Thursday, January 31, 2013

Timnas Dihajar Jordania 5 Gol Tanpa Balas

Okto Maniani - KOMPAS

Seputar Timnas - Indonesia dipaksa menyerah 0-5 oleh Jordania pada laga persahabatan di Amman, Kamis (31/1/2013). Kemenangan Jordania itu masing-masing berkat gol Mahmoud Za'tara, Khalil Bani Attiah (2 gol), Oday Zahran.

Lapangan becek membuat permainan kurang berkembang. Indonesia memang mencoba menekan lebih dulu. Namun, tuan rumah Jordania kemudian mampu mendominasi.

Jordania lebih sukses memanfaatkan kondisi lapangan yang becek dengan umpan-umpan jarak jauh. Bahkan, Jordania kemudian sukses membuka keunggulan lewat aksi striker Mahmoud Za'tara, Amer Deeb, dan .

Lapangan becek membuat permainan kurang berkembang. Indonesia memang mencoba menekan lebih dulu. Namun, tuan rumah Jordania kemudian mampu mendominasi.

Jordania lebih sukses memanfaatkan kondisi lapangan yang becek dengan umpan-umpan jarak jauh. Bahkan, Jordania kemudian sukses membuka keunggulan lewat aksi striker Mahmoud Za'tara.

Indonesia mencoba bangkit, tapi selalu gagal mengancam gawang lawan. Sebaliknya, Jordania beberapa kali membuat pertahanan Indonesia kerepotan. Bahkan, pada menit ke-40, Jordania kembali mencetak gol.

Sebuah umpan terobosan berhasi disambut penyerang Jordania, Khalil Bani Attiah. Bek Wahyu Wijiastanto terlambat mengejar bola meski berada lebih dekat. Khalil Bani Attiah pun dengan mudah mencuri bola dan tinggal berhadapan dengan kiper Endra Prasetya. Dengan sekali cungkilan, ia mampu menambah gol dan menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.

Di babak kedua, Indonesia berusaha menyerang. USaha Indonesia cukup merepotkan pertahanan Jordania. Bahkan, Indonesia membuat peluang pada menit ke-50, setelah tendangan Raphael Maitimo diblok kiper Jordania. Bola muntah mengarah kepada Supriyanto. Tapi, ia kurang sempurna melakukan penyelesaian.

Pada menit menit ke-54, Handi Ramdan melakukan pelanggaran kepada pemain Jordania di kotak terlarang. Indonesia pun dihukum tendangan penalti. Kapten Jordania, Amer Deeb, dengan mudah mengeksekusi tendangan penalti dan membawa Jordania unggul 3-0.

Lima menit kemudian, Jordania menambah keunggulan 4-0. Sebuah umpan silang dengan baik disundul Oday Zahran, meluncur ke pojok kiri bawah gawang Endra Prasetya.

Di menit ke-83, Indonesia punya peluang memperkecil ketertinggalan. Umpan Rasyid ke belakang langsung disambar Maitimo. Namun, bola tendangannya masih sedikit meleset dari gawang.

Di masa injury time, Indonesia kembali lengah. Sebuah umpan silang mampu dpotong Khalil Bani Attiah dan berbuah menjadi gol. Gol ini yang memastikan Jordania menang 5-0 atas Indonesia.(kompas)


Read More

PSSI : Boaz Solossa Dan Imanuel Wanggai Siap Menyusul Stevie Bela Timnas

Boaz Solossa  dikabarkan segera gabung Timnas - NET

Seputar Timnas - Wakil Manajer Tim Nasional Nico Dimo mengatakan banyak pemain Persipura Jayapura yang berkinginan bergabung dengan skuat Garuda guna menghadapi Pra Piala Asia 2013, namun mereka terhalang oleh sikap manajemen tim.

"Banyak pemain Persipura yang berniat bergabung dengan Timnas, hampir sebagian besar ingin bergabung tapi yang mereka dapati adalah pelarangan oleh manajemen tim," kata Nico saat menggelar jumpa pers di Kantor Pengurus Besar PSSI, Jakarta, Kamis.

Nico menyebutkan setidaknya dua nama selain Stevie Bonsapia --yang berinisiatif mendatangi timnas tanpa mengindahkan pelarangan dari Persipura--yaitu Boaz Solossa dan Imanuel Wanggai.

Ia mengharapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo dapat segera turun tangan secara langsung untuk menyelesaikan persoalan pelarangan pemain ke timnas tersebut.

"Inilah yang bisa kami lakukan, kami berharap agar Menpora bisa menyikapi hal ini supaya anak-anak Persipura dapat segera membela Timnas," ujar Nico.

Nico juga mengatakan bahwa pemain Persipura Stevie Bonsapia akan segera menyelesaikan urusannya dengan pihak klub untuk kemudian bergabung dengan timnas.

Urusan tersebut adalah kesepakatan antara Stevie dan Persipura bahwa ia akan mengembalikan nilai 50 persen kontrak yang sudah diterimanya untuk mendapatkan paspornya dari pihak klub.

"Permintaan Persipura, Stevie harus kembali dahulu ke manajemen tim untuk menghadap pada Ketua Harian mereka, dan diminta menandatangani perjanjian untuk mengembalikan 50 persen nominal kontrak yang sudah dia terima," kata Nico.

"Saya harap besok pagi atau sore, Stevie sudah berada di Jakarta, kemudian berangkat bergabung ke timnas di Dubai," katanya menambahkan.

Persetujuan pemberian paspor Stevie oleh pihak klub tidak lain dari kesanggupan PSSI untuk menalangi uang yang harus dibayarkan Stevie kepada Persipura.

"Mereka sebelumnya mematok batas waktu tujuh hari, tapi kami meminta ditahan menjadi 14 hari setelah selesai melakoni laga di Dubai," kata Nico.

Terkait dengan beberapa pemain Persipura lain yang berkeinginan masuk ke dalam timnas, Limbong mengatakan bahwa PSSI tidak akan siap apabila mereka berinisiatif dan berujung pada permintaan 50 persen kembali uang kontrak para pesepakbola tersebut.

Meski demikian, Limbong mengajukan diri untuk merogoh koceknya sendiri apabila memang Boaz Solossa dan Imanuel Wanggai betul-betul mengikuti jejak Stevie.

"PSSI jelasnya tidak siap karena posisinya susah, untuk biaya perjalanan ke Amman saja kesulitan, tapi Limbong siap menalangi," kata dia.

Selain itu, diketahui bahwa PSSI menyanggupi untuk mencarikan klub baru bagi Stevie Bonsapia menyusul pemecatannya oleh pihak Persipura.(antara)


Read More

Maitimo: Lawan Jordania, Peluang Indonesia 50:50

Raphael Maitimo - Wordpress

Seputar Timnas - Pemain naturalisasi timnas Raphael Maitimo mengatakan peluang timnas melawan Jordania di Amman, Rabu (31/1) 50-50. "Melawan Jordania kami akan memaksimalkan apa yang ada untuk persiapan lawan Irak. Melawan Jordania dalam partai persahabatan kami akan mencoba menerapkan pola permainan yang berbeda," ujarnya sebelum keberangkatan dari Medan.

Menurutnya, sepanjang semua pemain berusaha keras, Indonesia punya kesempatan untuk menuai hasil yang baik. Raphael mengaku sulit menerka kemungkinan peluang Indonesia dalam pertandingan ini. "Hmm, pertanyaan yang sulit. Kita tidak sedang berbicara tentang matematika, dan bursa taruhan. Tapi bagi saya fifty-fifty. Saya selalu berpikir positif, itulah kenapa saya yakin kita punya peluang," ungkapnya.

Pertandingan melawan Jordan, lanjutnya akan menjadi tolak ukur kemampuan timnya untuk bersaing dengan tim-tim Timur Tengah lainnya di grup C, Pra Piala Asia seperti Irak dan China. "Saya rasa akan menjadi pertandingan keras lawan Irak, karena mereka tim yang kuat. Tapi dalam sepakbola semua kemungkinan bisa terjadi. Skuat harus punya semangat. Walau pertandingan yang sulit kami akan mencari seri walau kami tentunya bermain untuk menang," bebernya.

Raphael menambahkan dirinya juga siap ditempatkan di posisi mana saja oleh pelatih dalam pertandingan ini. Dalam beberapa kali game pemusatan latihan di Medan, Raphael menempati tiga posisi berbeda, bek tengah, bek sayap kanan dan gelandang bertahan. "Saya siap di mana saja, tapi saya memang lebih nyaman jadi gelandang bertahan," timpalnya.

