosep, yang memberikan informasi kepada pelatih Diklat ragunan kalau di Diklat Salatiga ada kiper. Dari situ saya diminta mengirim identitas, dan akhirnya bisa masuk ke diklat Ragunan," kenangnya.

Dari Diklat Ragunan nama Ravi Murdianto semakin moncer. Dia lolos seleksi masuk timnas U-17, U-18 dan U-19. Di bawah bendera Timnas U-17, dia mengantarkan Indonesia menjuarai turnamen pelajar di Hongkong.

Sedangkan untuk Timnas U-18 peringkat lima turnamen pelajar di Iran. Ravi menambahkan, meski saat ini belum memiliki klub, namun dirinya belum memikirkan masa depannya di dunia sepak bola Indonesia. Dia memilih fokus dulu untuk timnas U-19, yang akan berlaga dalam ajang Piala AFC yang akan digelar 8 Oktober mendatang di Surabaya."Belum memikirkan ke arah situ (mencari klub), karena Saya mau fokus dulu ke Timnas," tambahnya.

Ravi mengaku, memiliki pengalaman yang tak akan pernah dilupakan selama belajar sepak bola. Pengalaman itu yakni, dirinya pernah berjalan kaki dari Terminal Penggaron Semarang menuju rumahnya di Tegowanu yang jaraknya lebih dari 20 km.

Kejadian itu membuat keluarganya panik, karena sampai jam 21.00 Ravi tidak kunjung sampai rumah. Sang ayah pun berusaha menjemput Ravi, langsung ke Stadion Sidodadi yang menjadi markas SSB Tugumuda, namun tidak ketemu. Beruntung saat perjalanan pulang Sang Ayah bertemu dengan Ravi yang sedang istirahat di Masjid Mranggen.

"Waktu itu kemalaman, dan tidak ada bus. Karena waktu itu belum punya handphone jadi tidak bisa memberikan kabar ke orang tua, akhirnya saya pilih jalan kaki,"kenangnya.

Ravi mengungkapkan, prestasi yang diraihnya saat ini selain dipersembahkan untuk Indonesia, tetapi juga untuk kedua orang tuanya Murminah,47, dan Hery Supriyanto, 48. Kedua orang tuanya memberikan kontribusi besar dalam karirnya di sepak bola. Perjuangan dan dukunganya tidak akan pernah Dia lupakan.

"Perjuangan orang tua saya sangat besar, setiap hari mengantarkan saya latihan, membiayai selama latihan,"ujar kiper yang mengidolakan Gianluigi Buffon dan Ferry Rotinsulu ini.

Diakui sang Ibu Murminah, untuk menyekolahkan sepak bola Ravi keluarganya harus kerja keras. Bahkan tidak jarang utang sana-sini supaya anaknya bisa terus mengasah kemampuannya. Karena sering utang, Murminah kerap mendapakan cibiran dari orang lain. Namun, cibiran itu tak pernah ditanggapinya. Dia hanya berpikir bisa menyalurkan bakat dan hobi anaknya.

Murminah yang sehari-hari bekerja menjual nasi di warung kecil di sebelah Pos Ojek Tajemsari Tegowanu ini menceritakan, dirinya bahkan sampai menjual tanah untuk biaya pindah sekolah ke Salatiga dan biaya Uang Gedung sekolah."Banyak yang bilang, untuk apa utang sana-sini cuma untuk sekolah sepak bola. Tapi namanya Orang tua yang penting saya bisa menyalurkan bakat dan hobi anak,"ujar Murminah.

Menceritakan pahit getirnya selama membesarkan Ravi hingga menjadi seorang kiper yang cukup tangguh dan mampu membawa harum nama Bangsa Indonesia melalui Sepakbola, tanpa sadar Murminah menitikan air mata. "Saya selalu menangis kalau mengenang semuanya," ujarnya sembari mengusap air matanya.

Kala Ravi sangat terkenal bak artis Ibu kota, Murminah berpesan kepada anaknya supaya tetap menjaga berlaku santun, sederhana, menghormati orang tua, menghormati orang yang lebih tua dan taat beribadah. "Sebagai orang tua tentu mendoakan yang terbaik, Ravi bisa terus memberikan prestasi kepada Indonesia dan membawa nama baik keluarga," katanya.[Sindo]


 
Top