Wednesday, December 5, 2012

Tragedi Diego Mendieta Menjadi Preseden Buruk Sepak Bola Indonesia

Mendiang Diego Mendieta saat menonton pertandingan bola di Stadion Manahan, Solo.KOMPAS.com/M WISMABRATA

Seputar Timnas - Baru Oktober lalu pemain asing asal Brasil, Bruno Zandonadi, meninggal dunia karena infeksi otak dan dalam kondisi ekonomi yang minim. Kini, publik kembali terpukul oleh meninggalnya Diego Mendieta. Legiun asing Persis Solo (ISL-KPSI) tersebut mengembuskan napas terakhir di usia 32 tahun karena CMV (cytomegalovirus) yang menyerangnya sejak November lalu. Penyerang asal Paraguay itu awalnya didiagnosis menderita sakit tifus.

Dua kasus itu jelas akan menjadi preseden buruk sepak bola Indonesia. Orang luar akan melihat sangat mengerikan menjadi pemain profesional di Indonesia. Ditambah lagi, sepak bola Indonesia sedang tak jelas arahnya karena para pengurusnya justru sibuk bertarung.

Ironisnya, Mendieta kesulitan memulihkan penyakitnya secara intensif. Bukan karena penyakitnya tak bisa dilawan, melainkan karena keuangan yang minim. Pengobatan Mendieta terputus-putus karena kurang biaya setelah gaji pemain kelahiran 13 Juni 1980 tersebut belum dibayar selama empat bulan dan uang muka kontraknya juga belum dibayarkan oleh pihak klub. Beberapa teman sempat membantu biaya pengobatannya. Pasoepati (kelompok suporter Solo) juga melakukan penggalangan dana untuk perawatan Diego dengan menggelar nonton bareng pertandingan tim nasional Indonesia di ajang Piala AFF 2012.

Nasib Mendieta nyaris serupa dengan apa yang dialami Bruno Zandonadi. Mantan pemain Persita Tangerang itu juga sempat kesulitan membiayai pengobatan radang otaknya. Akhirnya, Bruno meninggal pada 13 Oktober lalu. Kepergian Bruno dan Mendieta sudah cukup menggambarkan bahwa masih banyak klub yang dikelola serampangan. Beberapa klub sering memilih nekat berkompetisi meski tak memiliki dana yang cukup kuat. Tak pelak, pemain sering jadi korban karena klub kesulitan membayar gaji. 

Berdasarkan data yang dihimpun Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), setidaknya ada 13 klub baik di Indonesia Super League atau Indonesia Premiere League (IPL) tercatat menunggak gaji pemain pada musim lalu. Mereka di antaranya Deltras Sidoarjo, Sriwijaya FC, Persija Jakarta, PSM Makassar (IPL), Persema Malang, Pelita Jaya, Persibo Bojonegoro, PPSM, Bontang FC, Persiraja, Persela, Arema Malang, dan Persija Jakarta (ISL).

Kasus di Bontang FC sempat paling menonjol dan memilukan. Pemain Bontang FC harus rela makan nasi bungkus akibat dampak krisis finansial yang melanda klub asal Kalimantan Timur tersebut. Mereka juga sempat mogok bermain menuntut gaji yang belum dipenuhi oleh manajemen selama lebih dari setengah tahun.

Sudah jelas, dibutuhkan dana yang tidak sedikit bagi klub untuk mengarungi kompetisi. Bahkan, klub bisa mengeluarkan dana lebih dari Rp 20 miliar untuk satu kompetisi. Sedangkan pemasukan klub Indonesia belum memuaskan. Satu-satunya sumber dana di luar donasi patron atau pemerintah adalah tiket penonton. Itu pun, sering kali hasil penjualan tiket tak menutup dana yang dikeluarkan.

Langsung atau tidak, masalah ini ada hubungannya dengan konflik sepak bola Indonesia. Dua kubu yang bertikai, PSSI dan KPSI, seolah-olah bersaing membangun kompetisi sehingga ada dualisme kompetisi yang melahirkan banyak klub. Setiap klub juga saling berlomba mengontrak pemain asing, entah punya uang atau tidak, karena seolah sudah menjadi kewajiban demi gengsi kompetisi.

Parahnya, banyak klub yang terkesan asal ikut kompetisi tanpa berpikir bagaimana mengelola klub dan kompetisi yang diikuti. Sehingga, wajar jika banyak klub mengalami kesulitan keuangan yang pada akhirnya berimbas ke kesejahteraan pemain.

Lalu, akankah para "petarung" sepak bola Indonesia itu terus bertarung dan menganggap seolah-olah tak pernah ada kematian Bruno Zandonadi dan Diego Mendieta?

Konflik yang berlarut-larut ini sudah banyak memakan "korban". Semata-mata bukan persoalan gaji saja. Beberapa pertandingan masih diwarnai kekisruhan, termasuk tidak puasnya tim terhadap kualitas wasit atau bentrok antarsuporter yang kerap memakan korban nyawa.

Pada 13 Mei lalu, penonton dan suporter Persipura bentrok dengan pihak keamanan setelah tim kebanggaannya kalah 0-1 dari Persija Jakarta di Lapangan Mandala Jayapura. Pemain Persija pun sempat adu jotos dengan pemain Sriwijaya FC di hotel beberapa waktu lalu. Setelah itu, masih pada bulan Mei, tiga suporter tewas dalam pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung.

Belum lagi lima nyawa Bonek Mania—sebutan pendukung setia Persebaya—melayang karena terjatuh setelah kereta barang yang mereka tumpangi dilempari batu oleh warga saat masuk wilayah Babat, Lamongan, pada 9 Maret lalu.  

Rasanya, tidak cukup hanya menyampaikan rasa belasungkawa atas kematian Mendieta. Kasus Mendieta atau kasus lainnya sudah seharusnya menjadi pelajaran serius oleh berbagai pihak yang berseteru untuk fokus memperbaiki sepak bola yang sudah karut-marut.

Sudah jelas sepak bola Indonesia membutuhkan penanganan lebih profesional, rapi, kompak, dan menyeluruh. Tugas berat ini jelas tak bisa diatasi dengan cara berkonflik dan mempertahankan dualisme kompetisi maupun kepengurusan.

Maka, akan menjadi semakin aneh dan lucu jika masih ada yang ngotot bertikai dengan mengedepankan ego atau kepentingan kelompok. Ibarat perang merebut kemenangan, tetapi tak peduli tanah yang dipijak rusak dan porak-poranda. (Kompas.com)