Sementara itu, Wahyu Wijiastanto Wahyu Wijiastanto mengakui, kualitas timnas saat ini adalah perpaduan dari pemain senior yang minim dengan banyak pemain muda. Komposisi ini, menurut pemain Semen Padang ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemain senior. "Kalau melihat kualitas pemain banyak pemain muda dan hanya beberapa saja pemain senior. Itu tantangan bagi kita (pemain senior)  untuk menentukan arah pertandingan nanti," tuturnya. (Goal)


Read More

Umuh Muchtar: Kemenangan Kami Dirampok Wasit!

Umuh Mochtar - NET

Seputar Timnas - Hasil seri Persib Bandung melawan tuan rumah Persiram Raja Ampat disambut manajer Persib Bandung Umuh Muchtar dengan rasa marah. Ia menilai wasit telah berat sebelah membela tuan rumah. 

"Hasil seri ini menyakitkan. Persib gagal menang karena wasit. Saya tidak puas dengan satu poin in karena ofisial pertandingan tidak bekerja maksimal. Posisi off-side saja disahkan golnya," kata Umuh kepada RRI 2 Pro Bandung. 

Menurut Umuh, di atas lapangan Persiram sebenarnya bisa diatasi dengan mudah. "Persiram di bawah kelas. Mereka sebenarnya bisa dihabisi dengan mudah. Para pemain menangis karena kelakuan wasit. Permainan Persib dirusak wasit. Kita akan mengajukan protes," katanya. 

Umuh merasa curiga terdapat permainan di belakang pertandingan itu. " Kita memang target imbang, tetapi Persib tetap membidik kemenangan dan kemenangan Persib sudah dirampok. Wasit seperti ketakutan kita menang. Aneh," katanya. 

Ia pun mendesak agar kompetisi Indonesia Super League [ISL] dibubarkan dulu seandainya hal-hal seperti itu masih saja terjadi. 

"Bagaimana ini BLI? Kalau mau bubar bubar saja sekalian, ini wasit gila. Mending kita bubar dulu lah, semua orang di sini harusnya merasa malu melihat wasit seperti itu," tambahnya. 

"Saya mohon maaf pada semua bobotoh, seperti yang saya bilang kita dirusak wasit. Kalau masih ada mafia, sepakbola Indonesia tidak akan maju," tutur Umuh. (goal)


Read More

Persiapan Dan Latihan Timnas Diselimuti Salju

Ilustrasi lapangan bersalju - Google Images

Seputar Timnas - Saat recovery belum benar-benar pulih, skuad timnas harus dihadapkan dengan perubahan cuaca yang ekstrem. Jika Training Centre (TC) di Medan, pemain timnas harus latihan di bawah terik matahari, di Amman Yordania, Andik Vermansyah dkk diselimuti salju.

"Dinginnya suhu memang menjadi kendala utama. Tadi pagi saat latihan turun salju. Tapi saat ini pemain sudah mulai bisa beradaptasi dengan hal tersebut," kata dokter timnas Indonesia, Syarif Alwi melalui pesan singkatnya kepada wartawan di PSSI Senayan Jakarta, Kamis (31/1).

Kabar baiknya, pemain-pemain sedang dalam kondisi siap tempur. Mereka tampaknya sudah siap ditampilkan dalam laga ujicoba melawan Timnas Yordania, malam nanti (Live di RCTI pukul 21.30 WIB).

"Kondisi anak-anak pada saat cek kesehatan tadi pagi dan menjalani warming up, bisa dikatakan dalam keadaan sehat dan layak bertanding," tambah Syarif. (abu/jpnn)


Read More

Antara PSSI, Pemerintah Dan Mafia Bola

Mata Najwa - Twitter

Seputar Timnas - Masih juga belum terbuka dan belum terlihat nyata, kenyataan yang ada yang selama ini terlihat sebagai mystery bagi masyarakat sepakbola nasional maupun international, masih juga belum mampu menguak mystery.

Ketakutan yang tak terbayangkan, sedemikian sehingga susah untuk terbuka nyata didepan mata, hanya kesibukan dan analisa dari logika yang paling logis sekalipun. Belum juga terbuka senyatanya apa yang ada seadanya.

Kemarin sudah di usahakan membuka selubung dengan diadakannya acara talk show di Metro TV, dengan tajuk mafia sepakbola Indonesia didalam acara Mata Najwa.

Yang di tayangkan kamis malam dengan menghadirkan 3 tokoh kunci yang selama ini dianggap memiliki pengaruh kuat terhadap kekeruhan sepakbola Nasional.

Roy suryo Menpora, La Nyala M Pentolan KPSI, dan Djohar Arifin Presiden Federasi PSSI, dengan dipandu oleh Najwa serta nara sumber SOS, sebagai sumber informasi tentang Mafia Bola..

Dalam acara tersebut Save Our Soccer mengatakan, bahwa mafia telah menguasai sepakbola Indonesia. Gerakan kelompok suporter yang diprakarsai oleh ICW (Indonesia Corruption Watch) itu juga mengungkapkan keterlibatan pemain, klub sampai pengurus asosiasi.

Sejak 2011, SOS menyelidiki hal tersebut dan mengungkapkan, hampir seluruh pelaku sepakbola di tanah air terlibat dalam pengaturan pertandingan. Aksi pengaturan pertandingan awalnya dilakukan oleh pemain dan pengawas pertandingan, sudah ada di tahun 1980-an, namun pelakunya mengalami perubahan kini ke pengurus klub dan asosiasi.

Penelitian dari SOS itu dilengkapi dengan hasil wawancara dan testimoni para pelakunya. Mulai dari perangkat pertandingan, pemain, pengurus klub, hingga pengurus daerah dan pengurus pusat induk olahraga federasi olahraga.

Salah satu kasus yang termuat dalam laporan SOS itu adalah yang melibatkan Ketua Komisi Disiplin PSSI di periode kepemimpinan Nurdin Halid, Togar Manahan Nero dengan pengurus Penajam Medan Jaya. Togar dikabarkan menerima suap Rp 100 juta hingga akhirnya dipecat dari kepungurusan PSSI.

“Tahun 80-an pelakunya adalah pemain dan wasit. Di tahun 90-an karena gaji pemain sudah mulai membaik pelakunya adalah wasit. Sementara akhir tahun 90-an hingga sekarang pelakunya adalah pengurus PSSI,” sahut Apung Widadi dari SOS dalam talkshow Mata Najwa yang tayang di MetroTV, Rabu (30/1/2013) malam WIB.

Atas hasil penelitian SOS ini, Menteri Olahraga, Roy Suryo, mengatakan “Saya tidak terkejut (dengan praktek mafia sepakbola), saya berterima kasih kepada SOS karena bisa mengungkapnya,” jelas Roy dalam perbincangan di sebuah talk show, (Kamis 30/1/2013) malam WIB.

Ketua KPSI La Nyalla Mattalitti membeberkan upaya membersihkan kompetisi ISL. “Saya tidak mau lihat masa lalu (terkait temuan SOS). Yang penting saya sekarang ini Ketua PSSI Ancol dan sekarang ini jangan sampai kebobolan mafia bola. Kami sudah menentukan 16 wasit utama untuk jadi wasit ISL. Ada sistem yang mengacak wasit untuk memimpin pertandingan, wasit sudah diumumkam seminggu sebelum pertandingan. Kami Mengumpulkan dan mengunci wasit.”

“Saya punya tim 10 orang, 10 komputer bayaran saya sendiri. Kalau ada wasit main-main nanti kita croscek. Ada klub yang tak mau kalah, lalu menyebutnya difitnah. Dulu tuan rumah selalu menang, sekarang sudah biasa kalau kalah atau imbang,” papar La Nyalla.

