Seputar Timnas - Sebelum posisi Timnas Indonesia terjun bebas di ranking FIFA, timnas kebanggaan kita ini pernah mengecap kejayaan di masa lalu. Hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai tim Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia edisi 1938. Saat itu timnas masih menggunakan nama Hindia Belanda dan langsung keok di tangan Hungaria dengan skor mencolok 6-0.

Saat ini, posisi Indonesia di ranking FIFA masih belum mengalami perubahan positif. Sebaliknya, setelah bulan lalu menempati peringkat 168 kini Indonesia harus rela turun ke posisi 170. Namun semangat tak boleh kendur, berikut kami rangkum perjalanan timnas sebagai guna memberikan dorongan untuk kembali berprestasi. Indonesia 


1. Piala Dunia FIFA 1938 (Hindia Belanda)

Sepak bola Indonesia mencatatkan prestasi terbaiknya dengan bermain di putaran final Piala Dunia justru saat di zaman penjajahan. Saat itu Indonesia masih memakai nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), menjadi negara Asia pertama yang lolos ke Piala Dunia.

Saat itu Indonesia tampil dengan mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Di dalam grup 12 sendiri hanya ada 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepang, karena saat itu sepak bola Asia belum maju seperti saat ini. Indonesia akhirnya lolos tanpa susah payah setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena konflik perang dengan Cina.


2. Laga Melawan Hungaria
Sejarah manis Indonesia di pentas Piala Dunia harus berakhir dengan pembantaian di tangan Hungaria. Pada tanggal 5 Juni 1938, bermain di Stadion Velodrome Municipale, Reims, sekitar 10 ribu penonton menyaksikan Indonesia dicukur Hungaria dengan skor telak 6-0.

Perbedaan postur tubuh pemain yang terlalu mencolok disebut sebagai penyebab utama kegagalan Indonesia. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, Walikota Reims mengatakan: "Saya seperti melihat atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci."

Kalah postur badan, Tim Hindia Belanda tak dapat berbuat banyak. Babak pertama Indonesia sudah ketinggalan 0-4, sebelum laga akhirnya ditutup dengan skor akhir 0-6. Saat itu Piala Dunia masih memakai sistem knock-out.

Meski kalah telak, pujian tetap datang menghampiri skuad Indonesia. Surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya dengan menulis: "Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah" sebagai judul headline pada edisi 7 Juni 1938.


3. Era 1950
Momentum lolos ke putaran final Piala Dunia benar-benar dimanfaatkan oleh Indonesia. Usai memproklamirkan kemerdekaannya di tahun 1945, sepak bola Indonesia mengalami kemajuan di Asia.

Tercatat Indonesia berhasil lolos ke Olimpiade Melbourne 1956. Yang lebih membanggakan lagi, Indonesia berhasil melaju ke perempat final sebelum disingkirkan oleh Uni Soviet. Pada laga leg pertama Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0, namun kalah telak 4-0 di leg kedua.

Usaha untuk meretas kembali jalan menuju putaran final Piala Dunia kiga terjadi di tahun 1950an, tepatnya di tahun 1958. Indonesia berhasil mengalahkan China di putaran pertama. Namun menolak untuk melawan Israel di putaran kedua karena alasan politis. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah ikut dalam kualifikasi piala dunia hingga tahun 1970.

Meski tidak berlaga di kualifikasi kualifikasi piala dunia, namun Indonesia masih bisa mengukir prestasi di turnamen regional. Indonesia berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1958 setelah pada perebutan tempat ketiga berhasil mengalahkan India 4-1.


4. Era 1960-1970an
Di era ini Indonesia terus menancapkan dominasinya di pentas Asia. Tercatat Indonesia berhasil menjuarai berbagai turnamen yaitu Turnamen Merdeka 1961, 1962, 1969, Piala Emas Agha Khan 1966, dan Piala Raja 1968. Indonesia juga berhasil meraih medali perak dalam Asian Games 1966.

Era ini juga menjadi saksi kelahiran pesepak bola Indonesia yang akhirnya terkenal di antero Asia antara lain Soetjipto Soentoro, Max Timisela, Jacob Sihasale, Kadir, Iswadi Idris, Andjiek Ali Nurdin, Yudo Hadianto. Diantara deretan nama pesepakbola yang dikenal di Asia, sosok Soetjipto Soentoro adalah yang paling fenomenal, kiprahnya berhasil membawa Indonesia menjadi raja sepak bola Asia.

Beberapa penggawa Timnas Indonesia kala itu juga ada yang dipanggil AFC untuk menjadi bagian dari skuad Asia All Stars pada tahun 1967-1968. Soetjipto Soentoro didaulat sebagai kapten berperan sebagai penyerang lubang, Jacob Sihasale sebagai striker, Iswadi Idris bermain di sayap kanan dan Kadir di sayap kiri. Keempat nama di atas adalah kuartet tercepat yang pernah dimiliki Indonesia di eranya.


5. Era 1970-1990an

Era ini bisa dibilang sebagai masa keemasan sepak bola yang diakui sebagai macan Asia. Di era ini Indonesia sempat mencuri perhatian dengan mengalahkan Uruguay dan berhasil menjuarai Piala Pesta Sukan 1972 di Singapura untuk terakhir kali.

Beberapa pemain angkatan Soetjipto Soentoro bersama dengan talenta baru saat itu seperti, seperti Ronny Paslah, Sutan Harhara, Ronny Pattinasarany, Risdianto, Andi Lala, Anjas Asmara, Waskito. Dengan skuad yang mumpuni saat itu, Indonesia berhasil mengalahkan Uruguay dengan skor 2-1.

Usai mengalahkan Uruguay prestasi sepak bola Indonesia berangsur mengalami penurunan. Indonesia terakhir kali merebut emas SEA Games pada tahun 1991 di Manila, Filipina. Sementara di pentas Asian Games, Indonesia berhasil menembus semifinal tetapi kalah dari Kuwait di perebutan tempat ketiga.

6. Era 2000an
Di sepanjang tahun 2000an, Timnas Indonesia terus berupaya untuk dapat bangkit. Namun upaya untuk bisa kembali menjadi macan Asia terbukti tidaklah mudah. Kisruh di jajaran elit sepak bola Indonesia malahan membuat posisi timnas terus merosot hingga terdampar di posisi 170 dalam ranking FIFA, posisi terendah dalam sejarah timnas.

Namun di era inilah Indonesia berhasil meraih kemenangan pertama di pentas Piala Asia, dengan mengalahkan Qatar 2-1 di Cina. Sementara kemenangan kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Prestasi Timnas juga tak kunjung membaik di kancah Asia Tenggara. Hingga saat ini Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger), meski konsisten dianggap sebagai tim unggulan. Prestasi tertinggi Indonesia hanya berhasil merebut posisi runner up pada tahun 2000, 2002, 2004 dan 2010. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara terbanyak peraih runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF.


Bola.net

Post a Comment Blogger

Isi Komentar diluar tanggung jawab kami

 
Top