Ketua PSSI, Djohar Arifin, juga membenarkan “Sudah 20 tahun PSSI dikuasai mafia, itu merupakan rahasia umum, kata Djohar Arifin. “Imbasnya ke masa depan. Medali Sea Games sudah bertahun-tahun tidak bisa kita raih,”

Djohar mengatakan, di bawah kepengurusannya, PSSI sudah mengumpulkan wasit dan menegaskan keinginan untuk menciptakan iklim sepakbola yang bersih dari mafia dan pengaturan pertandingan “Tekad kami adalah mengembalikan sepakbola ke sportivitas. Maka ada kongres sepakbola nasional 20 Maret 2010 di Malang,”

Dalam tayangan Mata najwa jelas memberikan penegasan atas rumor yang selama ini berkembang tentang adanya Mafia Bola di Indonesia, bahkan tidak hanya dizaman NH, namun masih ada dan nyata di zaman sekarang ini, bahkan lebih parah, dilakukan oleh oknum2 pengurus sepakbola itu sendiri, hampir seluruh pihak yang terlibat tersangkut dalam perilaku pengaturan pertandingan.

SOS, adalah gerakan supporter yang didukung ICW meneliti seluruh data dan informasi prilaku pengaturan pertandingan di Indonesia, dengan data dan informasi lengkap, bahkan tersebut nama nama yang sekarang menjadi pengurus KPSI, telah nyata2 memiliki peran yang aktip dalam kasus penyuapan dan pengaturan.

Roy Suryo sebagai Menpora, tentu tidak lagI bisa menutup mata dihadapan jutaan pemirsa pencinta sepakbola dan seluruh masyarakat Indonesia, data dan informasi yang dimiliki oleh SOS, tentu bisa dijadikan dasar untuk didalami dan menjadi acuan Pemerintah menyelesaikan carut marutnya persepakbolaan Nasional.

Korupsi, suap dan pengaturan pertandingan adalah kejahatan olahraga, yang tak bisa di tolerir keberadaannya, karena menyangkut integritas dan kesahihan jiwa Korsa bangsa Indonesia, yang akan mewarnai dan membentuk pemuda Indonesia sebagai pembawa tongkat generasi masa depan bangsa ini.

Menpora sebagai ujung tombak pembinaan Olahraga, memiliki kewajiban Konstitutional dan kewajiban Moral memberantas seluruh kemungkinan terjadinya manipulasi dan pengaturan pertandingan olahraga.

Olahraga yang sejatinya menjadi ajang pembinaan jiwa bangsa Indonesia, justru menjadi ujung tombak perusakan moralitas bangsa dan memicu dekadensi moral dikalangan pemuda, pelaku2 kriminal menjadi berkembang dan merajalela, karena sudah terbiasa dan memperoleh pengalaman pelanggaran kepatutan didepan mata dalam kehidupan.

PSSI hanyalah korban dari pelaku pelaku kejahatan yang menggunakan pertandingan sepakbola, sebagai ajang untuk mencari keuntungan dengan cara cara yang tidak bermoral dan menghancurkan peradaban dan kebudayaan kita.

Kedok organisasi yang menyusup kedalam PSSI dengan membawa jargon dan menyeret kedalam ranah politik adalah selubung yang semakin menyulitkan pengelupasan kerak kerak pelaku kejahatan dan tindak Kriminal.

Apalagi tertengerai telah terjalin konspirasi yang masif dan terorganisir dengan oknum2 pejabat pemerintah, baik ditingkat daerah maupun pusat, bahkan dikalangan Pemerintah sendiri sudah mulai terjangkit keberadaan jaringan konspiratip ini.

Gedung DPR pun tidak luput dari jamahan kelompok, yang dengan sangat pandai menyusup hingga relung2 kekuasaan elite Politik dan partai Politik, yang pasti akan menggoyahkan kestabilan poitik dan kestabilan kekuasaan pemerintah.

FIFA dan AFC serta PSSI, hanyalah organisasi Sepakbola International yang ingin menjaga sepakbola tetap ada didalam koridor yang benar dan bermartabat, sebagai ajang pembinan pemuda dan usia muda untuk menjadi insan yang baik dan bermartabat sesuai dengan tujuan FIFA.

Yang bisa dilakukan oleh PSSI/AFC/FIFA, hanyalah sebatas menggunakan alat organisasinya untuk menjaga tetap ada didalam koridor permainan sepakbola, sehingga akan menghilangkan kemungkinan terjadinya pengaturan skor dan penyalah gunaan sepakbola untuk kejahatan dan tindak kriminal.

Penegakan Statuta Organisasi PSSI adalah salah satu yang terus dikerjakan dan terus ditekankan oleh seluruh anggota FIFA sebagai rasa tanggungjawab masyarakat sepakbola international, agar sepakbola tidak digunakan sebagai alat untuk mengancurkan masa depan generasi muda, dengan menggunakannya untuk kejahatan dan tindak criminal.

Namun PSSI/AFC/FIFA tak mungkin bisa bekerja sendiri dengan hanya mengandalkan statuta, tetapi harus ada synergy dan kerjasama dengan aturan dan hukum yang berlaku di Negara anggota asosiasi.

Tentu Negara harus memberian perlindungan dan kepastian hukum yang melindungi kegiatan sepakbola, sehingga federasi setempat bisa melaksanakan seluruh kegiatannya sesuai dengan Statuta yag ada yang merupakan kepanjangan kesepakatan International.

Sekarang PSSI/AFC/FIFA telah memperlihatkan komitmennya untuk menjalankan roda organisasi sesuai statuta, maka tinggal pemerintah untuk menyambutnya dengan melaksanakan UU no3 tahun 2005, secara murni dan konsekuen.

Menpora tinggal menyusun argumentasi untuk membeberkannya di sidang kabinet agar keputusan pemerintah menjadi legitimate dan berkekuatan hukum pemerintah, hal ini harus dilakukan karena policy tentang UU no.3 tahun 2005 serta menghadapi FIFA/AFC/PSSI, sebagai masyarakat International, mempunyai implikasi terhadap seluruh aspek kepemerintahan.

Policy Pemerintah terhadap PSSI/AFC/FIFA, bukan hanya semata mata Menpora, saja, tetapi menyangkut seluruh aspek kepemerintahan dibawah Presiden SBY, yang harus tahu persis, bahwa implikasi policynya menyangkut perjanjian International yang termaktub didalam Statuta FIFA 1904 serta pakta2 perjanjian International yang lain.

Maka jangan terlalu naïf, kalau memutuskan posisi PSSI/AFC/FIFA, tidak bisa dilakukan hanya oleh seorang Menteri Menpora yang terlalu kecil kalau menghadapi permasalahan International, dengan segala aspek politik dan ekonomi Negara.

Semoga sedikit tulisan ini mampu membangunkan kesadaran, bahwa menghadapi PSSI, AFC dan FIFA, bukan menghadapi sekelompok pecundang pencari keuntungan dalam olahraga, sungguh naif dan menyederhanakan masalah saja.

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !








Penulis   : Zen Muttaqin
Sumber  : Kompasiana

Read More

PSSI Bantu Stevie Bonsapia Dapatkan Paspornya Yang di Tahan Persipura

Stevie Bonsapia - NET

Seputar Timnas - Masalah penahanan paspor Stevie Bonsapia oleh Persipura Jayapura mengakibatkan Stevie urung berangkat ke Yordania. Kamis, (31/1) siang Asisten Manajer Timnas, Nico Dimo mengatakan pihak PSSI akan membantu Stevie agar bisa memperoleh paspor yang ditahan pihak klub.

PSSI sudah melakukan komunikasi dengan pihak Persipura Jayapura agar memberikan paspor Stevie Bonsapia. Pihak Persipura meminta Stevie menghadap langsung ke Jayapura untuk menyelesaikan masalah paspor.

"Paspor Stevie sedikit tersendat karena manajemen Persipura tidak memberi kepada Stevie. Sebagai penanggung jawab timnas, kami sedang melakukan pendekatan dengan manajemen Persipura. Sesuai permintaan manajemen Persipura, Stevie diminta menghadap langsung ke Jayapura," tutur Nico Dimo di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

"Pagi ini Stevie sudah berada di Jayapura menghadap bapak La Siya, jawaban yang diterima oleh Stevie adalah Stevie harus menandatangani surat perjanjian tentang pengembalian kontrak yang sudah diterima, 50 persen. Kami sudah laporkan ke Pak Limbong sebagai koordinator tim," ujar Nico.

Pihak Persipura meminta PSSI menyelesaikan masalah ini selama tujuh hari, namun Nico Dimo berjanji akan menyelesaikan masalah ini dalam 14 hari karena timnas masih berlaga melawan Irak pada tanggal enam Januari.

"Saya katakan kepada Stevie, manajeman akan ganti setelah kembali dari Dubai. Persipura meminta waktu tujuh hari, kami minta waktu empat belas hari kepada manajemen Persipura," tutur Nico Dimo.(bolanews)


Read More

Limbong Harap Timnas Tak Kalah Telak

Nil memberikan instruksi ke Taufiq - AFF

Seputar Timnas - Tim nasional Indonesia menuai masalah pelik jelang beruji coba melawan Yordania di Amman, Kamis (31/1) sore waktu setempat. Ketidakbecusan manajemen dalam mengatur keberangkatan membuat para penggawa hanya memiliki masa recovery dan persiapan yang singkat selepas tiba di Yordania, Rabu (30/1) pukul 12.00 waktu setempat atau pukul 16.00 WIB.

"Bicara ideal atau tidak, saya pikir ini sangat tidak normal," kata Dokter timnas Syarief Alwi, menilai waktu singkat yang dimiliki para penggawa timnas sebelum tampil melawan Yordania.

Menurut Dokter Timnas, para pemain sendiri idealnya membutuhkan waktu sekitar 72 jam untuk memulihkan kondisinya setelah melakukan perjalanan udara yang cukup jauh. Bila itu tak terpenuhi, bukan tidak mungkin para pemain timnas terlihat kelelahan di laga kontra Yordania.

"Waktu normalnya segitu. Tetapi, kita sekarang hanya punya waktu satu hari untuk melakukan recovery," jelas Syarif.

Syari Alwi menambahkan bahwa para penggawa timnas juga mengalami masalah lain atas kenyataan itu. Kurangnya waktu selepas tiba hingga sebelumnya bertandingan dipastikan juga membuat adaptasi timnas tidak bisa berjalan bagus.

"Cuaca di Amman juga menjadi kendala utama timnas. Dengan suhu sekitar lima derajat celcius, para pemain seharusnya mendapatkan istirahat yang cukup agar tidak mengalami penurunan fisik terhadap cuaca tersebut."

Para penggawa timnas sendiri semula diagendakan berangkat menuju Amman, Senin (28/1). Namun, rencana itu berubah setelah manajemen timnas berbenturan dengan masalah tiket keberangkatan.

Pelatih timnas Indonesia, Nil Maizar sebelumnya sudah terlihat pasrah dengan kenyataan itu. Namun, ia bersama penggawa timnas akhirnya berangkat setelah mendapat instruksi dari PSSI.

Sementara itu, Penanggung Jawab Timnas, Bernhard Limbong berharap, Andik dkk. tetap menunjukkan semangat juang baik. Kekalahan tidak dipersoalkan, namun dengan catatan tidak dengan skor yang telak.

"Kalaupun kalah, tentu harus kalah terhormat. Saya berharap kalaupun kalah dengan skor tipis seperti 2-1," terang Limbong.(bolanews)


Read More

Limbong : Ada Kebohongan Publik Tentang Pemanggilan Pemain Timnas

Bernhard Limbong - OKEZONE

Seputar Timnas - Menanggapi permasalahan timnas Indonesia soal pemanggilan pemain yang tak kunjung usai, bahkan ada yang mengatakan PSSI tidak pernah mengirimkan surat pemanggilan, Penanggung Jawab timnas, Benhard Limbong, mengatakan bahwa itu merupakan kebohongan publik.

Benhard Limbong mengatakan PSSI telah secara tertulis mengirimkan surat pemanggilan pemain untuk bergabung dengan timnas. Ia heran kenapa banyak orang mengatakan PSSI tidak pernah mengeluarkan surat pemanggilan.

"Ada kebohongan publik bila PSSI tidak pernah mengirimkan surat pemanggilan, kita telah melakukan pemanggilan dua kali, ini ada surat penerimaan juga," ujar Benhard Limbong sembari menunjukan surat pemanggilan pemain di PSSI, Kamis (31/1).

Bila pemain atau klub berpendapat tidak ada surat pemanggilan, Benhard atas nama komdis akan memberikan sanksi. Ia menilai seharusnya pemain tahu tentang pemanggilan ke timnas, selain pemanggilan administrasi, media dapat dijadikan sumber informasi.(bolanews)


Read More

Beberapa Pemain Persipura akan Ikuti Jejak Stevie Bela Timnas

Stevie Bonsapia - NET
Seputar Timnas - Asisten Manajer Timnas, Nico Dimo mengatakan akan ada pemain Persipura Jayapura yang memiliki keinginan bergabung bersama timnas. Pemain tersebut dikabarkan akan bergabung ketika pertandingan kedua Pra Piala Asia 2015 melawan Arab Saudi.

Pemain Persipura Jayapura, Stevie Bonsapia memilih bergabung bersama timnas meski beresiko dipecat dari klubnya. Menurut Asisten Manajer Timnas, Nico Dimo, akan ada lagi pemain Persipura Jayapura yang akan mengikuti jejak Stevie membela timnas, namun Nico belum bisa menyebut siapa orang tersebut.

Nico menyatakan pemain yang akan bergabung tersebut tidak akan bergabung dalam waktu dekat, namun baru akan bergabung ketika laga melawan Arab Saudi.

"Selain Stevie ada pemain Persipura lain yang ingin membela timnas, tetapi saya tidak boleh menyampaikan. Kita melihat nanti ketika timnas melawan Arab Saudi, 22 Maret," ujar Nico Dimo di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Selain pemain Persipura, Nico menyatakan akan ada pemain dari Persidafon Dafonsoro yang akan nantinya akan bergabung bersama timnas.

"Termasuk pemain yang kita panggil dari Persidafon, itu juga sama halnya, manajemen tidak mengizinkan, tapi pemain ingin sekali bergabung dengan timnas," tutur Nico.(bolanews)



Read More

PSSI Bantah Pernyataan Roy Suryo Soal Pemanggilan

Koordinator Timnas - Bernhard Limbong - NET

Seputar Timnas - Penilaian Menpora Roy Suryo, yang seakan-akam mengindikasikan bahwa PSSI tidak becus dalam pemanggilan pemain, ditanggapi oleh Bernhard Limbong. Penanggung Jawab Timnas sekaligus Ketua Komisi Disiplin PSSI itu mengatakan bahwa pihaknya sudah menjalankan mekanisme yang benar dalam pemanggilan pemain untuk gabung ke timnas.

"Jadi, tolong konfirmasi ke kita juga dong," kata Bernhard Limbong, Kamis (31/1).

Menurut Limbong, selain ke klub pihaknya juga sudah melayangkan surat pemanggilan kepada pemain dalam dua kali kesempatan. Pernyataan ini pun sekaligus menyanggah pernyataan Menpora sebelumnya.

"Makanya tanya ke kami juga. Dalam pemanggilan pemain, mekanismenya adalah lewat klub. Tapi tak hanya ke klub, kami juga kirim surat pemanggilan ke pemain. Jadi pernyataannya, salah," ujar Limbong.

"Seperti ketika kami memanggil sembilan pemain Persipura, kami mengirim surat ke klub dan sembilan surat ke pemain. Yang jelas, kalau menteri mempertanyakan, kami ada bukti pengiriman," jelasnya.

Dalam jumpa pers di Gedung Kemenpora, Roy Suryo sendiri melihat PSSI salah dalam pemanggilan pemain ke timnas. Berdasarkan pengamatannya, PSSI tidak melayangkan surat resmi pemanggilan ke pemain. Menurut Roy Suryo, pemain justru mengetahui pemanggilan dari media.

"PSSI sudah melakukan pemanggilan, tapi pemain tidak datang. Saya telah pelajari dan ternyata dalam mekanisme pemanggilan, pemain tidak mendapat pemanggilan hitam di atas putih," jelas Roy Suryo.(bolanews)


Read More

Kontra Jordania Timnas Keluhkan Kurangnya Adaptasi Waktu

Timnas senior - JPNN

 Seputar Timnas - Tim nasional Indonesia masih mengalami sejumlah masalah menjelang pertandingan uji coba Pra-Piala Asia 2015 melawan Jordania di Stadion Internasional King Abdullah, Amman, Kamis (31/1/2013). Sejumlah masalah itu diantaranya adalah kondisi fisik dan kurangnya waktu adaptasi skuad Garuda.

Dokter timnas, Syarif Alwi, mengatakan, tim Merah Putih saat ini memang masih kelelahan akibat perjalanan panjang dari Medan ke Amman. Padahal, kata dia, waktu normal bagi para pemain untuk memulihkan kondisinya harus membutuhkan setidaknya 72 jam setelah melakukan perjalanan udara yang panjang. 

"Waktu normalnya segitu (72 jam). Tetapi, kita sekarang hanya punya waktu satu hari untuk melakukan recovery," ucap Syarif dalam pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (31/1/2013). 

Ditambahkan Syarif, adaptasi terhadap cuaca di Amman juga menjadi kendala utama timnas. Dengan suhu sekitar lima derajat celcius, para pemain seharusnya mendapatkan istirahat yang cukup agar tidak mengalami penurunan fisik terhadap cuaca tersebut. 

Untuk mengatasi hal itu, lanjut Syarif, tim dokter saat ini sudah mengatur jadwal istirahat dengan pemberian pola makanan yang tepat bagi para pemain timnas. "Saya juga memberikan suplemen makanan lainnya. Tujuannya sebagai salah satu langkah adaptasi dan percepatan pemulihan kondisi pemain," tukas Syarif. 

Pertandingan melawan Jordania ini adalah uji coba terakhir timnas menjelang partai perdana Grup C Pra-Piala Asia kontra Irak pada 6 Februari mendatang. Selain Irak, timnas juga harus bersaing dengan raksasa sepak bola Asia lainnya, yakni Arab Saudi dan China.(kompas)


Read More

Jika Kalah dari Irak, Roy Suryo Akan Ambil Alih Timnas

Roy Suryo - NET

Seputar Timnas - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menargetkan kepada Timnas Indonesia untuk meraih hasil positif di laga perdana Pra Piala Asia melawan Irak di Al-Rashid Stadium (Al-Ahli Stadium), Dubai, Uni Emirat Arab pada 6 Februari 2013.

Timnas Indonesia asuhan pelatih Nilmaizar yang akan bertanding melawan Irak merupakan para pemain yang masih minim jam terbang bermain di laga internasional. Di antaranya yaitu, beberapa pemain yang tergabung di dalam tim PON Papua 2012 seperti, Eldjo Iba, Yorgen Wayega, dan Fasco Manibor.

Sementara, pemain lainnya merupakan para pemain yang memperkuat klub-klub peserta kompetisi Indonesian Premier League (IPL), seperti Semen Padang, Persebaya Surabaya, Persiba Bantul, dan beberapa klub lainnya.

“Saya menargetkan kepada PSSI untuk melaksanakan amanat rakyat dengan sebaik-baiknya. Saya tidak akan mengintervensi skuat tim. Hasilnya nanti akan dinilai oleh rakyat, jika baik maka timnas bentukan PSSI akan diakui oleh masyarakat dan apabila hasilnya tidak baik maka ada langkah selanjutnya,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo saat ditemui di Gedung Kemenpora, Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Menurut Politisi Partai Demokrat itu, langkah yang akan dilakukannya setelah melihat hasil pertandingan melawan Irak adalah dia akan melakukan pembentukan timnas. Timnas terdiri dari pemain terbaik yang bermain di klub-klub peserta kompetisi IPL dan ISL.

“Setelah 6 Februari akan ada pembentukan timnas yang terdiri dari pemain terbaik bangsa. Timnas seharusnya merupakan kumpulan pemain bagus,” tuturnya.

PSSI sudah memanggil para pemain terbaik Indonesia yang bermain di  klub-klub peserta kompetisi ISL. Namun sampai batas waktu yang telah ditetapkan sejumlah 22 pemain tidak memenuhi panggilan membela timnas.

Akhirnya Komisi Disiplin PSSI mengambil sanksi tegas dengan memberikan hukuman larangan enam bulan bermain di kompetisi di bawah yurisdiksi PSSI dan membayar denda sebesar 100 juta rupiah.

“Mereka mengatakan sudah memanggil pemain, tetapi pemain tidak mau memperkuat timnas. Setelah saya pelajari pemain tidak pernah dipanggil secara langsung. Pemanggilan pemain hanya dilakukan melalui media massa dan diberikan sanksi melalui pemberitahuan di media massa,” katanya.(tribun)


Read More

Roy Suryo Akan Kirim Staf Khusus, Temui Presiden AFC

Menpora Roy Suryo - TRIBUNNEWS

Seputar Timnas - Konflik sepak bola di Indonesia yang tak kunjung usai memaksa Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo pusing.Rencananya, dia akan mengutus staf khususnya, Eko Indrajit untuk berdialog langsung dengan pimpinan organisasi sepak bola Asia (AFC), Zhang Jilong. Pertemuan itu akan difasilitasi oleh Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Rita Subowo.

Roy memastikan akan mengirim staf khususnya sebelum rapat AFC yang akan digelar tanggal 15-16 Februari mendatang."Jadi yang akan melakukan komite normalisasi adalah FIFA sendiri," kata Roy saat jumpa pers di kantor Kemenpora, Rabu.

Usai pertemuan tersebut, Roy memastikan baru akan mengambil langkah, bagaimana sikap pemerintah terhadap konflik PSSI ini.Sejauh ini, Roy juga memastikan belum akan memutuskan untuk membubarkan KPSI atau PSSI.

"Mungkin mengecewakan sebagian orang kenapa salah satunya tidak dibubarkan. Tetapi kami tidak mau lagi ditengah, hulu kami pegang, hilirnya juga kami pegang," ujar politikus Partai Demokrat itu.

Kepada Nirwan, Roy mengatakan akan memberikan waktu untuk menyelesaikan tunggakan gaji semua pemain di klubnya. Ia belum akan menghentikan pelaksanaan ISL kecuali kewajiban para pesepakbola tersebut tidak terlaksana.

"Saya tidak mungkin membubarkan sebuah tontonan yang menghibur masyarakat dan de facto sudah jalan, kemudian menyerahkan kepada kompetisi yang belum jalan," jelas Roy.

Sedangkan dengan Arifin, Roy mengaku menjalankan apa yang menjadi statuta FIFA bahwa pemerintah tidak bisa mengintervensi. Menurutnya, Roy tidak bermaksud tunduk begitu saja karena ia telah menargetkan PSSI pada pertandingan timnas nanti melawan Irak untuk kualifikasi Piala Asia tanggal 6 Februari mendatang.

"Saya juga tidak aka mengintervensi pemain-pemain yang sudah masuk di skuad. Namun hasilnya, ini yang penting, yang akan dinilai masyarakat. Kalau hasilnya baik, diakui masyarakat, kalau tidak baik, kita akan melakukan langkah selanjutnya," kata Roy.(tribun)


Read More

Aneh, Divisi Utama Sudah Dimulai, Tim Persis ISL Belum Terbentuk

Persis Solo - STC

Seputar Timnas - Kompetisi Divisi Utama yang dioperatori PT Liga Indonesia (Liga) sudah dimulai akhir pekan lalu. Namun, tim Persis versi Liga yang tergabung di Grup V sampai saat ini belum terbentuk. Sejumlah kalangan pun meragukan tim asal Kota Bengawan ini seputar ikut dan tidaknya di kompetisi kasta kedua tersebut.

Ahmad Sugiyanto, 40, warga Kota Solo mengaku kawatir terhadap persiapan tim berjuluk Laskar Sambernyawa itu. Dia mengaku cukup aneh dengan kondisi persepakbolaan kota kelahirannya, khususnya persiapan Persis yang berlaga di Divisi Utama PT Liga. "Bagi saya ini cukup aneh. Kompetisi sudah dimulai, tapi tim (Persis Liga) belum terbentuk," katanya, Rabu (30/1/2013).

Dia mengaku kawatir belum terbentuknya tim sampai saat ini akan membuat Persis Liga menjadi bulan-bulanan di Grup 5. "Dari pada memalukan Kota Solo lebih baik mundur dari keikutsertaan di Divisi Utama PT Liga," imbuhnya.

Kekawatiran Ahmad memang beralasan. Pasalnya di Grup 5 bercokol tim-tim kuat dari Jawa Timur seperti Persik Kediri, Madiun Putra dan Mojokerto Putra dan Persiwangi Banyuwangi. Di Grup ini juga masih ada PSIM Yogyakarta, PPSM Sakti dan Persipasi Bekasi. "Itu (mundur) seperti Persipasi lebih baik," ungkapnya.

Nama Persipasi memang berada di grup ini. Namun managamen Persipasi menegaskan tetap berkiprah di Divisi Utama yang dioperatori PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Sedangkan PPSM Sakti di Divisi Utama PT Liga merupakan 'sempalan' dari PPSM yang berlaga di Divisi Utama PT LPIS yang baru terbentuk 10 hari yang lalu. "Saya memprediksi selain Persis, PPSM Sakti juga akan akan menjadi bulan-bulan," kata Ahmad.

Kekawatiran Ahmad berlanjut dengan melihat kondisi Persis Liga yang hanya bermateri pemain amatir. Persis Liga kemungkinan besar hanya dihuni pemain yang saat ini dipersiapkan untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng 2013. Mereka masih muda usia, karena di ajang Porprov ada prasyarat peserta dibatasi tahun kelahiran 1993.

Materi pemain Persis Liga yang akan diisi pemain dari tim porprov terlihat saat Pelatih Persis Liga Agung Setyabudi memantau latihan tim porprov. Bahkan Agung terus terang mengaku sedang serius mempertimbangkan tim porprov masuk skuad Persis Liga. "Saya memang sedang memantau pemain di porprov untuk masuk tim Persis," kata Agung.

Langkah ini dilakukan mengingat pemain yang ikut seleksi di Persis yang kualitasnya diatas rata-rata memilih mundur. Sebut saja Ferry Anto, Imam Rochmawan (eks Persis LPIS musim lalu), Tri Handoko (eks PSS Sleman) dan lainnya memilih hengkang dari seleksi Persis Liga.(okezone)


Read More

Survei: Publik Ragukan Roy Suryo

Roy Suryo - INILAH
Seputar Timnas - Mayoritas publik menilai pengangkatan Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga tidak tepat. Publik tidak yakin Roy akan mampu membenahi berbagai persoalan di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Hal itu terungkap dalam survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipaparkan peneliti LSI Ardian Sopa di Kantor LSI, Jakarta, Selasa (29/1/2013).

Ardian menjelaskan, survei itu digelar pada 22-25 Januari 2013 dengan mengambil responden sebanyak 1.200 orang. Hasilnya, sebanyak 52,67 persen responden menilai penetapan Roy sebagai Menpora tidak tepat. Sebanyak 40,48 persen menilai sebaliknya.

Ardian menambahkan, sebanyak 41 persen responden menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Roy karena mewakili kepentingan Partai Demokrat. Hanya 32,45 persen responden yang menilai penunjukan Roy karena kompetensinya.

Ketika ditanya keyakinan terhadap kinerja Roy, sebanyak 50,65 persen responden mengaku tidak yakin jika Roy mampu membenahi Kemenpora. Hanya 37,58 persen mengaku yakin dan 11,76 persen menjawab tidak tahu.

"Publik berpendapat Roy Suryo adalah the right man in wrong place," kata Ardian.

Seperti diketahui, Roy Suryo akhirnya menjadi pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengisi kursi Menpora setelah Andi Mallarangeng mundur. Andi mundur dari jabatan Menpora setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).(kompas)



Read More

Menpora Belum Bisa Bubarkan KPSI, Kenapa?

Roy Suryo - NET

Seputar Timnas - Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, hingga saat ini belum melakukan langkah tegas untuk menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia. Padahal, sebelumnya ia menyatakan akan melakukan langkah tegas, termasuk dengan membubarkan KPSI yang selama ini disebut sebagai organisasi tidak resmi karena tidak diakui FIFA.

"Pemerintah tidak perlu membubarkan organisasi yang tercatat di FIFA, kan? Nanti kegiatannya yang akan kita tertibkan, bisa dengan memberikan rekomendasi-rekomendasi," ujar Menpora di Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Roy Suryo sendiri sebelumnya mengaku sudah bertemu dengan Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie sebagai langkah untuk menyelesaikan konflik PSSI dan KPSI. Mantan anggota Komisi I DPR RI itu pun mengaku sudah menyiapkan berbagai cara untuk melaksanakan hal tersebut.

Menurut Menpora, untuk menyelesaikan persoalan di KPSI, pemerintah akan mencoba untuk menertibkan penyelenggaraan kompetisi Indonesia Super League (ISL), salah satunya masalah tunggakan gaji pemain. Ia pun menyatakan telah memberikan waktu kepada pihak KPSI untuk menyelesaikan persoalan itu, yang akan dievaluasi pada 6 Februari mendatang.

"Saya obyektif mengatakan ISL berjalan cukup meriah sangat seru. Saya orang yang obyektif tidak mau menutup mata terhadap fakta yang ada di masyarakat dan meskipun Kemenpora untuk tidak merekomendasi pelaksanaan liga apa pun, namun ketika sudah diberlakukan komitmen maka saya menanyakan komitmen itu kepada Bapak Nirwan Bakrie," kata Menpora.

"Intinya saya ingin menyelamatkan sepak bolanya. Saya tidak lihat siapa kelompoknya atau organisasinya. Saya juga tidak takut siapa di balik itu semua karena yang kita ingin saya selamatkan adalah citra sepak bola Indonesia," tambahnya.

Saat ditanya bagaimana dengan PSSI, Roy mengatakan juga tidak akan gegabah karena tersangkut dengan statuta FIFA yang melarang adanya intervensi pemerintah. Namun, ia mengaku akan tetap memantau perkembangan terakhir hingga 6 Februari saat tim nasional Indonesia melakoni laga Pra-Piala Asia 2015 melawan Irak.

"Hasilnya itu (pertandingan melawan Irak) akan dinilai oleh masyarakat Indonesia. Kalau hasilnya baik maka mekanisme yang berlaku di PSSI itu akan diakui masyarakat. Kalau tidak, maka kita akan melakukan langkah selanjutnya," kata Menpora.(kompas)


Read More

Roy Suryo Tidak Takut Mafia Sepak Bola


Roy Suryo - NET
Seputar Timnas -  Menpora Roy Suryo terus berupaya keras menyelesaikan kisruh sepak bola nasional, dengan menemui Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie. Paska menemui mereka berdua Menpora memberikan mandat kepada PSSI untuk membentuk Timnas dan KPSI segera membayar gaji pemain.

Menurut Pakar Telematika ini bertemu Nirwan sangat penting, karena dia menjadi tempat konsultasi bagi La Nyala Matalitti yang secara de facto memegang KPSI dan sudah menggulirkan kompetisi yang selama ini berjalan dengan sangat seru bahkan sudah disiarkan dua televisi nasional.

 "Saya orang yang obyektif, saya tidak mau menutup mata dengan apa yang terjadi di masyarakat," ujarnya, seperti dalam rilisnya.

Dari hasil pertemuan dengan Nirwan Bakrie, Menpora mengambil beberapa kesimpulan, yakni pemerintah akan memberi waktu kepada ISL untuk segera menyelesaikan masalah tunggakan gaji pemain yang belum terselesaikan. Jika tidak bisa dipenuhi maka pemerintah sesuai undang-undang akan memiliki hak untuk menghentikan kompetisi tersebut. Dan itu akan ditunggu hasilnya pada tanggal 6-7 Febuari mendatang. 

"Saya memberikan waktu kepada pak Nirwan Bakrie untuk menyelesaikan tunggakan kepada semua pemain-pemain sepak bola dan klubnya agar tidak ada keresahan pada pelaku sepak bola nasional. Saya memang belum akan menghentikan pelaksanaan ISL kecuali kewajiban terhadap pemain tidak terlaksana," 

Dan saya mohon masukan jika kewajiban itu tidak dilaksanakan dengan baik, sesuai Undang-Undang SKN pasal 13 ayat 1, maka pemerintah berhak dan wajib untuk melakukan pembinaan, pengawasan, dalam arti kami dari sisi pemerintah secara legal bisa menghentikan suatu kegiatan yang tidak sesuai undang-undang atau menyalahi aturan. 

"Tapi kami masih menunggu laporan dari pemain, karena kami sementara ini sudah memiliki datanya klub dan pemain yang sudah memberikan hak nya kepada pemain. Intinya saya ingin menyelamatkan sepakbolanya, saya tidak melihat siapa organisasinya dan saya juga tidak takut siapa yang ada di balik itu. Sudah waktunya kita selamatkan sepak bola Indonesia," tegas Roy. 

Sedangkan hasil pertemuan dengan Arifin Panigoro, pemerintah tidak akan mengintervensi masalah verifikasi anggota kongres yang sesuai dengan MoU yang sudah disepakati oleh PSSI dan KPSI. Namun pemerintah lebih melihat jauh kepada Timnas Indonesia. 

Dalam masalah ini pemerintah akan mempercayakan kepada PSSI Djohar Arifin dalam membentuk pemain Timnas yang akan bertanding lawan Irak 6 Februari nanti. Jika hasilnya tidak baik, maka pemerintah akan mengambil langkah selanjutnya. Begitu juga dengan kompetisi IPL yang akan digelar PSSI yang janjinya Februari nanti.

"Kami tidak akan melakukan intervensi, tapi kami melihat bahwa ada kepentingan yang jauh lebih besar jika sepak bola Indonesia akan di benci. Tanggal 6 Februari Timnas akan bermain lawan Irak, saya percayakan penuh sekaligus saya target PSSI versi Djohar Arifin untuk melaksankan amanah rakyat ini sebaik-baiknya," pungkasnya.(sindo)


Read More

Djohar : Saya Ingin Mafia Sepakbola Hilang

Mafia Bola - Mata Najwa

Seputar Timnas - Ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin melakukan berbagai upaya untuk mengatasi mafia yang terjadi di sepakbola Indonesia. Namun upaya yang dilakukan tersebut tidak disukai oleh mafia sepakbola sehingga ada upaya untuk menjatuhkan kepengurusan PSSI.

“Kami mungkin tidak bisa membasmi tetapi mengecilkan dan menghindarkan ini. Operasi kami ini tidak disukai oleh yang mafia, makanya berapapun biaya dikeluarkan untuk menjatuhkan Djohar,” ujarnya dalam acara Mata Najwa episode Mafia Bola di salah satu stasiun televisi swasta, Rabu (30/1/2013).

Menurutnya, mafia yang terjadi di sepakbola Indonesia tidak menjadi rahasia umum. Pemain, wasit bahkan penonton pun tahu ada praktek-praktek ini. Mafia sepakbola coba dihapus melalui reformasi sepakbola yang menjadi salah satu agenda dalam kongres sepakbola nasional yang dilangsungkan di Malang, Jawa Timur pada Maret 2010.

“Ketika kami terpilih tekad kita adalah bagaimana sepakbola kembali ke sportifitas. Ini tekad kami membersihkan ini. Jelang kompetisi bergulir kami mengarahkan wasit supaya bisa memimpin pertandingan dengan jujur,” katanya.

Alhasil Djohar Arifin menjelaskan, reformasi sepakbola yang telah dilakukan membuat dunia sepakbola internasional mulai percaya kepada PSSI. Hal itu terbukti dari banyaknya minat dari klub-klub luar untuk datang ke Indonesia.

“Dunia mulai percaya kepada kita. Setelah 20 tahun akhirnya mereka berkunjung juga. Ke depan ke depan tidak boleh lagi ada mafia sepakbola karena ini yang membuat sepakbola Indonesia hancur lebur,” tuturnya.(tribunnews)


Read More

Paspor Stevie Bonsapia Ditahan, Menpora Peringati Persipura

Stevie Bonsapia - NET

Seputar Timnas - Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, mengimbau agar setiap klub sepak bola Indonesia tidak melarang pemain-pemainnya untuk membela tim nasional Indonesia. Hal itu diungkapkannya menanggapi sikap Persipura Jayapura yang menahan paspor salah satu gelandangnya, Stevie Bonsapia.

Stevie sendiri memutuskan bergabung bersama pemusatan latihan timnas di Medan yang dipersiapkan untuk mengikuti Pra-Piala Asia 2015. Namun, karena paspornya masih ditahan klub, pemain berusia 24 tahun itu pun batal ke Jordania untuk melakoni laga uji coba sebagai persiapan babak kualifikasi tersebut.

"Klub (Persipura) itu salah. Kalau paspor itu ditahan salah," ujar Menpora menanggapi masalah tersebut usai menggelar jumpa pers di Kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Persipura menjadi salah satu klub yang paling tegas melarang pemainnya membela skuad Garuda. Sejumlah pemain Persipura, seperti Patrich Wanggai, Ricardo Salampessy, Lukas Mandowen, Ferinando Pahabol, Ian Louis Kabes plus dua bersaudara, Ortizan dan Boas Solossa, telah dipanggil PSSI untuk pelatnas Pra-Piala Asia. Namun, hingga kini, tak satu pun dari nama-nama itu yang bergabung dengan timnas.

Roy mengatakan, masalah tersebut akan dijadikan masukan pemerintah yang kini tengah melakukan proses penyelesaian konflik PSSI dan KPSI. Selama ini, ia menyatakan hanya mendengar kabar pemanggilan itu dilakukan hanya melalui media karena para pemain mengaku belum pernah dikirimi surat oleh PSSI.

"Saya dengar pemain tidak dapat surat. Tetapi tidak tahu apakah mungkin karena ditahan klub. Ini semua akan menjadi masukan kita," kata Menpora.(kompas)



Read More

Berikut Cara Roy Suryo "Control+Alt+Delete" PSSI

Roy Suryo dan Istri - NET

Seputar Timnas - Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia. Menurutnya, jika terbukti Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) salah maka pemerintah akan mengatur ulang sepak bola nasional.

Pernyataan itu diungkapkan Roy usai melakukan pertemuan dengan Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie sebagai langkah pemerintah untuk menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia.

Telah menjadi rahasia umum bahwa pengusaha besar Indonesia tersebut merupakan sosok sentral di balik kisruh PSSI dan KPSI. Roy mengatakan, dari pengamatan pemerintah dan juga pertemuan empat mata dengan Arifin dan Nirwan, setiap pihak memiliki penjelasan masing-masing. Meski begitu, mantan anggota Komisi I DPR RI itu menyatakan akan terus mencari jalan untuk menyelesaikan konflik sepak bola Indonesia.

"Kalau ditimbang semua ada benarnya, semua juga ada salahnya. Tetapi kami tidak mungkin berat ke salah satu. Kalau dua-duanya salah, ya harus direset dua-duanya," kata Roy di Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Roy menjelaskan, untuk melakukan hal tersebut salah satu caranya adalah bertemu dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang diinstruksikan FIFA membantu proses penyelesaian sepak bola Tanah Air. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan tim untuk bertemu dengan AFC dan FIFA untuk melakukan tindakan.

"Jadi, yang akan melakukan atau akan membentuk, katakanlah, komite normalisasi itu adalah FIFA sendiri tetapi dengan diikuti oleh pemerintah Indonesia. Itu akan dilakukan sebelum 14-15 Februari mendatang," ungkap Roy.

"Ini langkah konkret, tepat, Insya Allah terukur. Mungkin mengecewakan beberapa orang yang mengingkan 'kok tidak segera dibubarkan', ya saya tidak mungkin membubarkan PSSI. Jelas karena merupakan intervensi. Tapi, saya juga belum bisa membubarkan KPSI kalau belum terbukti mereka melakukan tindakan yang salah termasuk mengenai persoalan gaji pemain," bebernya kemudian.

Roy menambahkan, pemerintah akan selalu melibatkan masyarakat untuk mengatasi persoalan yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini. Menurutnya, meskipun dari pertemuan dengan AFC dan FIFA tersebut, terbentuk Komite Normalisasi, maka pemerintah akan mengambil langkah yang jelas dalam konflik tersebut.

"Kalau tidak bisa dipilih salah satu dari tokoh ini, ya sudah dua-duanya tidak akan dipilih. Tetapi, atas restu dari FIFA atau AFC kita ambil tokoh yang lain agar persoalan itu menjadi clear dengan penentu atau penerus sepak bola Indonesia," tegas Menpora.(kompas)


Read More

Roy Suryo : Jika KPSI Tidak Selesaikan Pembayaran Gaji Pemain Maka Pemerintah Akan Bersikap Tegas

Roy Suryo - ANTARA

Seputar Timnas - Terkait karut marut sepak bola nasional. Menteri pemuda dan olahraga (Menpora) Roy Suryo menemui Arifin Panigoro dan Nirwan D Bakrie . Usai bertemu kedua tokoh sepak bola tersebut , Roy menilai baik PSSI maupun KPSI sama-sama memiliki kebenaran dan kesalahan.

Menpora menganggap Arifin berada di belakang kubu Djohar Arifin, sedangkan Nirwan di balik pihak La Nyalla Mattalitti. Roy bertemu Arifin, Senin (28/1), sementara Nirwan ditemui pada akhir pekan kemarin.

Roy menganggap pertemuan dengan kedua tokoh itu sangat penting untuk menuntaskan konflik sepakbola nasional yang terus berlarut-larut.

“Saya sowan ke Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro. Saya bertemu untuk menyerap persoalan dari dua kelompok yang sedang konflik untuk menyelesaikan persoalan. Saat bertemu mereka, saya memposisikan diri netral,” ujar Roy seperti dilansir goal

“Saya buka sekarang. Dari hasil pertemuan tersebut, dari kedua kelompok ini tidak ada yang 100 persen benar, serta tidak ada yang 100 persen salah. Keduanya, sama-sama benar, dan sama-sama salah.”

“Sekarang kita sedang fokus untuk menyelesaikan bagaimana kita memiliki timnas untuk bertanding melawan Irak pada 6 Februari. Jika gagal, mau tidak mau PSSI harus mendata pemainnya secara prosedural resmi sebagai bentuk verifikasi. Jadi nantinya saya yang akan melakukan persetujuan.”

“Untuk sementara, sesuai putusan PSSI yang sekarang. Saya memberikan target kepada PSSI, [karena] Pak Djohar membawa nama Indonesia. Kalau sukses alhamdulillah. Kalau tidak, yang harus menanggung malu seluruh Indonesia, karena kecarutmarutan yang tidak bisa diakomodir.”

“Sedangkan untuk KPSI, kalau tidak selesai dalam masalah pembayaran gaji pemain, pemerintah akan bersikap tegas.”

Roy menambahkan, ia terus melakukan komunikasi dengan FIFA, serta menugaskan staf khusus di Kemenpora untuk berdialog langsung dengan pimpinan AFC yang difasilitasi oleh mantan Ketua KONI/KOI Rita Subowo. Menurut Roy, AFC akan bertemu dengan pemerintah Indonesia pada 15-16 Februari mendatang.(sindo)


Read More

Bisa Apa Si Pakar Telematika?


Roy Suryo saat dilantik Presiden - NET
Seputar Timnas - Suatu siang di tengah derasnya hujan, saya terjebak di sebuah warung di kawasan Surabaya Selatan. Tujuan saya bukan masuk ke warung itu, tapi semata-mata karena berteduh. Menolak basah sekaligus menyadari kebodohan lupa membawa jas hujan di tengah musim seperti ini.

Secangkir kopi dan 'jajan pasar' di meja warung sudah cukup istimewa melawan hawa dingin. Tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang ngobrol ngalor-ngidul dengan pemilik warung. Seorang laki-laki gondrong duduk rileks di ujung bangku dan serius dengan handphone-nya.

Seorang lagi dengan pakaian lebih rapi tak henti memainkan rokok di jarinya. Sedangkan pemilik warung duduk di bangku satunya layaknya seorang pembeli. Dari sekian topik obrolan, saya baru benar-benar konsentrasi menyimak kala mereka membicarakan sepakbola.

Klop, obrolan ini nyantol dengan profesi saya sebagai reporter olahraga. Kurang tahu pasti mereka ini supporter atau sekadar penikmat sepakbola, yang jelas obrolan mereka sudah 'level atas'. Saya juga tidak terlalu tertarik terlibat dalam perbincangan mereka., karena sekadar ingin tahu bagaimana arah pemikiran kalangan awam soal kacaunya sepakbola negeri ini.

Saya tadi menyebut pembicaraan 'level atas'. Maksudnya mereka tidak bicara soal pemain atau klub, tapi situasi sepakbola di tatanan PSSI, KPSI hingga penunjukkan Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam hati saya, mereka orang-orang yang melek informasi. Mahasiswa mungkin.

Suatu saat perbincangan mereka tsampai pada kapasitas Roy Suryo sebagai Menpora yang harus menyelesaikan masalah konflik sepakbola Indonesia. Laki-laki gondrong yang duduk bersandar di ujung bangku sambil memainkan hanphone Samsung-nya, terlihat paling kritis walau terkesan cuek. Bicaranya seperti aktivis.

“Bisa apa tukang periksa video porno menangani sepakbola. Mimpi aja,” katanya ketus.  Rekannya yang berpenampilan rapi mencoba menanggapi dengan netral. “Ya nggak segitunya. Kalo berpikir negatif terus ya nggak pernah ada solusi. Coba kalau setiap orang dianggap tak pantas, trus siapa lagi?” tanyanya.

“Kita sudah mikir positif dari dulu, tapi hasilnya selalu negatif. Sudah berapa orang yang dianggap bisa memecahkan masalah, hingga FIFA segala. Buktinya? Nol besar. Roy Suryo saja tidak punya wibawa, gimana dia bisa mengatur orang-orang PSSI dan KPSI yang ngawur itu,” katanya berlogika.

“Ya bolehlah meragukan kapasitas orang. Tapi kalau selalu apriori kan nggak memecahkan masalah juga. Siapa tahu justru diragukan itu Roy Suryo punya kemauan menyelesaikan masalah. Dia juga sudah punya inisiatif mau bertemu Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro,” kata temennya sambil menghisap rokok kretek. Saya sempat menduga dia kader Partai Demokrat karena membela Roy Suryo.

“Ah, sebelum ketemu Panigoro ama Barkie, kenapa nggak ketemu Diego Michiels dulu. Biar bisa membedakan mana Diego Michiels dan Diego Mendieta,” sergah si laki-laki gondrong. Pembicaraan pun mampet. Rekannya yang rapi tadi hanya bisa tersenyum kecut. Kalah telak.  

“Aku iki yo gak ngerti ngono-ngono kuwi lho Mas. Politik bal-balan wis gak eruh blas. Pokoke eruhku yo ndelok bal-balan, melu sorak,” kata pemilik warung yang malas-malasan mendengar dua pelanggannya berdebat. Perdebatan ini mewakili benak sebagian khalayak bola Indonesia.

Saya sendiri terkejut dengan penunjukan KRMT Roy Suryo. Sama sekali tidak masuk dalam referensi sebelumnya. Saya tidak menyalahkan lelaki gondrong tadi yang meremehkan Menpora baru. Memang faktanya dia tidak pernah paham konflik sepakbola di Indonesia.

Saya sampai sekarang juga belum percaya kemampuan seorang Roy Suryo, yang saya tahu pandai memerika keaslian video atau foto kasus. Saya hanya sedikit punya harapan ketika dia berinisiatif mempertemukan Arifin Panigoro dengan Nirwan Bakrie. Jika berhasil mempertemuakn keduanya, minimal menjadi fenomena baru.

Selama ini publik hanya menyebut Panigoro dan Bakrie sebagai otak dibalik kisruhnya sepakbola nasional. Tetapi tidak ada seorang pun yang pernah menyentuh mereka. Khalayak lebih tertarik mengulas Johar Arifin Husin yang head to head dengan La Nyalla Matalitti.

Apakah langkah Roy Suryo ini manjur? I don't know. Saya juga tidak tahu pasti apakah solusi itu muncul dari otak Roy Suryo sendiri atau hasil bisikan-bisikan dari pihak lain. Seperti sebelum-sebelumnya, yang kita bisa hanya menunggu. Jika dia kembali tidak bisa mengurai benang kusut sepakbola Indonesia, berarti Presiden SBY salah menunjuknya. Sederhana kan?

Sepakbola Indonesia sudah kritis dan sudah tidak memiliki jiwa lagi, apalagi kebanggaan. Konflik di tatanan elit tak pernah usai, dualisme kompetisi, klub-klub melarat, hingga meninggalnya pelaku-pelaku sepakbola belakangan ini. Sepakbola Indonesia seperti sebuah film horor.

Oh ya, saya tidak lupa menyampaikan belasungkawa untuk kepergian Miroslav Janu. Pelatih yang pernah saya kenal saat menangani Arema FC. Pelatih keras, kaku, suka menghajar pemainnya dengan latihan fisik, tapi sekaligus selalu membuahkan hasil yang cukup bergengsi.

Miro adalah cermin pelatih Eropa Timur. Tidak kenal kompromi dan bicara sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Walau belum sempat mencicipi gelar di sepakbola Indonesia, Miro tetap seorang pelatih level atas. Selamat jalan Miro. Semoga sepakbola  Indonesia bisa profesional seperti yang kamu inginkan.(sindo)



Read More